Terlintas

Apa

Kupikir apapun kesusahan yang menimpa kita dalam hidup, selalu ada dua pilihan yang bisa kita lakukan. 

Menerimanya atau tidak.

Tapi kau tahu?

Apapun yang kita pilih, hidup akan berjalan terus, seperti tak ada yang terjadi. 

RI 

Standard
Personal

Trivial

K had recognized me as an Aliguka girl the first time he met me that day. 

“We met in Blogger cafe, don’t you remember?”, he wondered.

No, I don’t.

He still remembers what conversation we had that day in the cafe. Like it has just happened yesterday. He remembers what outfit I wore, what sentences I said, word per word. He remembers, but I don’t. I don’t have any memories of him left in my brain. 

Which is so strange.

Because he remembers one particular person meeting him in the past while there are some people he sometimes forgets. People come and go, but he still remembers the girl who sold Aliguka’s premiere tickets in the cafe, many years ago.

And I really like him with every word I could say or write here. I like him not only because he always reminds me that he loves me, but also what he shows me.

RI

Standard
Personal

What If

Having such good friends around sometimes burdens me. They expect so many things from you to do because they want to see you achieve your aspiration. They want to see you have a good life, good career, good recognition.

Sometimes I act such a coward by thinking: “hey, it doesn’t matter if I want it, it doesn’t mean it’s going to happen”-

Then my friends will absolutely say: “why not?”

Exactly like Erin Gruwell said to her husband.

You know, sometimes it jumps my mind every time I wake up in the morning like this moment. “Ri, you have to do something with your life like they expect you to be”,

But you know, sometimes it’s just too hard to do it once you are in your safe zone.

My Mom, K, my bestfriends, love me so much I know. They want me to have better life, not like this life because they are sure I deserve that.

It’s just, you know…

RI

Standard
Personal

I Want To End This Soon

Since I moved back to my old centre, I have this kind of uncomfortable situation. 

That makes me feel “oh, I want to end this soon”, everytime I sit down and start my work. 

I want to go away. I need some escape. 

Or is it possible I am just having bored?

And it will be passed as time goes by? 

Oh,  I had to hurry. I am already late working. 

RI

Standard
Personal

Resiko

Saya tak pernah menyangka akan punya partner seorang dokter. Well, first, profesi itu sama sekali bukan dalam lingkaran sosialku. Saya banyak bergaul dengan pekerja kreatif atau pekerja seni. 

Saya tak mengenal baik dan penasaran dengan teman-teman yang memilih masuk sekolah kedokteran. Bagi saya, mereka jauh dan sangat berjarak dengan kehidupanku sehari-hari. Meskipun kakakku seorang dokter gigi, dia pun tidak dekat dengan dokter. Suaminya sekarang adalah seorang sarjana teknik mesin dari ITB.

Bertemu dan mengenal K, membuatku masuk ke lingkaran itu. He is going to be a doctor. Setiap bertemu, ada saja fenomena biologis yang dijelaskannya secara medis. Hal itu kadang terasa menyebalkan sebab otakku tiba-tiba macet. Belum lagi cara bicaranya yang begitu cepat, saya sulit mengikuti. Kerap kali saya memotong pembicaraannya dengan berkata “tunggu, bisa ulangi bagian yang ini?”. 

Hari ini, K bertugas jaga di rumah sakit. Seharian kami nyaris tidak berkomunikasi kecuali bertukar kabar soal saya sudah di rumah atau belum. Saat ini, saya jadi memikirkan hal itu. Kemarin dia bilang bakalan jaga 7×24 jam di rumah sakit lain mulai minggu depan. It means, seminggu nanti komunikasi akan sesempat-sempatnya saja. 

Itu resiko yang harus saya jalani karena memilih buat bersama-sama dia, bukan?
Jadinya saya ingat drama korea berjudul Reply 1998. Tokoh utamanya juga adalah perempuan yang menyukai seorang residen rumah sakit. Residen itu adalah dokter yang sedang ingin mengambil spesialis. Hubungan mereka manis sekali, walaupun si cowok sibuknya amit-amit. Adegan melamar pun dilakukan di ruang istirahat rumah sakit, coba. Hehehe. 

Mungkin K sekarang sedang memeriksa, mengukur suhu tubuh atau memeriksa tekanan darah pasien. Pasti dia capek sekali. Pasti dia mau banget istirahat tapi belum bisa. 

Mengingat hal itu betul-betul mengingatkanku pada Oppa residen di Reply 1998. :)
RI

Standard
Uncategorized

I Quit

Originally posted on AskLychee:

*Disclaimer – this should have been posted on Thursday last week but I was having too much fun on my hen weekend!

Pay close attention, this story might be about you.

In life we are often told to go out and find a job and make money and therefore somehow we will become happy……….

Today, August 20, 2015, was my point of no return.

I just walked out of the revolving doors of 280 Bishopsgate for the last time and I feel……….nothing. Not sadness, not relief, not even happiness….. just nothing! It’s indescribable. It’s such a strange feeling to know that a place I worked at for 4 years 10 months and 24 days or the equivalent of 32,760,000 seconds, will never ever be apart of my life again, and all I can feel is NOTHING!

The funny thing about this post is that I am actually writing it on…

View original 1,023 more words

Standard
Personal

Lima Puluh Ribu

Kebaikan lain yang diajarkan padaku adalah bersedekah lima puluh ribu setiap hari Jumat. 

Waktu itu Jumat. Bapak akan segera ke mesjid untuk Jumatan. Tidak lama, Mama bilang ke saya untuk beritahu Warni, kakakku, untuk titip uang sedekah ke Bapak. Jadi saya ke kamarnya Warni.

“Nong, Bapak mau ke mesjid. Mau titip uang sedekah tidak?”, kutanya.

“Oh iya. Tolong ambil di tas. Ada uang lima puluh ribu”, 

“Semua ini disedekahkan? Banyak sekali”, kutanya.

“Iya, semuanya.”

Setelah itu kuberi titipan uang Warni pada Bapak. 

Beberapa Jumat kemudian, saya di kantor. Teman kantor akan segera Jumatan dan saya ingin titip uang sedekah. Di dompetku tinggal lima puluh dua ribu. Kuambil lima puluh ribu dan kuberi padanya.

“Titip nah uang sedekah mesjid”,

“Semuanya ini?”, temanku bertanya.

“Iya.”, kujawab.

“Astaga, banyak sekali”, katanya.

Intinya, kupikir kita sering berpikir nilai lima puluh ribu itu banyak, kadang juga sedikit. Lima puluh ribu kalau dibawa ke mall mah, gak seberapa. Tapi kalau mau dimasukkan ke mesjid, kita betul-betul berpikir bahwa itu terlalu banyak. Sedekah uang kecil saja, tidak usah yang besar. Begitu pikir kita, kan?

K bilang berapapun nilai sedekahnya, asal jangan sampai kita sedekah karena mengharap diganti berkali lipat sama Allah. Sedekah ya sedekah saja, niat karena Allah. 

RI

Standard