The Bright Side

Sudah sejak Januari and I just stay at home. I mean no office working. 
And I have just read a picture in my Line Home, said like this.

“Don’t forget to talk with your parents. Please remember, that they talk to you even when you still learn how to say a word”,

Dan kupikir, inilah yang kulakukan di rumah selama ini. Menjadi anak paling tua (karna kakak PTT di Sinjai), menjadi Inem dan menjadi teman curhat Mama. 
I have been doing okay with Mom. We spent a lot time together. We have done things that I couldn’t do when I was busy in office. 
Now it’s asking for redemption. 

So why not I let it for a while more? 

RI

I Don’t Need Drugs, You’re My Cure

K is a candidate of a doctor. He’s been studying medical since 2008 and now he is having his co-ass phase. He spends all his time only in hospital, but every weekend, he has free time, it means he is with me (yey!) or with his friends. 
That’s why maybe tonight, he showed me his never-ending attention (again) by coming into my house. Yes, abruptly. Like usual. 

“I’m on my way to your home”, he said. 

“What for?”, I asked.

“I want to give you things”, he replied.

“Oke”, I said. 

Next time I knew, one carton of Asam Mefenamat 500mg contains 10 strips and one carton of Paracetamol with the same dosage, were in my hand. 

“Are your teeth okay?”, K asked. 

“Yes”, I answered.

“I read your line but I thought it’s too late. You wrote your gums were swollen”, he said. “So these are some drugs to reduce the pain”, 

It’s not one strip. It’s one carton, for Godsake. This man always knows how to surprise me with his exagerrating way. 

He brought me also Dilan by Pidi Baiq just because I said I have download the ebook version. 

“You needn’t read the ebook. Just read this”, he handed me the paperback. 

And then he’s gone back home. 

I don’t need drugs, he is my cure. You are my cure. 
RI

Good Night

Enough said
I just want to hear “good night, baby”
from you
even you are one million miles away from my bed
you know?
you are never far
in my mind
you are nearer than my own brain cells
you are nearer than anything I could imagine
you, my dear, are the air I breathe
you, my darling, that keeps my heart beats

“Good night, baby”,
and you kissed me for the very last time
when I lay down my body
in my own coffin

RI

Hati

Patah hati bermula dari sini.
Rayya hanya menyimpan Tuhan dalam hatinya yang sungguh besar. Saat Tuhan meminta untuk selalu memuliakan orang tua, dia memberi ruang untuk orang tuanya. Kemudian, orang tuanya meminta Rayya untuk menyayangi adik-adiknya. Maka ruang hatinya tadi diisi lagi oleh adik-adik kesayangannya.

Lalu Rayya hidup dengan bahagia. Dimanapun dia berada, senyumnya tak pernah lepas dari bibir. Saat melihat hal-hal yang indah, dia teringat Tuhannya, yang disimpannya dengan baik dalam hatinya yang besar. Dia berucap, “subhanallah, Allahu akbar” dengan tercekat. Rayya seringkali takjub dengan hidupnya dan hal-hal yang melalui penciptaan Maha Sempurna.

Kata orang, hati kita cuma satu. Dan orang-orang yang kita cinta, menempati ruang-ruang yang berbeda di dalam sana.

Kebahagiaan Rayya dimakan waktu. Dia merasa hatinya terlalu lapang bahkan setelah membagi-baginya untuk Tuhan, orang tua dan adik-adiknya. Dia butuh seseorang, yang bisa dicintainya, yang mampu membuatnya menjadi utuh  (bukan berarti awalnya dia hanyalah kepingan).

Waktu berlalu. Tak lama, muncullah Zaffar. Laki-laki yang lembut dan penyayang. Sosok pemimpin yang cerdas dan menawan. Laki-laki paling baik yang bisa diharapkan Rayya.

Tapi Zaffar jauh dari jangkauan. Dia begitu bersinar, begitu terang seperti bintang. Rayya mengakui dirinya seperti ingin memetik bintang yang tak terjangkau. Kecuali oleh matanya saja.

Namun Tuhan menghendaki Zaffar hadir dan mengenal Rayya. Selanjutnya, Dia hanya menjalankan rencana dan gerakan kecil agar Zaffar menjadi bagian dalam hati Rayya yang lapang.

“Aku cinta padamu”,

Adalah mantra ajaib. Tiga kata itulah yang membuat Zaffar lalu masuk dalam kehidupan Rayya dan dalam hati perempuan itu.

Tuhan, orang tua, adik-adik dan Zaffar mengisi ruang-ruang berbeda dalam hati Rayya yang besar.

Kemudian dalam satu petikan jari, CLAP!

Di suatu subuh, orang tua dan adik-adik Rayya tewas dalam kecelakaan maut pada perjalanan dari Bogor ke Jakarta. Seorang bocah yang kembali dari mengantar pulang pacarnya, melarikan mobil mewahnya seperti orang kesetanan. Saat mobilnya lepas kendali di jalan tol kilometer 19, mobilnya menghantam pemisah jalan dan menabrak mobil keluarga Rayya. Keluarga Rayya tewas dan bocah ugal-ugalan itu selamat.

Beberapa bulan kemudian, bocah itu divonis bebas. Pengadilan memutuskan bahwa ia masih dibawah umur untuk diperlakukan seperti kriminal pada umumnya. Orangtua bocah itu lega, anaknya bebas dari tuntutan.

Rayya merasa dirinya ikut mati di mobil itu bersama seluruh keluarganya. Dia nyaris tak bisa berpikir, bahkan dia tak yakin dia sungguh-sungguh bernapas, dan hidup. Hatinya berantakan. Ruang yang dulu ditatanya rapi, kini hancur. Tak ada yang bisa menanggung perihnya kehilangan.

Beberapa pekan setelah mencoba menata hidupnya, Zaffar kembali menghancurkannya. Dia memutuskan untuk menikah dengan calon pilihan orangtuanya.

“Maaf Rayya, semoga ini yang terbaik buat kita”,

Dan begitu saja, Zaffar pergi. Dia pergi setelah Rayya menyimpannya rapi dalam ruang hatinya yang lapang. Bagaimana bisa Zaffar berpikir ini akan menjadi hal yang baik bagi Rayya? Apa dia pikir menyimpan seseorang dalam hati kemudian minggat begitu saja adalah perbuatan yang pantas?

Begitu perih kehilangan, begitu sakit rasanya ditinggalkan.
Dan dari situlah patah hati bermula.

Sunshine
Menunggu pagi datang.
Ramadhan 2014

Birthday Story

Dear Ma,

Kemarin hari ulangtahun ku ke- 24. Dua puluh empat tahun yang lalu sejak kau berhasil melahirkanku, dan aku resmi jadi anakmu, beban sekaligus rejekimu. Hahaha. Dan kemarin Ma, aku merayakannya jauh dari rumah. Tanpa melihat satupun dirimu dan Bapak, dan saudara-saudaraku.

Tahun ini aku di Jakarta, berteman sepi.

Skenario cerita yang seperti apa baiknya kuceritakan padamu?

Baiklah, aku tidak berteman sepi. Aku memang pintar berbohong, aku pintar bersembunyi.

Jumat malam kemarin, aku menginap di kosan Rina. Kami tidur telat, bangunnya pun telat. Tapi, saat aku terbangun, Ma, tahukah kau? Rina, Desi, Lida, Alicia, Aldi, Gilang, datang membawakanku kue ulangtahun sambil bernyanyi. Aku terkejut sekali, Ma. Aku lalu meniup lilin dan makan kue bersama mereka. Aku bahkan belum gosok gigi dan sudah menghabiskan dua potong kue tar. Mereka memberiku buku The Casual Vacancy yang selama ini aku inginkan. Aku beruntung, bukan? Ma?

Sorenya, aku kembali ke rumah dan kejutan ternyata telah menanti aku! Teman-teman Calisto7 cabang Jakarta, berkumpul sambil membawa kue ultah dan mereka memakai topi bertuliskan angka 24. Lagi-lagi Ma, aku memotong kue dan meniup lilin. Lagu ‘selamat ulang tahun’ terdengar lagi. Mereka memberiku hadiah jam tangan! Aku bahagia sekali, Ma. Rasanya mereka, teman-temanku disini telah menghapus sedihku karena kalian tak ada disini.

—-

Mama, kuharap skenario tadi benar-benar nyata.

Hari ini tak ada nyanyian ulangtahun, Ma. Tak ada kue, tak ada tradisi nasi tumpeng, tak ada hadiah, tak ada surat.

Hari ini, aku mengundang teman-teman Calisto7 karaokean. Semuanya datang kecuali Ela dan Tya.

Iya, Tya harus menjaga Kakaknya yang berjuang melahirkan anak pertamanya di RSIA, jadi aku tak bisa bertemu dengannya. Aku jadi ingat, Ma, saat ulangtahun ku ke 17 dan Ochank tidak bisa datang, aku juga sedih. Mestinya di hari-mu, orang yang berharga bagimu, datang, bukan?

Jadilah, aku dengan mood dampak macet, menanti busway hampir dua jam, dan angkot yang luarbiasa muternya, muncul di Atrium Senen. Mood ku yang buruk membuat aku tidak bisa menikmati karaokean dua jam itu. Tapi untunglah, teman-temanku menikmatinya.

Pasti kau tau, Ma, apa yang terjadi selanjutnya. Kau tau betul aku, bukan?

Last thing I remember is Rahma and Andi get mad at me. Really mad. Dan aku hanya said sorry to Andi, and promised to myself will not calling him anymore.

Aku kini harus membiasakan diri, Ma. Aku harus memperlakukan birthday layaknya ordinary and usual day. Because, you’re not with me anymore.
Pas pulang, I realized, how blessed I am for having the friends that precious as treasure.

Ini Februari, dan kemarin, biarlah berlalu. Sabtu kemarin kuharap akan tertutup, tertimbun, dan tersimpan dengan rapi di sudut ingatan yang jauh, dan memorinya takkan kupanggil-panggil lagi.

Sunshine

Reina’s Life| Grandmom

Reina memegang tangan Randi, kakaknya. Pagi itu keduanya berdiri di depan pintu rumah yang bangunannya sudah tua tapi masih terawat. Seingat Reina, dia pernah sekali ke rumah ini, waktu dia berumur enam tahun. Ini rumah Neneknya yang hanya beberapa kali dikunjunginya bersama orangtuanya dulu. Kini dan seterusnya, di rumah inilah dia dan Randi akan tinggal bersama.

Randi menatap Reina yang menatapnya balik. Dia kemudian mengetuk pintu rumah itu sambil mengucap salam.
“Salam, ini kami. Reina dan Randi…”

Sepersekian detik kemudian Randi tersadar dia bukan lagi berada di Desa Tulil. Selama bertahun-tahun alasan keluarga mereka jarang sekali mengunjungi rumah ini karena rumah ini berada di Marycerll, dan jarak Desa Tulil kesini memakan tiga hari perjalanan darat. Begitu Randi tersadar, tiba-tiba ada suara dari dalam rumah yang disusul dengan bunyi derik kunci pintu. Begitu pintu terbuka, seorang wanita berumur tujuh puluhan tahun berdiri dengan senyuman hangat, menyambut mereka.

“Halo, Reina, Randi! Oh, cucu-cucuku, masuklah cepat. Diluar pasti sangat dingin…”
Reina tak menunggu disuruh dua kali. Dia lalu masuk menyeret kopernya yang langsung diambil alih oleh Randi yang juga masuk tidak lama setelah mengangkat tas dan koper miliknya. Mereka lalu merasakan betapa hangatnya berada di dalam rumah.

“Cuaca sudah tak bisa lagi diprediksi. Menit sebelumnya matahari masih ada, menit kemudian berangin dan berkabut. Tunggu beberapa menit lagi, hujan pasti akan segera turun. Orang-orang di televisi mengatakan ini akibat global warming! Ha, aku sendiri mengatakan ini karena peri-peri di langit sedang berpesta sehingga lupa mengatur cuaca. Kau mau teh, Reina? Randi? Seingat Nenek masih ada biskuit di kulkas…” jelas Neneknya sambil merapikan kardigan abu-abu yang sudah nampak lusuh namun tetap nyaman dipakainya.

Reina menguap. Dia kelelahan akibat perjalanan panjang dengan kereta tarik. Randi ingin sekali mandi dan makan agar bisa lekas beristirahat. Tapi Nenek rasanya masih ingin mengobrol. Dia menyeduh tiga cangkir teh dan mengeluarkan aneka rasa biskuit dari kulkas dan menyediakan semuanya di atas meja.

Begitu Nenek duduk, dia lalu menatap dengan amat gembira kedua cucunya itu. Dia ingin mendengar cerita atau bercerita sesuatu. Tapi setelah hampir lima belas menit tak ada satupun dari mereka yang bicara, beliau pun menyerah. Randi kemudian berdehem.

“Umm, jadi orangtua kami menitipkan kami pada Nenek. Saya bisa membantu apa saja. Reina juga sudah terbiasa mengerjakan kebutuhannya sendiri. Jadi Nenek tidak perlu repot untuk…”
“Randi, Nenek tidak repot mengurusi kalian. Minum tehnya, itu biskuitnya juga dimakan. Setelah itu kalian boleh beristirahat di kamar. Untuk sementara, Nenek hanya menyiapkan satu kamar. Besok Nenek akan menyiapkan satu kamar lagi. Untuk malam ini kalian tidur berdua dulu, tidak apa?”
“Baik. Kami mengerti…” ujar Randi. Reina ikut mengangguk.

Perlu waktu sejam hingga Reina akhirnya bisa berbaring di ranjangnya. Dia sudah mengganti seprei mawar dengan seprei Little Princess miliknya. Nenek kemudian masuk memeriksanya.
“Sudah mau tidur?”
Reina mengangguk.
“Apakah kau sudah terlalu tua untuk sebuah dongeng?”
“Tentu tidak, Nek! Aku tidak pernah dibacakan dongeng sebelum tidur. Bagaimana rasanya? Nenek punya cerita?”
“Tentu,…”
Dua puluh menit kemudian dia menyimak cerita Neneknya hingga jatuh tertidur. Tidurnya pulas sekali hingga dia tak merasa saat Randi mencium keningnya sebelum dia sendiri beristirahat.

***