Penyabar

Kadang saya butuh jarak dengan Eshan. Meski cuma 10-15 menit.

Saya bukan orang yang sabaran. Menikah dengan Lam membuatku latihan sabar terus-menerus. Memiliki Eshan membuat latihanku makin ketat.

Bersabar, bersabar, bersabar.

Sungguh orang yang sabar itu adalah yang kuat. Lepas kontrol itu gampang, mudah, lemah.

Kadang mendengar Eshan menangis sepanjang hari membuatku frustasi. Belum lagi memikirkan beban kerja yang banyak dan rumah yang berantakan. Menjaga Eshan adalah sesuatu yang tidak bisa diprediksi, sedangkan aku adalah orang yang suka keteraturan.

Sungguh hanya sabar kuncinya.

Saya harus lebih banyak berlatih.

Ri

Should I Give Up This Job?

Jika Eshan tidur seperti saat ini, rumah benar-benar sepi. Sudah pukul 21.30 malam dan Lam masih di kantor. Rumah sangat diam dan inilah yang kubutuhkan, ketenangan dan waktu untuk menulis.

Jika Eshan terjaga, saya tak bisa melakukan apapun selain menjaganya, menyusui, mengurusnya. Bahkan untuk buang air di kamar mandi pun penuh drama teriakan tangis dan airmata.

Pekerjaan di sekolah menggunung karena pekan depan sudah terima rapot. Banyak sekali yang belum kuselesaikan. Senin besok mustinya saya ke sekolah, pertemuan dengan rekan guru. Tapi ya ampun, meninggalkan anakku 3-4 jam rasanya berat sekali, tak ada juga yang menjaganya, jadi sepertinya saya ijin.

Saya beberapa kali bertanya-tanya pada diriku, “Should I give up this job and choosing to take care of Eshan anyway?”

Lam bilang, dia tak mau memaksa apapun padaku. Keputusan itu sepenuhnya ada di tanganku.

Bagaimana perempuan bekerja sambil mengurus anaknya? Sedangkan mengurus anak itu adalah pekerjaan 24 jam sehari?

Tuhan, terserah padamu saja, Tuhan. Saya pasrah. Rasanya saya terlalu serakah jika menginginkan karir dan anak berjalan lancar. Saya juga terlalu egois pada anak saya jika memilih tetap bekerja. Sebab betapa enaknya punya penghasilan sendiri tanpa harus meminta pada suami.

Tapi apapun yang terjadi besok, saya harus tetap semangat menjalani keduanya, sampai benar-benar tak sanggup lagi.

Anyway, besok Eshan sudah 3 bulan. Time runs really fast.

Ri

Bilirubin

Malam ini untuk pertama kali sejak Eshan lahir di Jumat 20 Maret pekan lalu, saya tidur tanpa dia di sampingku.

Hari ini jadwal saya kontrol setelah operasi SC. Saya membawa serta Eshan kontrol ke dokter anak, lebih cepat empat hari dari jadwal kontrolnya. Itu karena di hari ke-7, badannya nampak makin kuning.

Darahnya diambil dan dicek di laboratorium. Dan hasilnya menunjukkan kalau bilirubin nya sangat tinggi. Jika kandungan bilirubin sangat tinggi pada bayi baru lahir, dia bisa-bisa kejang dan merusak tubuhnya. It scares the hell out of me.

Karena situasi di rumah sakit Pasar Minggu amat tidak kondusif (rumah sakit ini dijadikan pemeriksaan pasien Covid-19), saya akhirnya pulang tanpa membawa Eshan ke IGD untuk disinar.

Begitu suami tiba di rumah, dan tahu kondisi Eshan, dia lari mencari rumah sakit yang bisa merawat bayi dengan bilirubin tinggi. Perawatannya adalah fototerapi. Kami menggunakan BPJS dan rumah sakit dengan fototerapi yang menerima BPJS di dekat rumah adalah Siloam Asri.

Begitu Lam selesai mengurus administrasi pendaftaran, dia pulang ke rumah. Dia menjelaskan situasinya padaku, bahwa Eshan kemungkinan besar akan dirawat inap dan harus ditinggal beberapa hari. Kami juga harus menyerah dan memberinya susu formula selain ASI. Begitu tahu hal itu, saya menangis sambil menggendong Eshan yang tertidur. Begitu berat rasanya. Anakku yang baru berumur seminggu harus kurelakan dirawat di rumah sakit sendirian.

Jadi setelah akhirnya suami memberi pemahaman dan menguat-nguatkanku, saya melap airmata dan memutuskan menjadi tabah.

Begitu sampai di rumah sakit pukul 10 malam, Eshan rewel minta ASI, tapi tak setetes pun bisa keluar setelah kupompa. Dia juga menolak kususui langsung. Dia menangis hingga akhirnya tertidur.

Pukul 11 malam, dia masuk ke Kamar Bayi dan disiapkan untuk disinar. ASI ku mulai kupompa lagi dan alhamdulillah bisa keluar. Dia minum dari botol. Perawat juga membantu biar Eshan bisa kususui langsung.

Lam di luar keliling mencari susu formula untuk Eshan. Dengan bantuan farmasi rumah sakit, susunya bisa didapat.

Pukul 2 malam saya dan Lam pulang. Saya tidak berhenti menangis. Malam itu hingga esok paginya, separuh jiwa dan separuh tubuhku rasanya hilang. Saya tidak ingat pernah merasa sesedih itu. Saya berdoa dan berdoa agar dikuatkan, agar Eshan dikuatkan, agar Eshan dilindungi, agar Eshan segera kembali ke pelukanku.

Parenting is all about letting go things we can’t control and focus on things we can control.

RI

Observation Room

Jakarta, 19 Maret 2020

Dokter Juni melepas sarung tangan dan berkata pada suamiku dengan nada yang nyaris datar, “operasi besok ya Pak”.

Saya tau Lam panik dan bingung. Kami berdua tidak ada pikiran sama sekali tidak ada persiapan sama sekali mendengar kalimat itu dari dokter obgyn.

“Bayinya bukan cuma sungsang tapi ketubannya juga sudah sedikit. Kita tes detak jantung bayi dulu ya, kalau bagus operasinya bisa besok”, dokter melanjutkan.

Dan disinilah saya, Ruang Observasi. Lam pulang mengambil barang-barang kebutuhan bayi dan kebutuhanku. Mama Bapak dan mertua di Makassar sudah dikabari dan mereka insya Allah akan tiba nanti malam.

Sample darahku diambil, saya diinfus dan tadi juga sudah dites jantung.

Besok insya Allah. 20 Maret 2020.

Tadi sebelum Lam pergi, kami berpelukan dan saya menciumnya sambil minta maaf. Dia menangis terharu. Ini anak pertama kami.

Tiada daya dan upaya selain dari Allah SWT.

Bismillah.

Ri

Covid-19

Nak,

Mama mengandungmu disaat outbreak virus Covid-19 merebak di seluruh dunia.

Di Jakarta, tempat kita tinggal bersama Papa di sebuah rumah kontrakan kecil di selatan, juga ikut resah.

Hari ini, siswa-siswi di sekolah tempat Mama bekerja, mulai diliburkan hingga 2 pekan ke depan. Namun Mama tetap masuk setengah hari. Sedangkan Papa, harus tetap masuk seperti biasa.

Sekolah-sekolah diminta agar siswanya belajar dari rumah (learn from home). Beberapa perusahaan juga meminta karyawannya bekerja dari rumah. Pemerintah mengeluarkan kebijakan agar semua kegiatan yang mengumpulkan banyak orang agar ditunda atau dibatalkan; seperti konser musik, bazaar hingga pertandingan olahraga. Transportasi umum dibatasi. Harga masker dan hand sanitizer melambung. Masyarakat panik dan mulai menyetok bahan makanan.

Apakah Mama dan Papa khawatir? Tentu. Tapi kami tidak panik. Kami hanya bisa melakukan anjuran-anjuran menjaga kebersihan dan merawat agar tubuh tetap sehat. Akhir pekan kami di rumah saja, dan weekdays kami hanya berputar rumah-kantor. Jalanan mulai sepi.

Mama khawatir karena kamu masih di dalam perut Mama, Nak. Apa yang terjadi denganku, akan mempengaruhimu. Mama senantiasa berdoa pada Tuhan agar dilindungi, agar kau dilindungi, agar Papa dilindungi. Karena tiada daya dan upaya melainkan dari Allah saja.

Apa yang akan terjadi esok dengan virus ini, kapan ia akan berhenti, tidak ada yang tahu selain Tuhan.

Sayang, ini sudah 35 weeks kita. Sebentar lagi, insya Allah.

Ri

Bersama Berdua

Nak,

Minggu pagi ini kita ke GBK untuk sekedar jalan kaki berdua. Papa mu juga ikut karena mau mencoba menerbangkan drone nya yang baru saja selesai diperbaiki.

Jalan kaki kita sebentar saja, satu kali mengitari stadion bagian luar.

Sepertinya saya kena wasir. Ada tonjolan kecil yang keluar dan rasanya tidak nyaman jika sedang berjalan. Saya berusaha memasukkannya lagi. Saat saya cerita ke Nenek di Makassar, Nenek sarankan untuk minum prebiotik dan duduk di atas batu yang keras.

Kau menendang sisi perut kananku.

Saya sudah terapi sujud dan menungging setiap malam dan setelah solat subuh, Nak, diawasi Papamu. Semoga USG selanjutnya kepala kamu sudah bisa ke panggulku di bawah.

Sekarang saya duduk di bawah pohon sambil menulis ini. Papamu ada di seberang masih mengutak-atik drone nya yang kelihatannya belum terbang. Setelah ini, setelah menulis ini dan minum dan istirahat sejenak, saya akan menyusulnya. Jalan kakinya cukup sekian ya. Mari kita cari sarapan. Mungkin kamu sudah lapar jadi menggeliat tidak karuan di dalam perutku.

Anakku, sayangku, semoga Allah SWT senantiasa melindungimu.

Ri

34weekspregnant

Sungsang

Nak,

Kemarin Papa cuti sehari untuk menemaniku kontrol USG memasuki bulan ke-8 kehamilan. Paginya kami menuju RSUD Pasar Minggu untuk kontrol di dr. Netty. Sampai disana ternyata dokternya sudah tidak bekerja disana lagi.

Dan karena di rumah sakit itu tidak bisa USG 4D, kami pun akhirnya mencari klinik lain. Saya sebenarnya gelisah juga memikirkan murid-muridku di sekolah karena saya cuma ijin datang telat.

Setelah menelusuri laman pencarian, kami sepakat untuk ke Klinik Rebo yang kebetulan searah dengan sekolahku. Waktu itu sudah hampir pukul 10pagi.

Sampai disana, oleh satpam, kita diberitahu ternyata kalau mau USG harus kontak janjian dulu dengan dokternya. Dia menyarankan kami untuk ke klinik Budhi Pratama di Gedong, klinik yang tidak jauh dari situ.

Sampai di Budhi Pratama, saya tanya apa bisa USG 4D? Biayanya berapa? Dengan dokter siapa? Perawatnya memberi info bahwa dr. Ulul Albab, SpOG yang praktik disitu tapi mulai pukul 5 sore. Setelah daftar pasien umum, saya pun ke sekolah dulu nanti pas pulang baru ke klinik itu lagi. Sedangkan suami pulang dulu ke rumah sambil menunggu saya pulang.

Pukul 5.15 sore, saya sudah di klinik. Papamu masih dalam perjalanan. Perawat menginformasikan kalau dokternya agak telat dan akan mulai praktik selepas magrib.

Dengan lelahnya saya duduk di sofa sambil menunggu Papamu datang. Dia muncul tak lama setelah saya duduk. Dia menawarkan biar kita makan malam dulu di warung Makassar di dekat situ.

Selesai makan dan solat magrib, kami kembali ke klinik dan duduk dipanggil giliran kami.

Saat masuk ruangan pemeriksaan, dokter langsung meminta saya berbaring untuk disiapkan USG. Baru saja dia melihat layar yang menunjukkan dirimu, Nak, dia langsung bilang, “Sungsang ini”,

Hanya saja, tidak seperti yang saya harapkan, dokternya tidak menjelaskan secara detail. Posisimu bagaimanakah, bagian apa yang dia ukur di layar, bagian tubuhmu baik-baik sajakah. Saya tidak begitu nyaman. Dari dokter itu, kami jadi tau kalau beratmu sudah 2,4 kilogram dan sehat sehat saja di dalam sana, alhamdulillah.

Jadi kami gagal melihatmu dalam 4D karena posisi sungsang.

Dokter menyarankan saya untuk terapi sujud atau banyak nungging, biar posisimu bisa berubah.

Semoga Allah SWT senantiasa menjagamu Nak. Sampai jumpa segera! Insya Allah!

Ri

33 weeks

Supplements

Nak,

Ini suplemen yang harus kuminum di minggu ke-30 kehamilan. Ada asam folat, vitamin C, penambah darah dan kalsium. Bidan di puskesmas bilang, di kunjunganku berikutnya, saya harus tes darah dan urin lengkap lagi dan supaya hasilnya bagus, saya harus memperhatikan asupan gizi dan suplemen-suplemen ini masuk ke tubuhku.

Lutut kananku nyeri tiap kali saya harus berdiri. Frekuensi keinginan buang air kecil makin sering. Pantyliner akhirnya jadi penyelamat pakaian dalam karena saya pun sering keputihan. Suamiku terpaksa memijit kaki dan punggungku tiap malam agar saya bisa tertidur.

Kuceritakan ini padamu disini agar suatu saat saya pun bisa mengenang saat-saat mengandungmu. Karena ingatan begitu lemah tertimpa peristiwa-peristiwa lainnya.

Sebentar lagi, Nak. Semoga Allah SWT senantiasa melindungimu dan melindungiku.

Ri

Third Trimester

Nak,

di minggu ke-30 ini, saya mulai khawatir dan juga excited menghitung pekan-pekan kelahiranmu. Di satu sisi, saya gelisah apakah saya akan kuat melahirkan normal atau tidak. Disisi lain, saya juga begitu tak sabar ingin mendekapmu di kedua lenganku.

Hanya Allah SWT yang tahu segala-galanya, yakinlah itu, Nak. Hanya Dia lah yang Maha Tahu.

6pekan ditambah beberapa pekan lagi, Nak. Insya Allah, jika Tuhan berkehendak. Saya tahu kegelisahan ini harus kuredakan dengan banyak-banyak berdoa dan bermunajat pada Penguasa Langit dan Bumi.

Doa-doa selalu membuatku lebih kuat dan lebih berpasrah.

Senin besok kita berkunjung lagi ke puskesmas. Beratku baru bertambah 6 kilo dari awal hingga sekarang. Itu dibawah rata-rata. Mustinya minimal 8 kilo. Saya berharap kau sehat, terlindungi dari apapun. I pray to God for it.

Ya Tuhan, berikanlah saya kekuatan.

Ri

Cepat Pulang

Setiap malam setiap kali saya sendirian menunggumu, saya berharap satu kali kamu bisa menghentikan apapun yang kau kerjakan di kantor saat itu, mengecek jam dan segera berlari pulang ke rumah.

Bukannya saya melarangmu bekerja, hanya saja, rasanya lebih nyaman menikmati kehamilan yang semakin tua ini bersama seseorang yang sedekat denyut jantung.

Tapi kau tidak suka setiap kali kau sampai di rumah lantas kutanyakan, “kenapa lama sekali pulangnya?”

Ri