Suara

Saya suka betul dengan suaranya Akbar di telepon. Suaranya adalah satu hal yang saya rindukan saat ini, saat-saat dimana saya dan dia tidak berada dalam satu kota, lalu tempatnya tak memiliki sinyal telepon yang bagus. Sehingga, percakapan telepon hanya berlangsung seminggu sekali. Sejauh ini setiap Kamis malam.

Masih untung ada wifi. Jadi masih bisa bertukar pesan lewat LINE.

Tapi tetap saja, chat berbeda dengan telepon. Saya tak bisa mendengar suaranya dalam pesan teks.

Tadi malam, kami bertelepon setelah saya mendesaknya meneleponku. Saat itu dia chat, “aku lagi antar pasien ke RS. Pulang dari sini kutelpon ya”.

Empat puluh menit setelahnya teleponku berdering dan kami mengobrol selama sejam.

“Saya hampir lupa suaramu”, kataku.

Setelah menutup telepon, saya baru menyadari betapa saya merindukan dan menyukai suaranya. Entahlah, mungkin karena saya cinta atau apa. Suaranya khas, menenangkan dan nyaman di telingaku. Suaranya membuatku betah menempelkan telepon di telinga, membuatku tak ingin mengakhiri obrolan. Membuatku selalu ingin memberitahunya “aku sayang padamu“, lalu dia akan mengatakan hal yang sama belasan kali sebelum akhirnya menutup telepon.

Ri

Advertisements

Moodnya Bagus

postingan ini akan menggunakan aksen Makassar. 

Bagus sede moodnya K- my boyfie- belakangan ini. Rajinki menelpon lepas makan malam. Trus belum pernahpi absen kasi bangunka sahur. Well, semalam nda dihitung karena dia saja sahur di ruang operasi. Tapi ini baru ji juga iyya hari keberapa ramadhan dan dia juga baruji mulai masuk stase anastesi jadi mungkin belum terlalu sibuk. Nanti diliat besok-besok.

Tapi suka ka kalo dia begini. Jadi ingatka jaman-jamannya dia pedekate. Hahahaha. Indahnya dunia kalau cowok treat ceweknya sama pas pedekate dan pas sudah bareng. 

Buat cewek-cewek, janganki manja. Cowok biasanya nda suka kalo dia ditanya, “kenapa ndak berkabar?” “Kenapa nda dibalas smsku?” “Kenapaki nda menelpon?” 

sabar saja. nanti kalo dia punya waktu, dia hubungi jki itu. trus dia jelaskanmi kenapa baru berkabar. biasanya masuk akalji. misalnya sibukki selamatkan pasien di ruang operasi. atau ketiduranki pulang jaga malam nda tidur 20 jam. 

Deh masa masih bisaki marah kalo dia bilang begitu? jadi ya begitulah resikonya, sabar saja. tapi kalau kelewatanmi, bisa jaki juga ngomel-ngomel sedikit. setidaknya toh, dia tau apa yang kita nda suka. tapi janmi menuntut dan berharap terlalu banyak. 

saya sayangki, K. 
RI

Moon’s Tale

Kisah Moon

Tadi malam saat bertelponan dengan K, dia cerita tentang Kisah Moon. Moon itu boneka yang dia kasih ke aku. Boneka karakter LINE, tau kan?

K kasih Moon ke aku pas dia jemput aku dari kantor. Gak seperti biasanya, malam itu dia bawa tas ransel gede banget dan pas aku tanya mau kemana, dia gak jawab jelas. Akhirnya karena aku nanya-nanya dia terus, dia akhirnya nyerah dan bilang sebenarnya dia mau ngasih aku sesuatu. Dan karna aku gak bisa penasaran lama-lama, akhirnya di Arumdalu, tempat makan langganan kita, dia kasih keluar bonekanya.

“Boneka??”
“Iya”,

Tadi malam K cerita, boneka putih itu sudah lama dia simpan di kamarnya di asrama. Boneka itu sebenarnya hadiah beli handphone windows punya Abahnya. Pas K sarankan bonekanya dikasih ke Dita, adiknya, Abahnya malah bilang gak usah.

“Gak usah kasih ke Dita. Kamu simpan aja nanti dikasih ke pacar kamu”,

Waktu itu K belum punya siapa-siapa buat dikasihin boneka. Jadi dia mutusin untuk tetap simpan boneka itu dan menunggu seseorang yang akan jadi pemilik Moon berikutnya.

Which is finally, he handed it to me.

“Moon itu sudah lama kusimpan. Kupikir nanti mau kukasih ke perempuan yang tepat”,

Which is unpredictably, ME.

Itu cuma boneka sih, iya. Tapi hahaha, rasanya karena disimpan dalam kotaknya lengkap, dan dijagain, dan akhirnya dikasih ke aku, jadinya malah more than just a doll.

RI

Attraction

Maybe some of you still wonder, why do I like K? What attracts me most about him? Well, you know, that question also always comes up in my mind. 
FYI, he is not attractive, at all. Well, physically. He has black skin: typical East people, he is plumpy with big stomach, he is taller than me, his body is covered by hair. 

But he has this smile that could melt my heart, he has this kind of staring that could paralyze my eyes. He has a very big heart that he can use to love me and accept all my flaws. 
He came into my house couple hours ago and brought me a bouquet of pink roses! I super loveeed it, I couldn’t stop smiling!
He surprised me a looot. 
And those are his most charming-attraction that attracts most. 

And I haven’t told you about his brain. 
RI 

Butterflies

“Kita telah saling menemukan tanpa pernah merasa saling mencari” -RI

Dear My Significant Other,

Kau mungkin suka lesung di pipiku yang setelah kita hitung bersama, ada lima. Kau mungkin suka saat aku tersenyum. Kau suka saat aku bercerita dengan penuh semangat tentang apa yang terjadi dengan murid-muridku di sekolah. Kau suka memandangku saat sedang makan. Kau suka saat aku bertanya. Kau mungkin punya puluhan hal lain yang kau suka dariku.

Menyayangi seseorang itu kuyakini butuh alasan. Tapi seberapa sering pun aku meneriakkan alasan itu dalam kepalaku, rasanya tetap tidak masuk akal. 

Aku suka suaramu. Aku suka saat aku merasa menjadi begitu bodoh saat ngobrol denganmu. Aku suka saat kau tersenyum dan berkata “hey” di chat line ataupun saat kita bertemu. Aku suka tatapanmu padaku. Aku suka saat kau menulis segalanya tentang aku dan kita di blog pribadimu, yang kelihatannya, cuma aku pembacanya. Aku suka dirimu yang begitu sabar dan penyayang dan percaya padaku. 
Kau adalah alasan mengapa kupu-kupu beterbangan di dalam perutku, yang seringkali kau pertanyakan.

“I don’t know what is butterfly in your belly”, you said.

“You never feel it? Oh, you might never fall in love! Even with me”, I said.

“Why do you say that? Do you know? I might never feel it but I know I fall for you since my heartbeat beats fast when you are around, when I think of you!”, 

And then I smiled. 
I might be crazy but that’s how I feel and that’ okay. 
RI

Jarak Dengan-Mu

Ada saat dimana menghubungimu adalah suatu kewajiban. Saat itu, aku akan melakukannya dengan penuh keengganan. Aku benci jarak, bahkan jika itu hanya berbeda seinci.

Tapi Tuhan, belakangan aku sadar. Satu-satunya jarak yang harus kumusnahkan adalah jarak kita berdua. Aku bisa saja melakukannya agar kita menjadi sedekat urat nadi. Agar apapun keinginan yang kubisikkan mampu kau dekap, bisa kau peluk.

Tapi jika aku melakukannya agar aku bahagia, bukankah kedengarannya begitu egois?

Apakah berspasi dan berjarak denganmu itu perlu? Apakah rindu baru akan tercipta saat ada jarak?

Aku ingin melakukannya tanpa merasa HARUS melakukannya. Aku ingin menghubungimu, bercakap denganmu karena aku MEMANG merasa bahagia saat melakukannya. Aku ingin merindukanmu seperti saat aku merindukan dekapan seseorang yang begitu kucinta.

RI