Perempuan Peragu

Saya tidak mengingat banyak hal yang telah lalu. Kadang saya terkejut betapa banyaknya hal yang terjadi namun tidak terekam di kepalaku.

Namun, malam ini saya ingat satu momen malam itu. Saat bertelpon dengan Kak Aan dan entah kenapa di tengah-tengah pembicaraan saya bilang kalau saya ingin mengetes tombol mute. “Apakah kalau saya menekan tombol ini kamu tidak bisa mendengar suaraku?”

Dan ternyata tentu saja kita sudah tau jawabannya.

Kemudian Kak An bilang, “Ri, jelas-jelas disitu sudah tertulis ‘mute’ dan kau masih mau mencoba apakah itu benar-benar membuat suaramu tidak terdengar?”

Saya orang yang peragu. Ochank, sahabatku sejak SMP, mengatakan sifat itulah yang paling dia tidak suka dariku.

Saya tidak mudah percaya dengan apapun. Saya bahkan seringkali cenderung ingin membuktikan bahwa semua orang mengatakan kebohongan. Semua bohong sampai hal tersebut terbukti benar.

Kutau sifat ini sangat sulit untuk ditangani. Utamanya saat saya menjalin suatu hubungan dengan seseorang. Sebab menjalin hubungan adalah mempercayai, saling percaya. Saya harus menyerahkan perasaanku dan meyakini bahwa laki-laki ini takkan menyakitiku.

Tapi karena itu adalah sifat dasar, jadi saya merasa kesulitan.

Kenapa saya harus mempercayakan perasaanku pada seseorang? Bagaimana saya tahu mereka takkan menipuku? Apa yang bisa menjamin yang dia katakan adalah benar dan akan selamanya benar?

Ri

Advertisements

Panas Tubuh

Hari ini entah kenapa, saya tidak punya nafsu untuk makan apapun. Kalian tau rasanya? Itu seperti sesuatu membuatmu tidak merasa lapar, sesuatu membuatmu merasa bahwa kau tidak butuh makan. Haha penjelasan yang hebat, bukan?

Alhasil, bekal makan yang dibuatkan Mama, bersisa banyak sekali. Saya menyesal. Perutku tidak mampu menampung makanan. Bahkan mulutku tidak ingin mengunyah apapun lagi.

Di kamar, sambil tidak melakukan apapun, saya sadar saya berkeringat banyak sekali. Tiba-tiba saya ingin saja menulis. Saya bisa menyalakan kipas untuk menyejukkan tubuhku yang panas, tapi saya enggan. Seperti enggannya saya makan.

Belakangan ini, saya mulai pasif di sosial media. Saya sering berpikir untuk menutup semuanya, atau tak mengapdet lagi apapun tentang hidupku. Saya juga sudah sangat kurang bercerita apapun ke teman siapapun. Saya cenderung lebih memilih sendiri. Sedih sendiri. Kadang saya hanya membaginya dengan Tuhan saat bertemu. Terapi yang baik, kau tahu? Berbicara tanpa henti tentang semuanya, menangis dan tertawa, dan tak ada yang membalas dan menjawab apapun. Tapi Tuhan Maha Mendengar. Saya yakin. Dia tau semuanya. Kucurahkan semua pada-Nya.

Perkara dengan sosial media dan teman kadangkala membuatku merasa muak. Tak ada yang begitu penting menurutku untuk dibagikan dengan orang-orang yang bahkan tak pernah menanyakan kabarmu. Membunyikan teleponmu. Hanya karena semuanya terlihat dan terpapar jelas di Instagram, Facebook, dan yang lain, tak ada lagi yang penasaran dengan jawaban "are you feeling okay?" "how are you?".

Yang penting hanyalah, seberapa banyak kau bisa mengepos tentang hidupmu yang bahagia. Membuat orang lain merasa ingin bernasib sama bahagianya denganmu. Berkunjung ke tempat yang seindah itu, memiliki kekasih yang sesempurna itu, memiliki pakaian dan sepatu yang bermerk seperti itu.

Saya, hanya tetap menulis, mengepos blog yang saya tau tak ada yang membacanya. Menulis panjang, pendek, apapun yang kusuka.

Tahun ini, beberapa hari menjelang umurku ke-29, saya hanya ingin menikah dengan orang yang saya cinta. Dan saya tau, tak ada yang mampu membantuku kecuali nasib baik dan izin dari Tuhan.

Ri

Attraction

Maybe some of you still wonder, why do I like K? What attracts me most about him? Well, you know, that question also always comes up in my mind. 
FYI, he is not attractive, at all. Well, physically. He has black skin: typical East people, he is plumpy with big stomach, he is taller than me, his body is covered by hair. 

But he has this smile that could melt my heart, he has this kind of staring that could paralyze my eyes. He has a very big heart that he can use to love me and accept all my flaws. 
He came into my house couple hours ago and brought me a bouquet of pink roses! I super loveeed it, I couldn’t stop smiling!
He surprised me a looot. 
And those are his most charming-attraction that attracts most. 

And I haven’t told you about his brain. 
RI 

Probability

Do you know the probability of me like someone? It’s 1: 30.000

When he asked “who wants to be with me after knowing my uncanny past?” 

I was about to telling him, “I do”

But you know, it’s just in my imagination: me telling him.

so I answered: “your girlfriend of course!” 

And he looked away.
RI 

Today

Today, I have this uncanny feeling that would be explode in a minute. These are the reasons:

1. Mr. W, until this minute, hasn’t replied my text yet. You know the feeling when you expect the urgent and important replied but you don’t get one?

2. My Movers 2 class was messy. I was so disappointed and sad and mad but they’re just kids. But I can’t tolerate their attitude any longer.

3. I had my PMS

I’m going to go home now with Mr. Amin. So, later!

RI

Teethache Attack

Last night I had teethache. It attacked me really hurt I want to die. 😥

My father suggested me to gargle some water with salt in it. Which I did. But the ache still there.

My mother asked me to put on Albotil. I’ve tried. But the ache still there.

And I kept produce saliva which made me sick because I spit so many times. I thought that was the longest night ever in my life, tried to survive with the ache.

Finally I took Mefinal- the killer pain. After an hour, I finally fell asleep.

The ache has gone. It’s like someone or something push the button ‘STOP the ache’ easily.

Today I plan to check my teeth to the dentist. Maybe after working hour. At night.

Or I have to lock myself in my room alone again with the same ache and crying.

Sunshine

Giabaha

Giabaha is bahagia is happiness.

Perempuan itu tak bisa tidur. Terus menerus memandangi handphonenya, berharap benda itu berdering. Harapan kosong. Jalanan sepi bagai mati. Malam sudah semakin larut. Perempuan itu tak bisa tidur kemudian beranjak duduk menghadap jendela, melihat kondisi jalanan gelap dari kamarnya.

Dia mendekatkan dan menempelkan dahinya di kaca jendela. Seakan-akan dengan melakukan hal itu rumah tetangganya bisa semakin dekat. Dia berpikir, semuanya begitu konstan. Tak ada yang bergerak. Rumah-rumah, pagar, tanaman, pohon, mobil, tak ada benda yang bergerak. Semua konstan. Tapi benarkah tak ada yang bergerak atau berubah?

Perempuan itu lalu berpikir lagi. Tentu saja ada. Semua tentu berubah karena waktu berjalan terus menerus. Ada yang berubah meskipun kelihatannya sesuatu tak bergerak. Apa itu? Tentu saja, waktu dan umur.

Kau bisa saja tak bergerak, tapi umurmu bakalan semakin tua dan berubah. Pohon bisa saja tak bergerak, tapi sel-sel klorofil dan kambiumnya mengalami regenarasi atau semacamnya karena waktu.

Waktu itu tajam, dan mengerikan. Tapi banyak yang tak sadar akan hal itu.

Makanya Allah berfirman dalam Surah Al Asr, Demi Waktu.
Kenapa Demi Waktu? Apa yang sangat spesial dan powerful dari waktu?

Waktu itu penyembuh yang baik.

Dan malam pun semakin turun, perempuan itu tersadar. Dia menjauhkan kepalanya dari kaca jendela kamarnya dan menemukan handphonenya tak juga berdering. Salahkah jika aku yang menderingkan teleponnya di ujung sana?

Perempuan itu memberanikan diri. Menekan angka-angka lalu mendengarkan nada panggil. Tak lama, suara lelaki yang paling dirindukannya selama ini, berwujud. Perempuan itu luarbiasa bahagia.
”Halo, apa kau sudah tidur?”, ujar perempuan itu.
”Ah, belum. Ada apa?”

Sunshine