You Can’t Leave Your Love Behind

Apa yang kau cinta tak bisa kau tinggalkan.

Saya ingat kemarin saat Pak Teguh membawakan materi orientasi ‘Investigative Reporting’ pada kami bertiga. Sebelumnya, dia membuka materi dengan pertanyaan sederhana;
“Apa kalian pernah menulis?”
Dia tidak memakai kata “suka menulis”. Mungkin karena dia ingin mendengar bukti. Bukti kita suka menulis adalah setidaknya, pernah menulis, bukan?
Dan kami bertiga menjawab, “pernah”, dan itu membuatnya mengatakan “Bagus, artinya kalian sudah punya modal untuk masuk ke dunia menjengkelkan ini”
Lalu dia menjelaskan kenapa dia bertanya seperti itu. Bahwa jika kita memang suka menulis, bagaimanapun sulitnya pekerjaan, kita akan tetap kembali.
“Jika misalnya kalian tidak suka bekerja disini lalu kalian keluar, pasti kalian akan masuk kerja ke media lain, bukan?”
Saya menunjukkan wajah serius.
“Jadi awalnya harus cinta dulu, Pak?”
“Benar! Harus cinta dulu…”

Saya menyebutnya passion. Seperti saya pada menulis, Rahma pada fotografi, Ilham pada film dan Kak Aan pada buku dan kata-kata. (Hanya orang-orang ini yang saya kenal konsisten pada passion mereka)

Tapi tiba-tiba saya malah mengaitkannya pada hubungan sepasang kekasih.

Kau tidak bisa meninggalkan orang yang kau cinta, kecuali jika ada kondisi yang tidak bisa kalian kendalikan, takdir.
Jika kau memang mencintai seseorang, kau tak akan mau dan mampu meninggalkannya, betapapun sulitnya hubungan yang kalian jalani, betapapun susahnya kalian berdua menyatukan pikiran. Misalkan kalian pergi, kalian pada akhirnya akan kembali- betapapun sulitnya kalian menjaga harga diri kalian.

Sunshine

Sejauh Jarak

Apapun yang menghadirkan rindu mustinya harus dimusnahkan
jika ia membuat hati menjadi seperih ini

aku, kau, kita, mereka,
jauh
sejauh yang tak bisa direka
aku rindu, sungguh.

di kota ini aku asing
pekerjaan yang acap kali kulakukan hanyalah
terus merindu kampung halamanku
setiap kali,
sebelum aku menidurkan pikiran dan badanku
dengan atau tanpa setetes dua airmata.

sungguh, apapun yang menjadikan rindu begitu perih
layak dimusnahkan.
tapi bukankah rindu itu pertanda cinta?
dan bukankah cinta itu indah?

mengapa rindu dan cinta itu terus menerus membuat suka dan duka?

Sunshine