Moon’s Tale

Kisah Moon

Tadi malam saat bertelponan dengan K, dia cerita tentang Kisah Moon. Moon itu boneka yang dia kasih ke aku. Boneka karakter LINE, tau kan?

K kasih Moon ke aku pas dia jemput aku dari kantor. Gak seperti biasanya, malam itu dia bawa tas ransel gede banget dan pas aku tanya mau kemana, dia gak jawab jelas. Akhirnya karena aku nanya-nanya dia terus, dia akhirnya nyerah dan bilang sebenarnya dia mau ngasih aku sesuatu. Dan karna aku gak bisa penasaran lama-lama, akhirnya di Arumdalu, tempat makan langganan kita, dia kasih keluar bonekanya.

“Boneka??”
“Iya”,

Tadi malam K cerita, boneka putih itu sudah lama dia simpan di kamarnya di asrama. Boneka itu sebenarnya hadiah beli handphone windows punya Abahnya. Pas K sarankan bonekanya dikasih ke Dita, adiknya, Abahnya malah bilang gak usah.

“Gak usah kasih ke Dita. Kamu simpan aja nanti dikasih ke pacar kamu”,

Waktu itu K belum punya siapa-siapa buat dikasihin boneka. Jadi dia mutusin untuk tetap simpan boneka itu dan menunggu seseorang yang akan jadi pemilik Moon berikutnya.

Which is finally, he handed it to me.

“Moon itu sudah lama kusimpan. Kupikir nanti mau kukasih ke perempuan yang tepat”,

Which is unpredictably, ME.

Itu cuma boneka sih, iya. Tapi hahaha, rasanya karena disimpan dalam kotaknya lengkap, dan dijagain, dan akhirnya dikasih ke aku, jadinya malah more than just a doll.

RI

Advertisements

Jarak Dengan-Mu

Ada saat dimana menghubungimu adalah suatu kewajiban. Saat itu, aku akan melakukannya dengan penuh keengganan. Aku benci jarak, bahkan jika itu hanya berbeda seinci.

Tapi Tuhan, belakangan aku sadar. Satu-satunya jarak yang harus kumusnahkan adalah jarak kita berdua. Aku bisa saja melakukannya agar kita menjadi sedekat urat nadi. Agar apapun keinginan yang kubisikkan mampu kau dekap, bisa kau peluk.

Tapi jika aku melakukannya agar aku bahagia, bukankah kedengarannya begitu egois?

Apakah berspasi dan berjarak denganmu itu perlu? Apakah rindu baru akan tercipta saat ada jarak?

Aku ingin melakukannya tanpa merasa HARUS melakukannya. Aku ingin menghubungimu, bercakap denganmu karena aku MEMANG merasa bahagia saat melakukannya. Aku ingin merindukanmu seperti saat aku merindukan dekapan seseorang yang begitu kucinta.

RI

Anak Rindu

Jarak dan cinta melahirkan rindu.
Begitu kata orang yang lalu kau
ulang-ulangi padaku di telepon.
Kubilang padamu,
Rinduku semakin besar terpelihara.
Semakin besar rinduku,
makin cantik dirimu,
makin besar inginku membenamkan wajahmu dalam dada.
makin segar wangi rambutmu
dalam ingatan pucuk hidungku.

Delapan tahun kita memelihara rindu,
tanpa pernah lagi saling bertemu.
Masihkah kau menganggapku masa depanmu,
Kekasihku?

RI

Menunggu Kiriman Badai

Untuk semua perasaan gundah yang dilahirkan rindu.
Aku cinta padamu.

Untuk setiap debaran hati yang kau buat terbang melayang,
kemudian dihempaskan dalam gelap.

Adakah yang lebih buruk daripada cinta yang tak terungkap?
Rinduku merana, dia tak terbalas.

Padahal telah kutitipkan pada badai hujan yang kau minta-minta sejak setahun lalu.

Setelah badai kembali, dia merusakku.
Sebab tak kau acuhkan ia.
Kau selalu mengira dalam badai hanya ada amarah.
Padahal telah kutitipkan seluruh nafas rinduku.
Hingga tercerabut habis dari ragaku.
Tak bersisa.

Sudahkah aku menulis bahwa aku cinta padamu?
Akan kutulis lagi sebab ini takkan kutitip lagi pada badai.

Kau lebih mencintai pelangi.

RI

Dunia Tanpa Senyummu

Malam ini saya membayangkan dunia tanpa senyummu.
Tak ada gairah, kaku dan renggang.
Seperti jari-jari tangan, seperti net raket bulu tangkis yang kehilangan genggaman.

Senyummu memeluk ingatanku erat untuk selalu mengingat wajahmu.
Wajahmu mengecup pelan debaran jantungku,
yang seringkali menerakan namamu.
Dan di setiap namamu ada kisah kita.

Di setiap kita ada ingatan, cinta dan masa depan.

Senyumanmu bukan kepura-puraan,
Bukan bahan basa basi,
Bukan kepalsuan.
Tiga hal yang dijadikan lebih penting bagi beberapa orang.

“Palsukan saja!”
“senyum itu sedekah loh”

Kau menunduk malu.
Tapi bukan malu-malu.

“Aku tak bisa hidup di dunia bahkan untuk sekedar satu senyuman saja harus dipalsukan”,

“cukup cintamu saja yang palsu. Rambutmu palsu, identitasmu palsu”.

“Tolong, jangan sampai senyummu pun ikut-ikut dipalsukan”

Sunshine

Longing My Productive Days

Gak ngapa-ngapain just stay at home during holiday season itu gak enak banget. Now I am longing my productive days!

Dengan kepedean luarbiasa saya yakin bakalan bisa dapat kerja dengan mudah pas balik ke Makassar. Tapi udah sebulan lebih gak bikin apa-apa disini dan hal itu bikin hati dan pikiran mampet. Alhasil di rumah bosen. Diajak jalan keluar juga rada males. Gak ada pergaulan lagi. Bebi dan Andromiro juga cuma dipake update social media. Dapet bbm tapi semuanya broadcast.

Yah. What should I do ya selain menunggu hidayah dan rejeki dari Allah. Semua udah diatur juga. Aku udah kirim aplikasi kerja ke beberapa companies tapi mungkin masih suasana libur jadi belum ada panggilan sampe sekarang.

Sabar aja.

Oh iya. Semalam aku mimpi mau nikah! Hahaha. Katanya kalo kita mimpi mau nikah kita itu mau meninggal. Kata adek, artinya aku mau sakit. Tapi aku kan memang udah sakit. Jadi gak tau mana yang bener.

Okay. Have a wonderful days everyone. Alhamdulillah masih bisa dapet period minggu ini. Masih ada waktu kumpul bareng keluarga juga di rumah tanpa kurang satupun.

Sunshine