Libur Tlah Usai

Libur sebulan penuh akhirnya usai. Ini weekend terakhir sebelum senin besok mulai lagi ke sekolah, menjadi guru subject tiga mata pelajaran, mengajar puluhan siswa SD dan SMP. 

Minggu pertama libur saya menantikan Idul Fitri. Ramadhan masih ada beberapa hari. Minggu kedua, saya menghabiskan hari-hari bersama teman kampus dulu. Kami mengadakan reuni 10 tahun. Minggu yang berat, sebab di hari ke-2 Idul Fitri teman kami, Wulan, kembali ke Rahmatullah. Saya dan teman-teman bolak-balik Barru-Makassar untuk melayat dan mengunjungi orangtua Wulan. 
Minggu ketiga dan keempat, sudah masuk bulan Juli. Saya hanya di rumah. Leyeh-leyeh tanpa pressure apapun, goal apapun. Hanya di rumah, menjaga dan bermain dengan ponakan-ponakanku yang lucu. Menonton drama mulai dari Stranger Things, Big Little Lies dan 13 Reasons Why. 

Saya menanti Oktober, sebab di bulan itu saya akan punya libur lagi seminggu- kelar mid semester. Saya berencana main ke Jakarta, Bogor dan Bandung. So, ayo kerja dulu buat saving travel costnya. Katanya di September ada Garuda Travel Fair. 

Have a nice weekend everyone!

Ri

Exile

Hey ho,
Saya tidak tau memulai postingan ini. Terlalu banyak hal yang numplek tiba-tiba di kepala.
Well, sudah hampir sebulan saya memulai hidup yang baru sendirian di sini, di Priok. Hari-hari yang kulalui hanyalah bangun, kerja, pulang, tidur. Diselingi mencuci pakaian setiap minggu. Kedengarannya membosankan, ya? Tapi kurasa, jika pekerjaanku jenis kantoran, pasti saya akan mati kebosanan. Justru karena pekerjaan yang saya lakukan setiap hari penuh warna, jadi aktivitas keseharianku tidak begitu buruk.

Dua minggu yang lalu, saya bersama tiga teman kerja saya, jalan-jalan ke Sukabumi. Kami mengunjungi Ujung Genteng, sebuah pantai di ujung pulau Jawa yang terkenal karena keindahannya. Perjalanan dua hari dua malam ditempuh dengan sepeda motor, membuatku merasa seperti Che Guavara dalam film Motorcycle Diaries.

Lalu, pekan lalu, Ilham balik dari Singapore, membawa sepaket coklat buruannya selama disana. Ahya juga sedang di Jakarta. Maka, kami, Cals Jakarta membuat pertemuan di Plaza Festival, daerah Kuningan, Jakarta Selatan.

Di hari itu, saya piket liputan uber Jokowi ke Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. Saat liputan itu, kartu pers ku jatuh dan hilang. Sorenya, saat menemani Rahma liputan di GOR Sunter, Hippotalamus- powerbankku- pun raib. Rasanya saya sudah mau nangis di GOR. Maka, saya pun ke Plaza Festival dengan setengah hati.

Cuaca dan lalu lintas juga tak mendukung. Sepanjang perjalanan hujan rintik dan macet.

Ternyata, Ahya tak jadi muncul. Padahal saya sudah bela-belai datang demi ketemu dia. Maksudku, dia satu-satunya Cals dari Makassar yang ada di Jakarta dan tidak stay dalam waktu lama.

Suasana pun jadi agak membosankan, tak ada yang seru untuk didengarkan. Tak ada cerita baru. Setelah tragedi ‘bbm brengsek’, pertemuan pun selesai. Kami pulang ke rumah masing-masing.

Back then, everything’s back to normal again. Cuaca buruk ini masih berlangsung hingga Maret. Means, berita banjir dan longsor akan tetap jadi headline berita media nasional.

Sunshine

Kota Ini

Dear Mama,

Aku sedang dalam perjalanan pulang ke Jatiwaringin dari Grogol. Kau pasti belum tahu itu sejauh apa. Itu kira-kira sejauh Pantai Losari ke Pangkep, kurang lebih.

Ma, apa kau tahu tadi kantor menyuruhku kemana? Ke tempat penjagalan babi di Kapuk, Jakarta Barat. Merebaknya isu bakso yang makin meresahkan membuat kantor merasa perlu untuk melakukan pantauan kesana, jadi dikirimlah aku kesana, sebagai utusan yang paling dekat dari lokasi.

Kau tahu aku sekarang di utara. Ke lokasi yang tidak pernah aku lihat sebelumnya itu, memerlukan waktu dua setengah jam. Dengan bekal tanya sana sini dan ditipu ojek sana sini, akhirnya sampailah aku di tempat itu. Dan tahukah kau betapa aku harus menahan untuk tidak marah saat manajernya bilang aku harus membawa surat izin dulu agar bisa wawancara, Ma? Kejam betul orang disana.

Tempat pemotongan babi itu, bau limbahnya menyengat sekali, Ma. Aku melihat babi di kandangnya, dan langsung menjauh. Saat aku mau pulang, aku merogoh kantongku dan sadar uangku tinggal 7ribu. Untung saja, metro mini cuma 2 ribu. Sebelum uang benar-benar habis, aku sudah tersesat di Roxy dan mendapat atm. Ah, ongkos pulang aman.

Ma, yang kurasa berat dari pekerjaan ini sungguh bukan saat menulis. Aku rasanya tidak perlu pusing dan memeras otak untuk itu. Perjalanannya lah yang melelahkan. Tapi aku juga tidak keberatan, sebab aku suka jalan-jalan ketimbang duduk di kantor dari pagi sampai malam dan satu-satunya hiburan hanyalah Twitter. Bagian terberatnya juga adalah menyikapi narasumber yang tidak kooperatif dengan wartawan.

Ma, mestinya bangsa yang besar adalah bangsa yang juga menghargai jasa wartawannya.

Hehe, doakan aku selalu ya, Mama sayang.

Sunshine

Lelah Berbuah Senyum

Mama pernah bilang, pekerjaan yang bagus itu yang gajinya banyak dan kerjanya tidak terlalu berat. Well, kerjaanku sekarang kebalikannya.

Tapi saya rasa, pekerjaan yang baik itu adalah pekerjaan yang seperti tidak bekerja. Berat, tapi tidak terasa susah. Susah tapi bisa kita atasi dengan ringan. Pekerjaanku sekarang rasanya seperti itu. Entah kalau mungkin saya masih baru. Tapi so far so good.

Berlelah-lelah kejar kejadian dan narasumber di lapangan, berbuah senyum simpul lebar yang lama saat laporannya dimuat di cetak atau online. Sekarang, kalau mencari namaku di Google, tautannya sudah makin banyak. Semoga berkah dan manfaat ya, Rabb. Alhamdulillah. :))

Sunshine