Mati

Every living creature will eventually die.

Saat sakit begini, saya sering mengingat mati. Rasanya kematian sudah dekat untukku. 

Tapi Tuhan, saya belum menikah. Agamaku belum sempurna tanpa itu. Saya juga belum membahagiakan kedua orang tuaku. Mama sering bilang kalau saya adalah anaknya yang paling berdosa karena suka melawan. 

Kedua hal itu yang selalu kupikirkan setiap kali mengingat kematian. 

Saya mau hidup sederhana. Saya tidak suka bekerja di kantor. Saya mau jadi istri dan seorang ibu yang produktif. Saya mau punya suami yang sayang padaku, membawaku berlibur setiap bulan dan membuatku bahagia disampingnya. Saya mau anak-anak yang lucu. Bersama, kami akan bercanda, tertawa, makan dan bermain dengan gembira. 

Hidup seperti itu rasanya indah, Tuhan. Bisakah kau memberikanku hidup seperti itu sebelum aku mati? 

RI

Advertisements

Tetap Diam

Tetap Diam*
oleh Pablo Neruda

Sekarang kita akan berhitung hingga dua belas
dan jangan bergerak.

untuk sekali saja di atas wajah Bumi,
mari tak berbicara dalam bahasa apapun;
mari berhenti selama sedetik,
dan tidak menggerakkan tangan terlalu banyak.

ini adalah momen yang eksotis,
tanpa gegas, tanpa mesin-mesin;
kita semua akan berkumpul bersama
dalam keanehan yang mendadak.

Nelayan dalam lautan yang dingin
takkan menyakiti seekor paus
dan lelaki pengumpul garam
akan memandangi tangannya yang perih.

orang-orang yang menyiapkan perang-perang hijau,
perang dengan minyak gas, perang dengan api,
kemenangan tanpa korban-korban yang selamat,
akan mengenakan pakaian bersih
dan berjalan bersama saudara-saudara lelaki mereka
dalam bayang-bayang, dalam diam.

apa yang kuinginkan jangan disalahartikan
dengan kemalasan menyeluruh.
Hidup adalah tentang hidup itu sendiri;
Saya ingin tak ada truk kematian.

Jika saja kita tidak begitu bertekad
untuk membuat hidup terus berjalan,
dan kita bisa diam,
mungkin kesunyian yang dalam
mampu menunda kesedihan ini;
kesedihan akan ketidakpahaman diri sendiri
dan kesedihan akan ancaman kematian.

Mungkin dunia dapat mengajarkan kita,
seperti saat segalanya terlihat mati
dan kemudian hidup kembali.

Sekarang saya akan menghitung hingga dua belas,
kau akan diam dan aku akan pergi.

*diterjemahkan secara bebas dari puisi Pablo Neruda berjudul “Keeping Quiet”
RI

Goodbye

Goodbye, Bang Furqon.
Al-Fatihah

Kemarin pagi, saya menerima kabar mengejutkan. Kabar kematian salah satu teman reporter di Jakarta Utara. Reporter beritajakarta.com. Namanya Furqon. Aneh sekali, rasanya seperti mimpi. Dia meninggalkan dunia ini bertepatan dengan saya meninggalkan pos Jakarta Utara untuk kemudian pindah ke desk mingguan Dialog Jumat.

Bang Furqon itu salah satu teman reporter yang paling baik yang saya kenal. Dialah yang selalu saya tanya soal liputan, soal agenda Jakut, soal kontak-kontak narasumber, dan dia selalu membalas bbm, selalu menjawab pertanyaanku. He’s the kindest person.

Dia sempat dirawat di RS Persahabatan selama tiga minggu. Minggu keempat dia tidak muncul-muncul juga di Polres Utara, ternyata dia masuk kamar isolasi. Beberapa hari kemudian ada kabar kalau dia membaik. Namun, kemarin pagi, kabar kematiannya muncul di grup Pena Utara.

Kemarin, sepanjang jalan saya di Kopaja atau busway, atau metromini, tak pernah saya memikirkan yang lain selain mengenang-mengingat Bang Furqon. Hahaha, kami berdua sering sekali dijodoh-jodohkan. Tapi hal itu cuma membuat saya tertawa. Pertemanan antar reporter di utara itu kuat sekali, kita suka bercanda, bermain dan segala macam.

Bang Furqon ternyata sudah punya motor baru Satria Fu, namun belum disentuhnya. Motor lamanya, motor Honda, sering sekali rusak. Motor itu sering sekali dipakainya bekerja liputan dan saya selalu nebeng di motor itu.

Bang Furqon sering sekali mengirimi kita pantulan berita dengan subject ‘Yang Mau Ajah’. Sekarang, tak ada lagi email itu masuk ke inbox emailku.

Apa mau dikata, kematian tak bisa diduga, sungguh. Desi dan aku mengobrol di telepon selama dua jam tadi malam, mengobrolkan banyak sekali tentang Bang Furqon. Kupikir, kebaikan-kebaikannya akan selau diingat, dikenang. Selamat jalan, Bang. Semoga tenang disana.

Sunshine