Saat Aku Sakit

Saat aku sakit, aku terkurung dalam kamar yang penuh dengan teman-temanku. 

Sebab tiba-tiba guling menjadi sahabat yang mudah sekali kupeluk lalu kutinggalkan.

Buku-buku menjadi teman yang tak tergantikan, menghiburku dengan ceritanya yang sungguh menarik hati.

Jendela kamarku setiap pagi menawarkanku musik dari ceria kicau burung asmara

Karena orang-orang asli tak ada yang datang menawarkan percakapan yang begitu kudamba

Mereka hanya membawakan makanan lalu keluar

Dan aku hanya memikirkan diriku sendiri

RI

Disappointment

Due to my sickness, I can’t go to office. I can’t even think straight. What I know is I disappoint many people because of my illness. 

First, of course my  boss, Sir Amin. He, reluctantly, replaced me teaching my class yesterday and he will also, today. While he has classes to teach too, he, willy-nilly, has to cover my class.

My friend, Nunu. She and I want to apply for AA together. She handed me the copy of her documents that I would translate last Friday but the timing was not perfect. The official said it will be done in the beginning of May while the deadline of scholarship submission is on 30th April. 

RI

Sakit

Saya memang terkadang agak lebay di social media saat sakit. Itu karena saya tidak ada teman untuk berinteraksi. Orang di rumah cuma bertanya “sudah makan?”, “sudah baekan?”, “jangan ini itu dulu” dan sebagainya. 

Syukur juga selama beberapa tahun belakangan saya sudah tak pernah diopname lagi. Badanku ini rasanya tahu kalau guru tak bisa mengusahakan asuransi. Dan perusahaan tempatku bekerja sama sekali tak peduli dengan bpjs karyawannya. 

Hari ini sakitnya sama seperti sakit-sakit sebelumnya. Tapi biasanya sakit ini saya dapat jelang PMS. Sedangkan sekarang saya udah selesai datang bulan dan ‘shock’  nya baru menghampiri.

Atau mungkin karena kecapekan. Seminggu terakhir, saya mendambakan libur yang saya bisa tidur seharian. Hari ini saya mendapatkannya.

RI

Sick

Beberapa jam yang lalu mustinya saya ke kantor. Saya sudah minta Lulu buat menunggu supaya bisa keluar sama-sama. Tapi setelah mandi, perut saya sakit sekali. Kemarin perut saya juga nyeri. Perempuan perlu merasakan baik-baik jika perutnya sakit karena itu bisa berarti banyak hal. Kuduga, saya dapat nyeri haid.

Tapi saya tak pernah dapat nyeri seperti ini sejak saya haid belasan tahun lalu.

Kemudian saat sakitnya tak tertahankan, saya mengambil keputusan untuk kembali berjongkok ke kamar mandi.

Dan kemudian saya muntah. Seluruh sarapan saya keluar dengan paksaan dari dalam. Asam. Rasanya ingin pingsan di dalam sana, tapi aku harus kuat setidaknya membersihkan badanku.

Nyeri perutku tidak juga hilang malah semakin kuat. Saya takut tidak bisa ke kantor, saya takut harus dilarikan ke rumah sakit.

Saya minum air hangat dan memohon untuk selimut. Saya kedinginan, lemas, dan nyeri perut. Sepersekian detik kemudian, saya muntah lagi.

Dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak ke kantor, menenggak Mefinal untuk penghilang nyeri, membungkus badanku dengan selimut dan tidur.

Saat memutuskan menulis ini saya kembali ingat bagaimana di tengah-tengah merasa sakit, saya mengingat mati. Saya tak pernah butuh takut untuk mati. Tapi saya pikir, mati pasti rasanya sakit, dan saya takut sakit.

Dan betapa mahalnya menjadi sehat.

RI

Sick

Hari keempat di kasur. Demam belum menjauh pergi. Batuk dan sakit kepala semakin membelit, tak ada gencatan senjata. Sekarang saya di rumah sendirian, katanya Bapak sebentar lagi datang. Rasanya seperti Kevin Mc Calister di Home Alone 4. Tapi bedanya Kevin kena cacar, saya kena demam.

Terpaksa hari ini saya absen mengajar. Siswaku pasti bingung karena gurunya diganti melulu. Tapi mau diapa lagi? Masa saya mau paksakan datang dengan kondisi seperti ini? Ntar tambah parah. Untung teman-teman kantor mendukung dan mendoakan agar saya lekas sembuh.

Haa, saya sudah lama gak sakit lama seperti ini. Paling cuma dua hari, sembuh. Ini sudah sejak Kamis dan tiap saya bangun pagi pasti kepala kayak dihantam godam, dan tubuh panas membara.

Mama panik. Sejak Jumat beliau merawatku dengan sabar sekali. Suapi makan, suapi obat, beliin buah, dan semuanya. Saya akan menikahi pria yang kalau saya sakit, bisa merawatku sesabar Ibu.

Well, oke then. Doakan saya lekas sembuh ya. Aamiin.

Sunshine

Recovery

Dear Ma,

Kiriman rendang dan telur asinmu sudah sampai. Sayang sekali, telur asinnya sudah pecah dan bau. Jadi aku cuma mengamankan rendangnya saja di kulkas, telurnya aku buang.

Dan aku juga telah membaca suratmu! Hahaha, nantilah aku balas juga dengan tulisan tanganku sendiri.
Ma, aku berdoa pada Tuhan, semoga kesusahanmu segera teratasi. Tuhan Maha Mendengar dan Maha Melihat. Dia juga telah berjanji takkan memberi hamba-Nya beban yang tak sanggup dipikulnya.

Oh ya, aku mau cerita. Malam kemarin, ternyata Rahma dan Brainwave datang menjagaku. Mereka tak mempedulikan jarak, menembus dingin dan kelamnya Jakarta menuju rumahku. Bayangkan Ma, Rahma rumahnya di Ciracas, Brainwave di Condet. Itu jauh sekali dari Priok! Tapi mereka tetap datang dengan motor.

Mereka lah hartaku disini, Ma. Aku sayang pada Rahma seperti pada Tya, aku pun juga sayang benar pada B.

Aku akan membiarkan semua kelucuan dan kekonyolan saat-saat mereka menjengukku untuk ingatanku saja, Ma. Hal itu benar-benar terlalu manis untuk dibagi.

Well, I am okay now, Ma. So, don’t be worry.

Sunshine