Pertemuan

Jangan pernah mengira kalau kamu bertemu dengan orang tanpa sebab. Jangan pernah menyalahkan nasib buruk pada Tuhan, sebab hanya Dia lah yang Maha Tahu rancangan hidup kita. Baik buruk untuk kita. Kita tak tahu apapun. 
Kenapa saya dulu lulus belajar bahasa inggris ke Amerika dengan beasiswa? 

Sebab sekarang saya menggunakan bahasa inggris untuk bekerja. Ternyata hari ini saya akan mengajar dengan skill bahasa inggris itu, skill yang kuperoleh 7 tahun yang lalu. Apakah dulu saya tau kalau akan begini? Tidak. Saya hanya menerima kado dari Tuhan. 

Kenapa Tuhan dulu memberi saya sakit? 
Sebab tak ada hal yang akan membuat saya pulang ke Makassar selain karena itu. Saya terlalu keras kepala untuk pulang karena terlalu penasaran dengan Jakarta. Hal yang kemudian saya alami adalah bertemu dengan Akbar. Dan sekarang, lihatlah sekarang. Kami saling mengubah hidup masing-masing. 

Hal-hal yang belum saya pahami dulu, sekarang jadi jelas benderang. Tuhan mengarahkan, menegur, memberi kesempatan, melatih kesabaran, menguji keyakinanku. Sekarang, hati saya lebih lapang. Saya mungkin masih akan mempertanyakan hal-hal lain di kemudian hari. Namun saya akan paham bahwa itu untuk suatu titik di masa depan, yang saya belum bisa hubungkan ke titik mana. 

Ri

Tuhan

Tuhan saya bingung,

bagaimana mungkin Engkau tetap mencintai, mengasihi dan menyayangi hamba-hambamu di dunia padahal kami sungguh sungguh amat penuh salah, nista dan dosa?
Padahal kami banyak sekali melakukan pelanggaran, tidak taat, bermaksiat.
Bagaimana mungkin Engkau tetap memberikan kami perlindungan, kesehatan, akal pikiran?
Sungguh Tuhan saya bingung. 

Mengapa kasih sayang dan cinta-Mu begitu tak terbatas? 

Ri

Pertanyaan 

Pertanyaan yang paling sering menggerogoti otakku adalah tentang nasib manusia. 
Kenapa Tuhan ada orang yang gampang sekali begitu jalan hidupnya seakan-akan tanpa rintangan, tanpa kesulitan, lempeeeeng muluuuuus begitu hidupnya. When they want something, they don’t need to wait too long till it’s achieved. 

Trus kenapa juga ya Tuhan, ada juga orang yang susaaah sekali pas mau sesuatu, lamaa sekali harus dulu bekerja keras berusaha banting tulang, ditolak sana sini, dihantam sana sini baru ada titik terang. 
Kenapa begitu ya Tuhan? Rasanya susah sekali memahami hukum nasib sebab tidak ada rumus default yang orang lain bisa lakukan. 

Kenapa ya Tuhan?

RI

Jarak Dengan-Mu

Ada saat dimana menghubungimu adalah suatu kewajiban. Saat itu, aku akan melakukannya dengan penuh keengganan. Aku benci jarak, bahkan jika itu hanya berbeda seinci.

Tapi Tuhan, belakangan aku sadar. Satu-satunya jarak yang harus kumusnahkan adalah jarak kita berdua. Aku bisa saja melakukannya agar kita menjadi sedekat urat nadi. Agar apapun keinginan yang kubisikkan mampu kau dekap, bisa kau peluk.

Tapi jika aku melakukannya agar aku bahagia, bukankah kedengarannya begitu egois?

Apakah berspasi dan berjarak denganmu itu perlu? Apakah rindu baru akan tercipta saat ada jarak?

Aku ingin melakukannya tanpa merasa HARUS melakukannya. Aku ingin menghubungimu, bercakap denganmu karena aku MEMANG merasa bahagia saat melakukannya. Aku ingin merindukanmu seperti saat aku merindukan dekapan seseorang yang begitu kucinta.

RI

Morning Thought

Jiwa yang tenang hanya bisa diraih kalau kita yakin. Kita yakin karena itulah kita jadi tenang, tidak tergesa-gesa atau terburu-buru. Tapi tak berarti diam saja tak melakukan apa-apa. 

Keyakinan bisa kita rasa jika kita sudah berusaha dan berdoa pada Tuhan. Saat usaha telah maksimal, doa telah sepenuh hati, yakinlah insya Allah semuanya akan dijabah pada waktu yang tepat. 
Jangan menginterupsi Tuhan dalam mengabulkan keinginanmu. Dia Maha Tahu segala sesuatu. 

Jiwa yang tenang. Yakin. Usaha. Doa. Lalu penyerahan diri.
RI

Voice Within

Sore ini saya mencoba untuk bersujud lebih lama dari biasanya. Selesai sholat, saya duduk lebih diam dari biasanya. Kemudian, pikiran saya mulai berbicara. Saya mendengarnya lebih jelas. Pikiran saya berbicara pada Tuhan.

Apakah saya siap mati? Saya belum siap ya Allah. Tak ada yang akan menjawab sebaliknya. Tapi apakah saya sudah bersiap-siap? Itupun belum. Tanggung jawabku pada Mu belum tuntas dan saya hanya memikirkan dunia dan saya amat payah dalam mengatur pertemuan dengan-Mu.

Saya takut akan masa depanku. Tapi saya yakin kalau semua orang juga khawatir. Bagaimana jika rencana yang saya atur tak terealisasi? Apakah saya mampu berkompromi dengan rencana B? Rencana C?

Apakah saya siap dengan apapun kejutan-kejutan-Mu?

Tuhan,
saya bahkan tak tahu apa yang paling baik untukku. Kadangkala saya tak tahu apa yang harus saya lakukan.

RI

Sorry for Writing This

Another period, another why.

Tadi malam alhamdulillah bisa tidur jam 10. Sekarang pukul 6 pagi dan saya sudah bangun sejak sejam yang lalu.

Semalam pulang dari kantor dalam keadaan lebih capek dari biasanya. Mungkin alasan utamanya adalah because of my first day period. Satu badan remuk rasanya. Belum lagi nyeri perut, kaki pun pegal karena naik turun tangga pake high heels.

Yang membuat saya pengen nangis dan bertanya-tanya.

“kenapa harus perempuan yang ngerasain semua ini? Bukannya Tuhan ciptain lelaki itu lebih kuat dibanding perempuan? Kalau memang begitu, kenapa bukan laki-laki saja yang ngerasain ini?”

Perempuan itu lemah kan? Kenapa harus menanggung perihnya period, beratnya hamil dan ngelahirin? Kenapa kenapa? Trus laki-laki dibikin lebih kuat buat apa?

Sunshine