Attraction

Maybe some of you still wonder, why do I like K? What attracts me most about him? Well, you know, that question also always comes up in my mind. 
FYI, he is not attractive, at all. Well, physically. He has black skin: typical East people, he is plumpy with big stomach, he is taller than me, his body is covered by hair. 

But he has this smile that could melt my heart, he has this kind of staring that could paralyze my eyes. He has a very big heart that he can use to love me and accept all my flaws. 
He came into my house couple hours ago and brought me a bouquet of pink roses! I super loveeed it, I couldn’t stop smiling!
He surprised me a looot. 
And those are his most charming-attraction that attracts most. 

And I haven’t told you about his brain. 
RI 

Advertisements

Probability

Do you know the probability of me like someone? It’s 1: 30.000

When he asked “who wants to be with me after knowing my uncanny past?” 

I was about to telling him, “I do”

But you know, it’s just in my imagination: me telling him.

so I answered: “your girlfriend of course!” 

And he looked away.
RI 

Today

Today, I have this uncanny feeling that would be explode in a minute. These are the reasons:

1. Mr. W, until this minute, hasn’t replied my text yet. You know the feeling when you expect the urgent and important replied but you don’t get one?

2. My Movers 2 class was messy. I was so disappointed and sad and mad but they’re just kids. But I can’t tolerate their attitude any longer.

3. I had my PMS

I’m going to go home now with Mr. Amin. So, later!

RI

Teethache Attack

Last night I had teethache. It attacked me really hurt I want to die. 😥

My father suggested me to gargle some water with salt in it. Which I did. But the ache still there.

My mother asked me to put on Albotil. I’ve tried. But the ache still there.

And I kept produce saliva which made me sick because I spit so many times. I thought that was the longest night ever in my life, tried to survive with the ache.

Finally I took Mefinal- the killer pain. After an hour, I finally fell asleep.

The ache has gone. It’s like someone or something push the button ‘STOP the ache’ easily.

Today I plan to check my teeth to the dentist. Maybe after working hour. At night.

Or I have to lock myself in my room alone again with the same ache and crying.

Sunshine

Giabaha

Giabaha is bahagia is happiness.

Perempuan itu tak bisa tidur. Terus menerus memandangi handphonenya, berharap benda itu berdering. Harapan kosong. Jalanan sepi bagai mati. Malam sudah semakin larut. Perempuan itu tak bisa tidur kemudian beranjak duduk menghadap jendela, melihat kondisi jalanan gelap dari kamarnya.

Dia mendekatkan dan menempelkan dahinya di kaca jendela. Seakan-akan dengan melakukan hal itu rumah tetangganya bisa semakin dekat. Dia berpikir, semuanya begitu konstan. Tak ada yang bergerak. Rumah-rumah, pagar, tanaman, pohon, mobil, tak ada benda yang bergerak. Semua konstan. Tapi benarkah tak ada yang bergerak atau berubah?

Perempuan itu lalu berpikir lagi. Tentu saja ada. Semua tentu berubah karena waktu berjalan terus menerus. Ada yang berubah meskipun kelihatannya sesuatu tak bergerak. Apa itu? Tentu saja, waktu dan umur.

Kau bisa saja tak bergerak, tapi umurmu bakalan semakin tua dan berubah. Pohon bisa saja tak bergerak, tapi sel-sel klorofil dan kambiumnya mengalami regenarasi atau semacamnya karena waktu.

Waktu itu tajam, dan mengerikan. Tapi banyak yang tak sadar akan hal itu.

Makanya Allah berfirman dalam Surah Al Asr, Demi Waktu.
Kenapa Demi Waktu? Apa yang sangat spesial dan powerful dari waktu?

Waktu itu penyembuh yang baik.

Dan malam pun semakin turun, perempuan itu tersadar. Dia menjauhkan kepalanya dari kaca jendela kamarnya dan menemukan handphonenya tak juga berdering. Salahkah jika aku yang menderingkan teleponnya di ujung sana?

Perempuan itu memberanikan diri. Menekan angka-angka lalu mendengarkan nada panggil. Tak lama, suara lelaki yang paling dirindukannya selama ini, berwujud. Perempuan itu luarbiasa bahagia.
”Halo, apa kau sudah tidur?”, ujar perempuan itu.
”Ah, belum. Ada apa?”

Sunshine

Jujur

Dear myself,

Why don’t you want to be honest with yourself? Admit it, you’re still loved him. You want him. You don’t want anyone else beside you but him. Why is so difficult to tell the truth? Why do you always lying to yourself? Don’t you feel tired and despair?

Why do you always hiding something? Pretending. Don’t you know that you won’t get any luck by hurting someone else’s feeling? You’d cursed for sure!

Sunshine

Asking

Hari ini nyaris tidak ngapa-ngapain.

Well, am kinda frustrating lately. Alasan pertama, obrolan teleponku terakhir dengan Mama berujung ngambek. Entah kenapa, walaupun telah hidup berjauhan seperti ini saya masih saja merasa cemburu dengan kasih sayangnya yang selalu lebih pada Warni. Saya kecewa karena saya jauh dan merasa harus lebih diperhatikan, tapi beliau malah sering sekali mengutamakan kakakku. Bapak sudah mengirimiku sms, Mama juga sudah minta saya meneleponnya lagi. Tapi saya, dengan segala egoku yang belum juga mencair, belum siap mendengarkan.

Kedua, ah, ritme kerja di desk baru yang membuat saya masih bingung dan kelelahan. Kupikir karena mingguan jadi bisa lebih santai, tapi well, sama saja. Jadwal majelis taklim dan agenda keIslaman lainnya bisa bertabrakan dan jaraknya yang jauh membuat saya terpaksa harus berganti-ganti Kopaja, angkot, metromini untuk mencapai venue.

Ketiga, saya benci sendiri. Padahal saya sudah janji untuk tak akan membenci apapun. Sendiri di kosan tanpa teman ngobrol, dan dalam kondisi kepala pusing begini, membuat saya berpikir aneh-aneh. Kupikir saya sudah terbiasa sendiri dan menikmatinya, tapi sendiri itu berat. Perasaan yang amat sangat tidak enak. Saya perlu ngobrol, bercerita, melihat seseorang. Dan bukan narasumber ataupun orang yang kutemui di tempat liputan. I need partner.

Dan demi apa, setiap mendambakan seorang partner saya cuma membayangkan satu orang yang entah sekarang sedang melakukan apa dan belum tentu juga dia mengingat dan merasakan hal yang sama denganku?

Sunshine
in a really bad unwillingly do things.