Stages of Breaking Up

We broke up on Thursday night. I called him when he was busy with Bangladesh people discussing things about I don’t know. He complained about it. He said like, “I was talking with people and I had to pick up my phone because you keep calling me”

I was offended. That day was the sixth day he didn’t call. When I asked was everything okay, he said no. So I called. I wondered what was wrong.

So his parents had this plan to arrange his marriage with someone else. He said that his parents want him to be with a girl who is also a doctor. Since I am not one, his parents asked him not to be with me anymore.
And he couldn’t say no. He didn’t even want to fight for me, or find a way so we can be together. He didn’t even say he loved me. That night, he just said, “I don’t know what to say”.

I said I couldn’t break up. I couldn’t imagine my life without him. I loved him, I wanted to be with him. But he didn’t even say a word. In that moment I knew, we were going to split.

I finally said, “Let’s break up” and he agreed.

================================================================================================================

I’ve deleted all pictures of us. I wanted to erase all memories about me and him. I blocked him on LINE, I unfollowed him on Instagram, I deleted his contact number. Just like in the movie “Eternal Sunshine of the Spotless Mind”. I threw away all his belonging in my bedroom (which is thankfully, not many).

And then I called my friends. I told them about what I was going through. They supported me. They listened. They even cursed him as he acted as a total jerk. They said I deserve someone who is better. Someone who is kind and good and not selfish, someone who will love me with everything he has. I feel so much better after talking. I pray to God, hoping that this was the best step I could take.

Now, I am sitting here writing this on my blog because this is one of the place who witnessed my love life with Akbar. Since the first time we’ve been together. How I fell in love, how he once loved me and treated me nicely. I want to keep him here. So later in the near future, when I am eventually with somebody else, I could read this again and reminisce everything, and finally can laugh loud. Just like what I feel every time I read postings about Ilham.

There are 5 stages we have to deal with after breaking up, some psychologists say: they are denial, anger, bargaining, depression and acceptance. Now I’m having the first one. I still couldn’t believe now I can’t contact or talk or chat him anymore. I just can’t believe that someone I cared so much with all my heart in the past 2 years, had left me. It damages my heart. There’s a big hole in my chest but it’s not real. I can’t take any pills to recover. I can’t do anything but move on.

But I know I’ll heal. Time will heal any pain. I am sure there must be someone out there who will find me and love me with all his heart.

Enough of this. I will continue to live.

Ri

Advertisements

Moon’s Tale

Kisah Moon

Tadi malam saat bertelponan dengan K, dia cerita tentang Kisah Moon. Moon itu boneka yang dia kasih ke aku. Boneka karakter LINE, tau kan?

K kasih Moon ke aku pas dia jemput aku dari kantor. Gak seperti biasanya, malam itu dia bawa tas ransel gede banget dan pas aku tanya mau kemana, dia gak jawab jelas. Akhirnya karena aku nanya-nanya dia terus, dia akhirnya nyerah dan bilang sebenarnya dia mau ngasih aku sesuatu. Dan karna aku gak bisa penasaran lama-lama, akhirnya di Arumdalu, tempat makan langganan kita, dia kasih keluar bonekanya.

“Boneka??”
“Iya”,

Tadi malam K cerita, boneka putih itu sudah lama dia simpan di kamarnya di asrama. Boneka itu sebenarnya hadiah beli handphone windows punya Abahnya. Pas K sarankan bonekanya dikasih ke Dita, adiknya, Abahnya malah bilang gak usah.

“Gak usah kasih ke Dita. Kamu simpan aja nanti dikasih ke pacar kamu”,

Waktu itu K belum punya siapa-siapa buat dikasihin boneka. Jadi dia mutusin untuk tetap simpan boneka itu dan menunggu seseorang yang akan jadi pemilik Moon berikutnya.

Which is finally, he handed it to me.

“Moon itu sudah lama kusimpan. Kupikir nanti mau kukasih ke perempuan yang tepat”,

Which is unpredictably, ME.

Itu cuma boneka sih, iya. Tapi hahaha, rasanya karena disimpan dalam kotaknya lengkap, dan dijagain, dan akhirnya dikasih ke aku, jadinya malah more than just a doll.

RI

Jarak Dengan-Mu

Ada saat dimana menghubungimu adalah suatu kewajiban. Saat itu, aku akan melakukannya dengan penuh keengganan. Aku benci jarak, bahkan jika itu hanya berbeda seinci.

Tapi Tuhan, belakangan aku sadar. Satu-satunya jarak yang harus kumusnahkan adalah jarak kita berdua. Aku bisa saja melakukannya agar kita menjadi sedekat urat nadi. Agar apapun keinginan yang kubisikkan mampu kau dekap, bisa kau peluk.

Tapi jika aku melakukannya agar aku bahagia, bukankah kedengarannya begitu egois?

Apakah berspasi dan berjarak denganmu itu perlu? Apakah rindu baru akan tercipta saat ada jarak?

Aku ingin melakukannya tanpa merasa HARUS melakukannya. Aku ingin menghubungimu, bercakap denganmu karena aku MEMANG merasa bahagia saat melakukannya. Aku ingin merindukanmu seperti saat aku merindukan dekapan seseorang yang begitu kucinta.

RI

Falling

I am falling in love with you.

Since the first time I saw you.
in the corridor
that day
you didn’t notice
But I did

thought came instantly,
who is he?
what’s his name?
I promise I will find out

and then seems like universe blessing us
to knew each other
to see
to discuss about everything
you laughed big
I laughed bigger
phone conversation in the middle of the night

but now you are there
I am in here
I just want you to know that I like you
I want to memorize my feeling here
just like home

Sunshine

Today- Hari Ini

Saya baru ngeh ternyata saya belum pernah posting soal keseharianku di blog. Walaupun memang tidak penting. Saya selalu menulis apa yang ingin saya tulis. Saya tak punya beban untuk mengutarakan apa yang ingin saya rasakan, disini.

Jadi apa kabarmu, Sunshine, hari ini?

Pagi ini tidak biasanya, saya terbangun dan menatap ke arah jendela yang masih gelap. Itu berarti, belum pukul 6. Saat mengecek jam, ternyata baru pukul 5 pagi dan saya sudah sadar. Bukan lagi bangun yang masih di awang-awang. Saya lantas bangkit, berwudhu dan solat.

Setelah itu, saya menyalakan netbook. Lalu memelototi timeline Associated Press. Berharap diantara sekian puluh twitnya ada yang menarik perhatianku untuk dibuatkan berita pagi. Yap. Berita soal Oscar De La Hoya yang masuk rehabilitasi dan mantan asisten pribadi Lady Gaga yang menuntut penyanyi 27 tahun itu, menjadi pilihan beritaku.

Kemudian redaktur Dialog menelepon, bertanya beberapa hal soal kerjaan, which is tak mau saya bahas disini.

Ummm, lalu…

Oh ya. Sepreiku basah karena saya menumpahkan segelas sereal yang kubuat untuk sarapan. It was accident. Karena itu, semut dan pasukannya datang menyerbu. Saya kemudian melakukan aksi penyelamatan pada baju-bajuku yang baru saya ambil dari jemuran dan teronggok saja disudut menunggu dilipat.

Setelah bersih-bersih, mencuci dan menjemur sprei, saya lalu bekerja. Bekerja means yaaa, menyelesaikan tulisan. Saya bekerja hingga jam segini. Saat menulis ini, kerjaan baru selesai dan saya baru bisa meluruskan kaki dan badan.

That was my day.
Memang postingan ini agak tidak penting. Saya menulisnya cuma karena gak ada sesuatu yang ingin saya lakukan selain ini. That’ a reason, right?
Semoga jodoh bisa segera bertemu ya Allah. Hehehe.

Sunshine

Clean By Yourself

Apa saya menyalahi kebudayaan?

Di Amerika, resto siap sajinya seperti McDonald atau Burger King hingga Taco Bell tidak mempunyai pelayan yang akan membereskan sisa makananmu begitu kalian meninggalkan meja. Costumers harus membersihkan sendiri meja yang mereka gunakan. Baki yang berisi kertas makanan bekas burger dan friench fries harus dibuang sendiri di tempat sampah yang sudah disediakan. Semua warga Amerika tahu aturan ini dan mereka menjalankannya. Jadi, pengunjung berganti-gantian memakai meja, tanpa harus menunggu pelayan membersihkannya dulu.

Karena saat itu saya berada di Tucson, negara bagian Amerika di Arizona, saya ikut melakukan hal ini. Sehabis makan, saya berdiri membuang sampah dan meletakkan baki di tempatnya. Meja saya kemudian langsung ditempati orang lain.

Begitu pulang ke Indonesia, budaya ini tak lagi saya dapatkan. Padahal kebiasaan ini bagus sekali, bukan?

Kemarin, saya makan di Wendy’s Fx Sudirman. Saat selesai makan, saya kembali melakukan kebiasaan budaya Amerika itu; merapikan meja sendiri, membuang bekas makan di tempat sampah dan meletakkan kembali bakinya. Pelayan Wendy’s keheranan. Saya heran melihat dia keheranan. Pelayan itu kemudian tersenyum dan bilang ‘terimakasih, Mbak’.

Saya masih menatapnya dengan heran.

Bagaimanapun, Indonesia belum bisa menerima budaya itu. Budaya clean by yourself di resto siap saji manapun. Masyarakat Indonesia terbiasa makan dan dilayani. Di Amerika kelakuan ini hanya berlaku jika kalian makan di restoran mewah dan harus menyediakan tip untuk pelayan yang melayanimu. Di Indonesia, tidak begitu. Apakah saya menyalahi budaya? Berusaha membawa budaya Amerika ke Indonesia? Dan reward yang saya dapat adalah rasa heran dan ucapan terimakasih. Di Amerika tak ada balasan ucapan terimakasih. Karena hal itu sama saja dengan kalian membuang sampah di tempatnya. It’s normal.

Sunshine

Pilihan

Saya pernah berpikir untuk bekerja di majalah fashion. Pertama, saya perempuan. Kedua, kupikir ritme kerja majalah cukup ringan. Ketiga, saya kuliah dan punya kemampuan di jurnalistik. Keempat, saya suka berpakaian cantik.

Tapi kemudian, well, Tuhan merestui di media harian nasional di Jakarta. Saya pun mulai menjalaninya. Dan dugaanku semula tepat, kerja di media multiplatform layaknya tempatku bekerja sekarang itu, butuh kekuatan layaknya seorang super woman. :))

Saya, sering sekali, kelelahan.

Kemudian, saya berpikir lagi, pengalaman yang akan saya dapatkan saat bekerja di majalah fashion dan di media harian yang beritanya hardnews, pasti berbeda.

Di majalah fashion, saya akan mengurusi tren fashion, gosip artis, beberapa tulisan features yang menginspirasi (yang itu-itu saja), events (yang pasti tentu keren) dan lingkungan pergaulannya mungkin berputar pada para sosialita fashion.

Saya tak akan mengurusi soal agenda walikota, masalah sampah yang menumpuk, waspada banjir, tingkat gizi buruk balita, penggunaan KB, para buruh yang menuntut kenaikan upah, korupsi pejabat pemerintah, dsb, dsb.

Intinya, bekerja di majalah fashion, saya hanya akan berguna bagi beberapa komunitas saja, bukan murni pada masyarakat. Hanya menyentuh beberapa kalangan, tidak membantu kesulitan masyarakat luas. Mungkin memang melakukan perubahan besar itu sulit, tapi mungkin saja bisa dilakukan dengan langkah yang kecil. Menulis berita contohnya.

Lagipula untuk apa hidup selain bermanfaat buat khalayak umum? Buat apa hidup dan tidak berbagi?

Sunshine