Pertanyaan 

Pertanyaan yang paling sering menggerogoti otakku adalah tentang nasib manusia. 
Kenapa Tuhan ada orang yang gampang sekali begitu jalan hidupnya seakan-akan tanpa rintangan, tanpa kesulitan, lempeeeeng muluuuuus begitu hidupnya. When they want something, they don’t need to wait too long till it’s achieved. 

Trus kenapa juga ya Tuhan, ada juga orang yang susaaah sekali pas mau sesuatu, lamaa sekali harus dulu bekerja keras berusaha banting tulang, ditolak sana sini, dihantam sana sini baru ada titik terang. 
Kenapa begitu ya Tuhan? Rasanya susah sekali memahami hukum nasib sebab tidak ada rumus default yang orang lain bisa lakukan. 

Kenapa ya Tuhan?

RI

Advertisements

Mayday

Hello, there!

Now I want to write about my perspective about labor in Indonesia.

Jadi, seperti yang kita tahu, Mayday yang jatuh pada setiap tanggal 1 Mei, diperingati sebagai Hari Buruh Internasional. Which is, dimanfaatkan oleh seluruh buruh di Jabodetabek untuk melakukan aksi di Bunderan HI, Istana Negara dan titik-titik di wilayah lain. Ada ribuan buruh yang meliburkan diri dari pabrik tempat mereka bekerja hanya untuk berdemo. Yap, demo, aksi, panas-panasan, blokade jalan, membuat kemacetan, dan merugikan perusahaan tempat mereka mencari makan.

Hari ini, saya yang pos di Jakarta Utara, akhirnya ke Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung untuk pantau aksi buruh disana. Menurut info, buruh sering ricuh kalau aksi. Soal demo buruh sebenarnya saya sudah khatam saat pos di Bekasi kemarin. Jadi, sungguh liputan tadi tidak begitu terasa baru. Meskipun untuk Mayday, it was my first.

Bersama teman-teman wartawan lain, akhirnya saya tiba di satu perusahaan garmen milik Korea di KBN itu. Diantara kantor-kantor lain yang ada, hanya di depan kantor perusahaan inilah yang sedang ramai. Rupanya ada sweeping buruh.

Sweeping buruh adalah istilah yang dipakai untuk mengecek satu-satu pabrik perusahaan apa di dalam masih ada buruh yang gak ikut aksi. Tujuannya agar tak ada buruh yang tidak berpartisipasi. Intinya sih, “masa teman-teman buruh lain panas-panasan demo dan kalian tetap bekerja?”

Nah, di pabrik garmen Korea itu sudah ada berjaga beberapa personel kepolisian berseragam, hingga Kapolres pun turun tangan langsung menjaga. Pihak perusahaan masih menahan beberapa karyawannya sebab saat itu mereka ada rencana ekspor dan kalau pesanan batal, akan ada banyak pihak yang komplain.

Situasinya seperti itu. Di depan kantor perusahaan, sudah ada buruh dari serikat pekerja yang berteriak-teriak lantang menggunakan TOA. Mereka meminta agar 5 line atau sekitar 200 orang pekerja diijinkan libur Mayday. Pihak perusahaan mempersulit karena alasan tadi. Alasannya saya kira, logis banget.

Setelah mendapat keterangan dari berbagai sumber, menulis dan keramaian pun telah menghilang pelan-pelan, saya langsung balik ke Polres Utara.

Dalam perjalanan, saya membahas hal buruh ini pada Fio. Dan membahasnya lagi di pikiranku sendiri. Lalu membahasnya lagi pada Rahma, yang kebetulan berulangtahun di hari yang sama.

Jadi, menurut saya, buruh itu terlalu banyak komplainnya. Terlalu banyak maunya. Mereka itu menuntut pihak selain diri mereka.

Mereka mau upahnya gede, tapi saya mikir, pendidikan mereka kan rata-rata minimal SMA. Bukannya gimana, ada kok ya, lulusan S1 gajinya cuma bahkan cuma sejuta, sejuta setengah dan mereka sabar-sabar aja kerja. Memangnya kalau kita dapat kerjaan dengan gaji kecil itu salah siapa?

Maksud saya itu sederhana. Mereka itu tidak menyalahkan diri mereka sendiri atas nasib yang mereka alami sendiri. Kalau orangtua kamu buruh, it doesn’t mean kita juga harus jadi buruh. Seharusnya buruh-buruh itu mau kerja lebih keras, berdoa lebih keras untuk mengubah nasibnya.

Karena gak ada kok di dunia ini yang mudah. Gak ada yang baik diraih dengan mudah. Kita harus berjuang. Kalau kamu gak suka dengan hidupmu sekarang, ya, jangan salahkan dan protes ke pihak lain. Kalau kamu gak suka dengan upahmu sekarang, ya, cari kerjaan lain, jangan stuck deh dengan nasib. Tuhan ada kok.

Sekian.

Diantara adzan Jumatan dan deadline.

Sunshine

Luck

jalan pikiran nasib tak pernah diketahui. dia bekerja secara rahasia dan misterius. kita seringkali mempertanyakannya tanpa pernah tahu pasti jawabnya.

satu hal yang pasti, kita tidak boleh mendahului nasib.

layaknya prajurit di medan perang.
kita adalah prajurit dengan senjata dan perisai di tangan. musuh kita adalah hidup beserta rintangannya. ujungnya, adalah nasib. kita hanya tahu bahwa kita harus memenangkan pertempuran dengan segenap usaha dan kesabaran. hasilnya, kita serahkan sepenuhnya pada kemana nasib akan membawa kita.

hidup itu seperti itulah. berjuang. dan saat nasib seakan tak berpihak pada kita, kadangkala kita hanya perlu menertawakannya dan kembali berpijak. memegang dan meneguhkan senjata dan perisai lagi.