I Want to Remember 

Saya ingin selalu mengingat kata-kata manis yang Akbar ucapkan padaku. I want to remember those sweet words. 
Misalnya malam ini, di salah satu chat, dia bilang “Happy 2nd anniversary, my love”.

Akbar jarang mengingat tanggal 20. Tapi malam ini, tahun kedua kami bersama, dia mengatakan beberapa hal. Saya ingin menulisnya agar saya bisa terus mengingatnya, supaya kata-kata itu kekal disini. 
“Kamu adalah salah satu hal yang paling baik yang Tuhan berikan, setelah Abah, Mama, Dita dan Bang. Kamu itu seperti malaikat buatku. Ada banyak perempuan yang saya temui, tapi tidak ada yang seindah kamu”. 

“Mungkin kamu tidak tau, atau tidak sadar, tapi kamu sudah banyak sekali bersabar denganku. Saya sangat tau, Ri, kalau tidak gampang jadi kamu, yang memilih buat tetap bersabar”.

“Terimakasih sayang untuk semuanya. Untuk semua cinta dan sayang”, 

Waktu menulis ini, airmataku tidak bisa kutahan. Saya menangis terharu. Saya merasa begitu dicintai dan diinginkan. Saya bahagia. Saya tahu mungkin kedengaran gampangan, tapi perempuan memang mudah tersentuh. Saya hanya tidak menyangka, ada Akbar, yang begitu sabar dan tabah memilih tetap disampingku, despite of my every flaws, against all my odds. He stays no matter what. Saya kadang jadi begitu temperamen, emotional, critical dan seringkali speak before think, bikin orang di sekitarku merasa risih. Dan banyaaaak kekurangan-kekuranganku yang lain, selain I am also not physically attractive. 

But he stays. No matter what. 

Semoga Allah SWT menghendaki kami berdua bisa sama-sama. Menikah, berkeluarga dan hidup bahagia bersama-sama. 
I love you, sayang. 
Ri

2 Years Ago

2 years ago today Akbar and I decided to be together.  
this has just been my longest ride with someone. 

the memories flooded. 

everything, every single moment.

a good and bad ones.

the laughters, jokes, the endless discussion, hugs, holding hands, sweet words, kisses, dining in a restaurant, watching movies, visiting bookstores, coffee shop, parents meetups, wedding attendees, caressing your hair in the backseat of the car. 

our fighting, jealousy, broken promises, tears and screaming in the middle of the night, lies and confession, sickness, failures, hours and hours of studying and working, boredom, exhaustion.
No one knows what’s ahead of us, but hopefully we can be together in the future, make a family, have children, live in a house, enjoy the holidays and trips. 
Insyaallah 

Ri

Sumber Kebahagiaan

Saya akhirnya memberitahu Akbar, kalau saya menjadikannya sebagai salah satu sumber bahagiaku. 
“So when something wrong happens with you, I’m unhappy”, I said. “Is it a good or bad thing?” I asked.

“It’s a good thing for me!Hahaha”, he replied.

“It’s a sign that you’re in love with me”,

Saya tahu kalau kita mustinya tidak boleh menaruh kebahagiaan kita pada hal-hal diluar diri kita. Makanya menurutku itu hal yang tidak bagus, saat membuat dia menjadi faktor yang bisa membuat saya bahagia atau tidak. 

“Tapi pasti hampir semua orang, Ri, menggantungkan kebahagiaannya pada orang-orang yang mereka sayangi. Karena kita ini makhluk sosial, kita bahagia karena orang lain”, 

Iya makanya cuma mau bilang itu. Kalau kamu itu salah satu hal yang bikin saya bisa bahagia atau sedih. 

“Yang membedakan adalah cara tiap-tiap orang menangani ketidakbahagiaannya, kekecewaannya pada orang lain. Dan sejauh ini, Ri, you did a great job handling me” 
“Pernah bahkan ada temenku yang diamuki pacarnya di UGD karena jarang kasih kabar. Tapi kamu, kalau saya telpon ndak pernah marah, kalau ketemu juga ndak nyebelin”,

Saat Akbar bercerita seperti itu, saya sadar tentang kebenaran sesuatu yang dikatakan Rasulullah SAW mengenai orang yang kuat. 

“yaitu orang yang mampu menahan emosinya saat dia sedang marah”,

“Kamu tangguh, Ri”,
Dan saya tau kenapa saya bisa sabar: karena saya cinta padamu. Ndak mungkin bisa sabar kalau ndak cinta begini. 

RI

Perubahan

Masa-masa awal pacaran dengan Akbar, dia boros sekali. He used to spend money without any second-thought. He was never in a “no money” situation. We used to meet and date every weekend. Hal itu terjadi hingga saya akhirnya menegur, “seandainya jumlah uang yang kita keluarkan tiap minggu buat jalan berdua ini ditabung selama setahun, kita bisa beli rumah. Seriously, you need to learn to save your money. Jangan terlalu boros”.

Dan akhirnya dia mulai menabung. 

Dia mulai menabung, mengumpulkan uangnya di botolan plastik. Setelah cukup banyak, dia membuka rekening bank sendiri. Setelah cukup banyak, dia mulai membeli barang-barang yang dia inginkan dengan tabungannya. Dia pake tabungannya buat jalan dan makan pas kita keluar bareng. 

Orang rumahnya terkejut karena dia berubah seperti itu. Mereka tak menyangka, Akbar bisa beli iPhone sendiri tanpa minta dibantu. Mereka tak tahu, bahkan sampai sekarang, kalau dia punya rekening pribadi, diluar rekening yang diberi keluarganya. 

Iya, dia memang belum bisa menyimpan uang hasil kerjanya sendiri. Tapi ini menjadi hal yang baik bukan? Dia lebih menghargai uang, dan susahnya bersabar. Memang sih, kita jadi jarang sekali keluar bareng, mungkin sebulan dua bulan sekali. Tapi it’s okay for me.

Dan dia selalu ingat, seperti malam ini, saat dia memberitahuku, betapa dulu dia boros. Lalu saya menegurnya dan menyuruhnya menabung. 

Saya senang bisa membawa dampak yang baik pada hidupnya. Saya bahagia bisa menjadi pendorong dan penyemangatnya untuk menjadi dirinya yang lebih baik. 

Semoga selamanya. 
RI

Hole

There’s a hole, a big hole in my chest. It’s open, hurtful and empty. 
I walk with that hole. I laugh, I walk, I eat and I pretend everything is alright while it’s not. 

We made it.

We hurt each other by words and by acts. 

And I hurt myself by hurting you.

RI

Akbar

Do we have a chance to be together like we always dream of?

Bulan ini Insya Allah jadi bulan terakhirnya co-ass. Dia hanya tinggal ujian Cardio dan IKM and it’s over. 
Hari-hari apa yang akan kami hadapi berikutnya? 

Rasanya waktu cepat sekali berlalu. Kami bertemu, saya bekerja, dia belajar.  Jika ada waktu kami keluar berkencan, nonton, makan malam. Kami bertengkar, bertelepon, menangis, marah, teriak-teriak lalu baikan lagi. Kami saling bersabar, ngambek, baikan lagi, ratusan kali bilang maaf, ratusan kali bilang terima kasih, ratusan kali bilang “aku sayang padamu”. 
Tadi kutelepon whatsapp dan dia bilang sedang mau menghadap ujian. Saya mau protes karena dia tidak berkabar seharian, tapi pas tau dia belum makan, protes saya raib. Bagaimana mungkin saya bisa marah dia tak mengirim pesan jika dia tak punya waktu hanya untuk makan?
Saya mungkin perempuan yang rasional. Saya selalu memakai pikiran dibandingkan perasaan saat berada dalam suatu hubungan sehingga saya selalu lebih menjadi pihak yang lebih pengertian. 

Mama lah yang mengajariku menjadi seperti itu. 

Saya: “Let me know kalau sudah pulang. Good luck sayang”.

RI

Get Up

Sakitku sudah berangsur-angsur membaik hari ini. Entah apa yang membuatku bangkit dan kembali  bersemangat. 

Hari ini banyak sekali kabar bahagia dari kawan-kawan dan saudaraku.

Isti’s tolobalango. 

Amel’s sweet 17 birthday will be held in PH Pettarani

….

And at the end of the day, Akbar called. He said sorry for being such a jerk lately. He promised to come in Amel’s day this Friday. I said thank you for making time. 

He said, “what I did can’t compare to what you did to me, Ri. You are just the kindest”.

It blew me away. 

I love you, thank you very much. 

RI