Personal

Hujan Tadi Malam

Tadi malam hujan deras merata di Makassar. Padahal saya ada janji ketemu dengan Kak Ema di Pettarani after work hour. Karena sudah janji, saya meminta adek saya mengantar sampe pintu 2 trus dari situ bisa langsung sekali angkot. Hujan-hujanan.

Pas sampai di tempat janjian, K lined me. He asked me where I was. Setelah kuberitahu, dia bilang bakalan jemput kalo saya mau balik ke rumah. Kujawab, oke. 

At 9:15 p.m, I lined K that I was about to go back home. An hour later, he arrived. Rain was still falling cat and dog. His red t-shirt, brown trousers and his shoes were wet all over his body. 

And he said that it was impossible for him to take me home with his motorcycle due to the bad weather.

“You’re going to be sick,” he thought.

“No, I’m not”, I said. 

“Please take me home now. It’s been late at night”, 

“Listen. You’re going to take the taxi home.”

“No! I want to go home with you”-

“No way! It’s raining!” 

“It’s okay, I got my jacket here. It covers me enough”-

“No. Wait here, I’ll find you a taxi”

“No, you won’t”

Dan akhirnya adu argumen itu diakhiri dengan kita menembus hujan as I wished. 
“You are such a stone, Riana”,-

“I am sorry”, 

“It’s okay. Let’s find a raincoat for you” 

RI

Standard
Puisi

Membakar Mimpi

rasa takut membakar mimpi
matamu redup
tak lagi kulihat kerlip cahaya disana
yang biasanya memantulkan bayangan wajahku yang bahagia
sehabis menangkap lengkung senyum di bibirmu

apa yang kau khawatirkan, sayang?

katamu dengan datar,
‘aku ingin pergi’
sepersekian detik aku menunggu
kau tak jua melanjutkannya dengan penjelasan

‘kini apa yang salah?’

tak kutanyakan pula perihal penyebabnya
aku hanya menuntunmu
membantu mengepak pakaian, buku-buku,
dan setiap keping kenangan yang ada padanya
aku menangis tapi kesedihanku raup oleh ketakutan

mulutku tertutup
pikiranku liar
hatiku perih dan pedih
mataku kering

derik pintu
membahana
menutup
cahaya mataku
sirna
aku berdiri menyaksikan langkahmu tak henti di ujung mimpiku

kusadari kaulah ketakutanku
kau pula yang membakar mimpiku
lalu pergi begitu saja
seperti asap
yang tak kenal api mana dia berasal

Standard
Personal

Pohon

Saat masih di Jakarta, saya pernah membeli dua buku catatan kecil. Satunya bergambar balon, satunya bergambar pohon. Buku balon saya beri ke sahabat saya, Rahma, saat dia berulang tahun. Buku pohon nya saya gunakan menulis catatan harian. 

Tadi siang saya menemukan buku pohon itu saat merapikan kamar dan laci lemari. Banyak sekali ternyata barang-barang yang sudah tersimpan disitu sejak lama dan tak pernah disentuh lagi. Salah satunya buku itu. 

Jadi saya membukanya dan kenangan membanjiri kepalaku begitu saja tanpa permisi. Halaman-halaman buku catatan itu rupanya saya tujukan untuk Kak Aan. 

Rawamangun, 18 April 2013

Dear Kak Aan,

Menurutmu bagaimana cara yang paling baik menghabiskan suatu sore berhujan seperti sore ini?

Enam tahun silam, saat saya hendak belajar ke Amerika selama dua bulan, Kak Aan memberi saya buku catatan bertuliskan Truth di sampulnya. Buku itu dimaksudkan agar saya menulis hal-hal yang menarik yang terjadi selama saya disana. Dan saat kami bertemu kembali, saya bisa bercerita kembali padanya, melalui buku catatan itu. 

Tapi, buku dan isinya itu tak pernah sampai padanya. 

Jadi saat saya melihat buku catatan kecil itu, saya berpikir, mungkin saya bisa menulis untuknya kembali. Saat itu saya di Jakarta dan sempat berkunjung ke China selama beberapa hari. Kemudian, jadilah saya menulis tentang hari-hariku di Jakarta dan tentang perjalanan singkat di China di buku itu. 

Dan tentu saja buku itu belum juga sampai pada Kak Aan. 

RI

Standard
Personal

Back to Basic

So i’m officially quit my job in Briton and back to basic or you may called pengangguran. 

It’s been 2 weeks actually.

I planned to go to Immigration this morning but I woke up late. So maybe tomorrow. Today, I want to finish The Girl on the Train by Paula Hawkins, wash my clothes, cook, eat, watch some episodes of House, and study. 

And I hope today ends soon before I know it. 

RI

Standard
Personal, Puisi

Mungkin 

: Akbar Baharsyah

mungkin semuanya hanya khayalan.

kau tidak mencintaiku,

aku pun tidak menyayangimu.

semua hanya ilusi.

tetapi debaran adalah jembatan antara ilusi dan kenyataan.

bukan cuma debar detak jantungku.

bagaimana dengan kegelian di perut?

juga rasa gugup yang susah disembunyikan,

dan kebahagiaan yang membuat dadaku ingin meledak.

semuanya nyata

bukan kiasan

bukan metafor

di bagian otak manapun yang mengatur aku bisa jatuh cinta padamu,

terima kasih.
debaran dan seluruh yang ingin meledak dari tubuhku 

disebabkan karenamu, sayang.

RI

Standard
Personal

Unfair

Di perjalanan pulang ke rumah dari Sinjai tadi, saya membaca petikan kalimat dari cerita Felix Siauw di beranda Facebook saya. 
Bunyinya begini: 

Wajar bila mereka merasa dunia tidak adil, karena materi jadi penanda sukses. 

Dan saya langsung berhenti membaca dan lantas berpikir. Kalimatnya benar. Dunia ini pasti akan terasa sangat tidak adil kalau kita menilai sukses itu dari seberapa banyak harta yang bisa kau hasilkan dalam hidupmu. 

Kenapa bukan dari misalnya: kebahagiaan? 

Maksudku, demi Allah, saya tidak punya apapun saat ini. Bahkan jika ingin kemana-mana, saya masih bergantung dengan ojek dan angkot. Adekku malah sudah bawa motor ke kampusnya. I own nothing. Which ones would say I’m not successful yet. 
But For Godsake, I’m happy. I’m happy I want to cry. And I’m thankful. And I want to say that in this case, I’m a successful one. I can make myself happy and that worths a world. 

Saya bahagia dan saya bersyukur Tuhan. Sebab saya aman, saya sehat dan saya bisa makan. Hahaha. 
Dan barusan keluargaku kumpuuul dan bahagia. Dan K, my love of my life, baru menelpon sampai dua jam saking rindunya gak telponan hampir seminggu. 

Dan sebab itu ya Allah, saya merasa sudah di zona nyamanku yang susah sekali kutinggalkan. But I have to. 

RI

Standard