Tuhan

Tuhan saya bingung,

bagaimana mungkin Engkau tetap mencintai, mengasihi dan menyayangi hamba-hambamu di dunia padahal kami sungguh sungguh amat penuh salah, nista dan dosa?
Padahal kami banyak sekali melakukan pelanggaran, tidak taat, bermaksiat.
Bagaimana mungkin Engkau tetap memberikan kami perlindungan, kesehatan, akal pikiran?
Sungguh Tuhan saya bingung. 

Mengapa kasih sayang dan cinta-Mu begitu tak terbatas? 

Ri

Advertisements

Pertanyaan 

Pertanyaan yang paling sering menggerogoti otakku adalah tentang nasib manusia. 
Kenapa Tuhan ada orang yang gampang sekali begitu jalan hidupnya seakan-akan tanpa rintangan, tanpa kesulitan, lempeeeeng muluuuuus begitu hidupnya. When they want something, they don’t need to wait too long till it’s achieved. 

Trus kenapa juga ya Tuhan, ada juga orang yang susaaah sekali pas mau sesuatu, lamaa sekali harus dulu bekerja keras berusaha banting tulang, ditolak sana sini, dihantam sana sini baru ada titik terang. 
Kenapa begitu ya Tuhan? Rasanya susah sekali memahami hukum nasib sebab tidak ada rumus default yang orang lain bisa lakukan. 

Kenapa ya Tuhan?

RI

Jarak Dengan-Mu

Ada saat dimana menghubungimu adalah suatu kewajiban. Saat itu, aku akan melakukannya dengan penuh keengganan. Aku benci jarak, bahkan jika itu hanya berbeda seinci.

Tapi Tuhan, belakangan aku sadar. Satu-satunya jarak yang harus kumusnahkan adalah jarak kita berdua. Aku bisa saja melakukannya agar kita menjadi sedekat urat nadi. Agar apapun keinginan yang kubisikkan mampu kau dekap, bisa kau peluk.

Tapi jika aku melakukannya agar aku bahagia, bukankah kedengarannya begitu egois?

Apakah berspasi dan berjarak denganmu itu perlu? Apakah rindu baru akan tercipta saat ada jarak?

Aku ingin melakukannya tanpa merasa HARUS melakukannya. Aku ingin menghubungimu, bercakap denganmu karena aku MEMANG merasa bahagia saat melakukannya. Aku ingin merindukanmu seperti saat aku merindukan dekapan seseorang yang begitu kucinta.

RI

Morning Thought

Jiwa yang tenang hanya bisa diraih kalau kita yakin. Kita yakin karena itulah kita jadi tenang, tidak tergesa-gesa atau terburu-buru. Tapi tak berarti diam saja tak melakukan apa-apa. 

Keyakinan bisa kita rasa jika kita sudah berusaha dan berdoa pada Tuhan. Saat usaha telah maksimal, doa telah sepenuh hati, yakinlah insya Allah semuanya akan dijabah pada waktu yang tepat. 
Jangan menginterupsi Tuhan dalam mengabulkan keinginanmu. Dia Maha Tahu segala sesuatu. 

Jiwa yang tenang. Yakin. Usaha. Doa. Lalu penyerahan diri.
RI

Voice Within

Sore ini saya mencoba untuk bersujud lebih lama dari biasanya. Selesai sholat, saya duduk lebih diam dari biasanya. Kemudian, pikiran saya mulai berbicara. Saya mendengarnya lebih jelas. Pikiran saya berbicara pada Tuhan.

Apakah saya siap mati? Saya belum siap ya Allah. Tak ada yang akan menjawab sebaliknya. Tapi apakah saya sudah bersiap-siap? Itupun belum. Tanggung jawabku pada Mu belum tuntas dan saya hanya memikirkan dunia dan saya amat payah dalam mengatur pertemuan dengan-Mu.

Saya takut akan masa depanku. Tapi saya yakin kalau semua orang juga khawatir. Bagaimana jika rencana yang saya atur tak terealisasi? Apakah saya mampu berkompromi dengan rencana B? Rencana C?

Apakah saya siap dengan apapun kejutan-kejutan-Mu?

Tuhan,
saya bahkan tak tahu apa yang paling baik untukku. Kadangkala saya tak tahu apa yang harus saya lakukan.

RI

Sorry for Writing This

Another period, another why.

Tadi malam alhamdulillah bisa tidur jam 10. Sekarang pukul 6 pagi dan saya sudah bangun sejak sejam yang lalu.

Semalam pulang dari kantor dalam keadaan lebih capek dari biasanya. Mungkin alasan utamanya adalah because of my first day period. Satu badan remuk rasanya. Belum lagi nyeri perut, kaki pun pegal karena naik turun tangga pake high heels.

Yang membuat saya pengen nangis dan bertanya-tanya.

“kenapa harus perempuan yang ngerasain semua ini? Bukannya Tuhan ciptain lelaki itu lebih kuat dibanding perempuan? Kalau memang begitu, kenapa bukan laki-laki saja yang ngerasain ini?”

Perempuan itu lemah kan? Kenapa harus menanggung perihnya period, beratnya hamil dan ngelahirin? Kenapa kenapa? Trus laki-laki dibikin lebih kuat buat apa?

Sunshine

Singing in the Rain

Ayo mundurkan waktu ke beberapa bulan yang lalu.

Mama dan Warni akhirnya datang ke Jakarta. Saya dan Kak Fauzi, suami Warni, datang menjemput mereka di Soetta Airport. Saya memeluk Mama. Mama memelukku. Kami akhirnya bertemu di Jakarta.

Kemudian saya menghadapi hari-hari terakhir di Republika. Semangat liputan dan mood ngedrop. Untung ada Mama dan Warni jadi pengalihan isu. Jadi saya tidak sendiri menghadapi situasi menyedihkan itu.

Kupikir Tuhan menghendaki saya untuk stay lebih lama disana dengan membuat PT. S memberiku penawaran pekerjaan yang amat bagus. Mama pun senang saya bisa segera resign dari kantor dan tak berapa lama dapat kerjaan baru.

Di satu kesempatan makan malam di Pepper Lunch Mall Taman Anggrek, saya mengatakan pada Mama bahwa rasanya Tuhan sayaaang sekali pada saya.

“Ma, merasa ka Tuhan sayang sekali ka”,
“Iya Nak. Disayangko memang Tuhan. Mama rasa tahun depan nanti itu tahun emas mu”,

Ternyata Tuhan punya rencana lain. Seperti biasa, Dia selalu memberiku kejutan. Setiap malam saya gemetaran dan merasa takut. Namun saya harus tetap kuat dan melanjutkan hari-hari dengan semangat.

Di tengah-tengah deras hujan malam ini, saya ada di Makassar, di rumah dan mengingat lagi percakapan itu. Setelah apa yang saya alami dan hadapi, cobaan itu, apakah saya masih merasa Tuhan sayang pada saya?

Tentu saja. Malahan saya merasa kasih sayang-Nya tak pernah padam. As Sandy Sandoro’s song. 

Mama masih mengingat jelas kalimatnya malam itu. Dia membesar-besarkan hatiku bahwa dia meyakini apa yang dikatakannya.

“Tapi Mama bilang itu karena ditawarika PT. S dan belumka ketauan sakit”
“Mama bilang itu bukan karena alasan itu. Tapi karena Mama yakin jadi kau juga harus yakin. Mama percaya suatu hari kau bakalan jadi orang besar, Nak”.

Dan akhirnya saya sadar, menjalani hari-hariku sekarang di rumah bukanlah karena saya tidak ingin lepas dari zona aman. Tapi karena saya merasa menghabiskan waktu bersama keluarga adalah priceless. Menjalani kesusahan sama-sama, senang-bahagia bareng, membereskan rumah dengan bagi tugas sampai mendengar keluh kesah Mama tiap hari. Kalau saya berangan-angan ingin berguna, well, saya ingin menjadi berguna untuk keluargaku dulu.

Dan keluargaku inilah rahmat Tuhan yang paling besar yang paling saya syukuri. Selain teman-teman yang baik.

Hujan sudah reda.

Sunshine