Letter for Brainwave

Dear Brainwave,

Happy birthday!

Sadarkah kau begitu cepatnya waktu berlalu dan tahu-tahu kau sudah berumur seperempat abad? Berapapun jumlah tahun yang telah kau lalui nanti, kupikir kau akan melewatinya sama baiknya dengan tahun-tahun sebelumnya.

Instead of greeting or singing you Happy Birthday by your face, I wrote this.

Kau tahu, aku pembicara yang payah. Aku hanya tahu berceloteh tidak penting dan tidak keruan atau bahkan menggumam hanya untuk pikiranku sendiri. Tapi aku cukup bagus kalau menulis dan bernyanyi, bukan? Kau pernah mengakui itu. Jadi, kuharap hanya aku satu-satunya yang menulis surat di hari ini (nyanyinya nanti pas kau mentraktir kami karaoke).

Dimanapun kau berada sekarang, Mr.Mysterious, kuharap ada yang mengingat hari kelahiranmu, seperti orangtuamu dulu menanti kelahiranmu, membuat tanggal 29 Oktober menjadi sejarahmu. Aku selalu bersemangat setiap ada yang berulangtahun, sebab di hari itulah, jodohnya menggariskan kami bertemu. Suatu hari bersama siapapun nantinya kau, ingatlah momen-momen bermakna dan rayakanlah bersama orang yang kau sayangi, Brainwave.

Geez, aku rindu benar padamu.

Ada doa orang Irlandia yang sangat kusuka. Tidak ada pengharapan yang lain yang bisa kupanjatkan sebaik doa ini, untukmu.

May you always be blessed with walls for the wind. A roof for the rain. A warm cup of tea by the fire. Laughter to cheer you. Those you love near you and all that your heart might desire. -Irish Blessing

Advertisements

Mama dan Buku

The Hunger Games

Mama,

ulangtahunku sebentar lagi. tinggal sehari lagi. saya ingin sekali, meskipun saat ini saya tahu kita sedang dalam krisis, mendapat kado ulangtahun darimu.

Saya tidak minta dibelikan Blackberry atau iPhone. saya juga tidak minta hadiah liburan ke Bali. atau minta dibelikan sepeda. atau sesuatu yang mahal dan tidak terjangkau.

saya hanya ingin buku “The Hunger Games” ini. bukunya tidak terlampau mahal dan mungkin bisa saya beli sendiri jika uangku sudah cukup. tapi saya ingin mendapat hadiah buku darimu, Ma.

dan nanti, suatu malam, jika kita tidak sedang buru-buru dalam waktu dan saya sudah menamatkan buku itu. saya ingin kita berbincang dan mengobrol tentang betapa saya suka sekali membaca dan menulis. seperti kau saat masih muda dulu, bukan?

saya rindu waktu-waktu berdua kita mengobrol tentang hal-hal yang menyenangkan, Ma. suatu hari, dengan doa-doa darimu dan usaha kerasku, saya janji akan membuatmu bahagia dan menebus hari kemarin.

Sunshine