Teh Pagi dan Selimut Hangat 

Ingin kutulis bait-bait puisi yang hangat seperti pelukan ibu. 

Tapi aku hanya punya selimut yang cukup menahan dinginnya pagi  masuk dan membuat gigil. 

Dulu jika aku bersin, ibu akan berlari ke arahku dengan segelas teh panas yang uapnya terbang ke udara.

Ibu akan menasehatiku tanpa jeda, betapa kesehatan itu penting

Dan percuma mimpi dan ambisi kita besar jika tubuh tak mampu menopangnya. 

“Kenapa kau brengsek pada tubuhmu sendiri? Makan! Minum ini!” katanya

Lalu ibu akan memberikan kedua lengannya melingkar di seluruh badanku tanpa berkata apa-apa

RI

Senja di Jakarta

Kutulis pesan ini saat senja telah turun di Jakarta dengan ditemani setangkup kenangan pahit dan secangkir kopi tanpa gula di kafe yang namanya mirip dengan nama kota ini di jaman Belanda. 

Hatiku lebih getir dibanding cecap lidah yang mengisap gelapnya minuman yang beralaskan tatakan piring keramik putih. 

anak-anak di depan kafe sedang berlari-kejaran penuh ceria hingga tangan mereka direntangkan bagai sayap. 

mereka tahu takkan bisa terbang. namun seolah-olah saja, rasanya cukup bahagia. 

aku tahu kau takkan membalas pertanyaanku yang lebih mirip pernyataan itu dengan jawaban “ya”.

namun membayangkan kau menyambut tanganku yang kudiamkan di atas meja saja, 

sudah membuatku terbang 

bahagia

dan itu

kadang-kadang 

lebih indah

dari segala realitas yang ada disini. 

dunia butuh lebih banyak sayap dan kebahagiaan. 

RI

Mimpi Pergi

ketakutan membakar mimpi
matamu redup
tak lagi kulihat kerlip cahaya disana
yang biasanya memantulkan bayangan wajahku yang bahagia
sehabis menangkap lengkung senyum di bibirmu

apa yang kau khawatirkan, sayang?

katamu dengan datar,
‘aku ingin pergi’
sepersekian detik aku menunggu
kau tak jua melanjutkannya dengan penjelasan

‘kini apa yang salah?’

tak kutanyakan pula perihal penyebabnya
aku hanya menuntunmu
membantu mengepak pakaian, buku-buku,
dan setiap keping kenangan yang ada padanya
aku menangis tapi kesedihanku raup oleh ketakutan

mulutku tertutup
pikiranku liar
hatiku perih dan pedih
mataku kering

derik pintu
membahana
menutup
cahaya mataku
sirna
aku berdiri menyaksikan langkahmu tak henti di ujung mimpiku

kusadari kaulah ketakutanku
kau pula yang membakar mimpiku
lalu pergi begitu saja
seperti asap
yang tak kenal api mana dia berasal

Di Kepalamu Ada Matahari

Berlarilah engkau dari tempat yang begitu jauh
Di atas kepalamu ada matahari yang hendak terbit
Hujan takkan turun, katamu.
Padahal awan kelabu bergulung-gulung di langit.

Apa yang begitu menyakitkan dari jatuh cinta?
Kita mungkin adalah mayat-mayat berjalan
yang mencari tempat perlindungan abadi
dari hati yang patah berkali-kali

Musim gugur telah tiba
Daun-daun yang kering kini tergelatak di jalanan
Seseorang yang menyukai kamera, mengambil gambar kakinya dan dedaunan itu,
Lalu membuatnya abadi.

Berpuluh tahun kemudian dia menyesal tak membubuhi tanggal di gambar itu.
Sebab gambar tak seperti kenangan,
Ia tak pernah hidup
Walaupun ia mampu berbicara ribuan kata.

Pohon mangga di depan rumah kita sudah semakin tinggi.
Daun-daunnya lebat menghalau sinar matahari
Dari kepalamu.
Musim hujan datang.
Awan kelabu menggantung di langit yang tak bertepi.
Aku telah menemukanmu.
Hatiku yang pernah patah, kini sempurna karenanya.

RI

I’ll Stand By You

These are the most bullshit words men could ever said to me
“I’ll stand by you”
But you know what,
everytime The Pretenders sings it thru my earphone, I melt.

Mustinya kalimat itu tak sekedar kata.
Mustinya kalimat itu lebih dari ikrar dan lebih dari janji.
Tapi apakah karena dinamakan janji lalu kemudian orang mudah melupakan?

I might be stupid.
But even the dullest person has a heart.
And heart is innocent.
And you are sinner if you betray an innocent thing.

I love you.
I love you more than the sunshine to the sky.
I love you more than the rain that brings a rainbow.
I love you more than I live.

But you won’t tell.
You just stab me in my heart and rip the pieces out.
Like I am nothing.
Like I am nonsense.
Like I am the most bullshit words a man could ever say to a woman.

RI

Voice Within

Sore ini saya mencoba untuk bersujud lebih lama dari biasanya. Selesai sholat, saya duduk lebih diam dari biasanya. Kemudian, pikiran saya mulai berbicara. Saya mendengarnya lebih jelas. Pikiran saya berbicara pada Tuhan.

Apakah saya siap mati? Saya belum siap ya Allah. Tak ada yang akan menjawab sebaliknya. Tapi apakah saya sudah bersiap-siap? Itupun belum. Tanggung jawabku pada Mu belum tuntas dan saya hanya memikirkan dunia dan saya amat payah dalam mengatur pertemuan dengan-Mu.

Saya takut akan masa depanku. Tapi saya yakin kalau semua orang juga khawatir. Bagaimana jika rencana yang saya atur tak terealisasi? Apakah saya mampu berkompromi dengan rencana B? Rencana C?

Apakah saya siap dengan apapun kejutan-kejutan-Mu?

Tuhan,
saya bahkan tak tahu apa yang paling baik untukku. Kadangkala saya tak tahu apa yang harus saya lakukan.

RI

Menjadi Tsukuru

Saya sedang membaca buku Murakami yang terbaru berjudul “Colorless Tsukuri Tazaki and His Years of Pilgrimage”. Di buku itu diceritakan tentang laki-laki bernama Tsukuru, yang ditinggalkan empat sahabatnya saat dia kuliah di Tokyo dan sahabatnya tetap tinggal di Nagano. Dia ditinggalkan tanpa alasan. Akhirnya Tsukuru hidup sendiri, membiarkan dirinya tidak bahagia selama bertahun-tahun di perantauan. Ia juga tidak mengangankan rumah sebagai tempat damai untuk pulang.

Murakami menulis kesakitan ditinggal sahabat seperti sesuatu yang benar-benar nyata.

Belakangan ini saya merasa sahabat lama saya menjauh. Saya tak tahu alasannya. Dan saya tak pernah mau bertanya kenapa. Saya pun sudah tidak minat mengomentari grup angkatan semasa kuliah. Saya diam-diam mengangankan dan membayangkan menjadi Tsukuru.

Dan menjalani keseharian dengan orang-orang di kantor saja. Bepergian dengan yang ingin mengajak saja. Menjalani hari di rumah dan kantor saja.

Tapi apakah itu yang kuinginkan? Ditinggal-lupakan?

Atau seperti kata Jodha, “kau ingin pergi karena berharap Raja akan mengejarmu kan?”

RI

Surprises

Rahma said on the telephone that day,
“I am not afraid with the future. I want to let God surprises me”,

And I was like,
“Damn, she is right”

I was afraid of my future (well, who’s not?). I was afraid about my career, about my love story, even about the death.

But God. The Almighty, always surprised me. Somehow, I don’t like or I don’t understand the Plan. Sometimes I get angry if something happens unplannned or something happens outside my coverage.

“Dear God, what do you plan on me? Why me? Why did this happen? Why now?”

Those questions I always ask, always remained unanswered.

But then, day by day, I accept it with my sincere feeling. And I understand all the things.

And when I accept it, I am happy again. I relieved.

So I want to be surprised. I want to accept all the things God planned for me.

I hope I won’t be afraid about the future anymore. Because Allah is the Most Gracious. And nothing I need to worry about when I give all of my life in God’s hand.

RI

How Many Books for 2015?

I once have read 50 books in a year but it never happen again. This year I want to read more books. That is one of my resolution. But how many is “more books”?

Let say, I read minimum 2 books in a month. So I will read around 24 books in a year, minimum.

But I want to set more! 24 is a small number for book, isn’t it?

I decided. 35 is enough.

So, good luck, Ri!

RI