Perkara Pelukan

Memeluk seseorang yang belum menjadi pasangan kita secara halal, butuh keberanian. Apalagi kalau mau dilakukan di tempat umum. 

Saya sering sekali menahan keinginan memeluk Akbar hanya karena perkara belum boleh, dan malu dilihat orang. 

Namun ada beberapa momen saya ingat memeluknya dengan segenap perasaan. 

Seperti misalnya saat mengantar dia pulang ke Ternate beberapa bulan yang lalu di tahun ini. Dia berangkat pagi-pagi. Kita naik gocar ke bandara. Saya membuatkannya bekal nasi goreng dan ikan pepes. Dia bilang mau makan dulu sebelum masuk check-in dan dia mau ditemani. Pas di bandara, kita ke Starbucks. Akbar makan dengan lahap. Enak sekali, kata dia sambil makan. Saya bahagia sekali padahal cuma liatin dia makan bekal yang saya bawakan. 

Di gerbang keberangkatan, saya akhirnya berhenti dan bilang, saya cuma bisa antar sampai disini. Trus dia pamit dan dia memelukku. Saya mencium pipi kanannya. Disitu kita tidak perlu khawatir terlihat banyak  orang sebab semua orang juga paham perpisahan dengan masing-masing orang yang diantarnya. Saya ingat saya memeluknya dan begitulah, rasanya nyaman sekali, kalian tahu kan, memeluk orang yang kalian sayangi. 

Lalu seperti juga malam itu, sehabis nonton Fantastic Beasts and Where to Find Them. Kita bertengkar. Dia punya janji temu yang dia batalkan karena saya bikin agenda lain tanpa bilang dia dulu. Saya marah, dia marah. Saya ngambek dan bilang mau pulang naik angkot saja. Dia mengejar. Saya tidak mau. Dia marah lagi dan bilang, “ya sudah kita gak usah ketemu lagi”. Saya akhirnya mengalah dan mengejar dia balik. Trus saya memeluk dia di tengah-tengah parkiran sambil bilang, “maaf”. Dia luluh dan akhirnya ajak balik bareng. Disitu saya benar-benar takut sekali dia bilang pisah hanya karena marah sebentar. Pas di jalan, kita akhirnya bisa ketawa-ketawa lagi dan lupa persoalan tadi. Saya ingat saya memeluknya, melingkarkan tanganku di lehernya sambil jinjitan karena gak sampe. 

Malam ini, Akbar ke rumah bawain kotak makanku setelah dia kelar jaga di klinik. Pas mau balik, saya peluk dia. Tapi rasanya canggung sekali karena dia gak mau dipeluk. Dia bilang, “ada Shandy, gak enak diliatin”. Jadi, saya cuma bisa ngambek. 

Perkara memeluk ini mungkin akan seperti ini terus, hanya akan terjadi di momen-momen yang “besar”. Kau tahu perempuan suka sekali dipeluk, apalagi di saat-saat mereka membutuhkannya. 

Lagipula, Akbar itu ya, bukan laki-laki yang suka nyosor. Saya yang biasanya gemes. Dia ini sayang gak sih? Tapi dia sayang kok, cuma dia gak suka sayang pake cium apa peluk gitu. Dia cuma kerja dan belajar. Dia bilang, “tungguin saya selesai, Ri. Saya mau bikin kamu bahagia jadi saya harus kerja keras. Saya mau kita sama-sama terus”, 

Akbar baru saja chat line, dia udah di asrama dan langsung mau istirahat. 
So sekian ceritanya, good night. 

Ri

Advertisements