Recovery

Dear Ma,

Kiriman rendang dan telur asinmu sudah sampai. Sayang sekali, telur asinnya sudah pecah dan bau. Jadi aku cuma mengamankan rendangnya saja di kulkas, telurnya aku buang.

Dan aku juga telah membaca suratmu! Hahaha, nantilah aku balas juga dengan tulisan tanganku sendiri.
Ma, aku berdoa pada Tuhan, semoga kesusahanmu segera teratasi. Tuhan Maha Mendengar dan Maha Melihat. Dia juga telah berjanji takkan memberi hamba-Nya beban yang tak sanggup dipikulnya.

Oh ya, aku mau cerita. Malam kemarin, ternyata Rahma dan Brainwave datang menjagaku. Mereka tak mempedulikan jarak, menembus dingin dan kelamnya Jakarta menuju rumahku. Bayangkan Ma, Rahma rumahnya di Ciracas, Brainwave di Condet. Itu jauh sekali dari Priok! Tapi mereka tetap datang dengan motor.

Mereka lah hartaku disini, Ma. Aku sayang pada Rahma seperti pada Tya, aku pun juga sayang benar pada B.

Aku akan membiarkan semua kelucuan dan kekonyolan saat-saat mereka menjengukku untuk ingatanku saja, Ma. Hal itu benar-benar terlalu manis untuk dibagi.

Well, I am okay now, Ma. So, don’t be worry.

Sunshine

Sakit

Mama,

Akhirnya setelah nyaris tiga tahun, sakit itu muncul lagi. Di tengah malam, tanpa satupun yang bisa menemaniku melawan sakitnya.

Awalnya Mama, saya menangis seperti orang kesetanan. Tak tahu kenapa, tapi sakitnya sampai di ulu hati. Tak tahu apa sebabnya, ia datang menusuk-nusuk belakangku. Aku pasrah. Cuma bisa menelpon Tya, mengabarkan kondisiku sambil menangis dan megap-megap.

Ma, ternyata Tya menelpon Brainwave, yang lalu menelpon Rahma. Mereka katanya segera meluncur ke tempatku berada.

Waktu itu sudah pukul 11.00 malam, Ma. Aku tak mau merepotkan Rahma atau Brainwave. Aku harus bisa kuat. Brainwave suka kalau aku kuat.

Jadi, aku mulai berpikir rasional di tengah kepanikanku melawan sakit. Kaki dan tanganku dingin. Aku harus kuat, Ma, karena kau tak ada disini.

Akhirnya, aku duduk. Menenangkan diri, memikirkan hal lain. Membuka notifikasi grup bbm dari kantor. Beberapa menit kemudian, aku mulai baikan. Detik itu juga, aku menelpon Rahma, B, dan Tya, mengabarkan kondisiku, juga meminta mereka tak usah datang. Juga minta maaf sudah bikin panik.

Jadi sekarang aku baik-baik saja. Belakangku masih perih. Sekarang aku akan menyemprot kamar dengan obat anti nyamuk, matikan lampu dan tidur nyenyak layaknya putri. Besok liputan pagi, Ma. Doakan aku baik-baik saja ya, Ma. Aku rindu padamu.

Sunshine

Flood

Dear Ma,

Jakarta dikepung banjir. Sontak, semua media televisi, cetak, online dan radio punya headline yang sama. Banjir di Jakarta. Tiba-tiba ibukota ini layaknya wilayah perang dan bencana besar. Lumpuh. Semua warga yang rumahnya tidak terendam memilih mendekam di rumahnya. Warga yang tinggal di bantaran kali, muara atau danau terpaksa harus merelakan rumah dan harta bendanya dibabat air bah yang tingginya bisa mencapai empat meter. Ma, bisakah kau bayangkan anakmu menjadi saksi peristiwa besar ini?

Tadi dan kemarin, saya mengurus Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. Satu-satunya wilayah yang masih terendam disaat daerah Jakarta lain sudah kering. Rendaman air ini diperkirakan karena air pasang (rob), mengingat di sekitar Pluit ini adalah muara dan kali yang meluap.
And it was really frustrated and exhausted.

Saking lelahnya, aku menangis tertahan dalam perjalanan pulang di dalam busway.

Ma, begitu banyak hal yang kupikirkan dan semuanya melesak sakit di dadaku. Sakit yang kutahan sejak entah kapan kemudian berubah jadi airmata dan tangis. Tentu tak ada penumpang yang melihatku menangis, tak ada yang mendengar isak. Aku lelah, dan seorang bapak tua ketiduran, kepalanya sering sekali condong ke arahku, membuatku makin kesal.

Kupikir, sepi lah yang akan membunuhku, Ma. Kadang aku ingin kembali ke Jatiwaringin. Tapi, aku belum sebulan disini. Mungkin aku hanya perlu bersabar dan tabah. Lihat saja apa sebenarnya rencana Tuhan.

Ma, aku rindu padamu. Aku rindu rumah. Aku rindu Bapak. Aku rindu semua saudara-saudaraku, adik-adikku. Rasanya aku mau terbang dan ijin cuti sakit even it’s just for 3 days.

2 weeks later I am 24 years old! Haa, I am getting older, Maaa!

I hope when my contract’s over, I have found someone to live forever with. Seorang laki-laki yang menerimaku apa adanya. Seseorang yang sayangnya sama dengan sayangmu padaku, Ma.

Sunshine

Exile

Hey ho,
Saya tidak tau memulai postingan ini. Terlalu banyak hal yang numplek tiba-tiba di kepala.
Well, sudah hampir sebulan saya memulai hidup yang baru sendirian di sini, di Priok. Hari-hari yang kulalui hanyalah bangun, kerja, pulang, tidur. Diselingi mencuci pakaian setiap minggu. Kedengarannya membosankan, ya? Tapi kurasa, jika pekerjaanku jenis kantoran, pasti saya akan mati kebosanan. Justru karena pekerjaan yang saya lakukan setiap hari penuh warna, jadi aktivitas keseharianku tidak begitu buruk.

Dua minggu yang lalu, saya bersama tiga teman kerja saya, jalan-jalan ke Sukabumi. Kami mengunjungi Ujung Genteng, sebuah pantai di ujung pulau Jawa yang terkenal karena keindahannya. Perjalanan dua hari dua malam ditempuh dengan sepeda motor, membuatku merasa seperti Che Guavara dalam film Motorcycle Diaries.

Lalu, pekan lalu, Ilham balik dari Singapore, membawa sepaket coklat buruannya selama disana. Ahya juga sedang di Jakarta. Maka, kami, Cals Jakarta membuat pertemuan di Plaza Festival, daerah Kuningan, Jakarta Selatan.

Di hari itu, saya piket liputan uber Jokowi ke Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. Saat liputan itu, kartu pers ku jatuh dan hilang. Sorenya, saat menemani Rahma liputan di GOR Sunter, Hippotalamus- powerbankku- pun raib. Rasanya saya sudah mau nangis di GOR. Maka, saya pun ke Plaza Festival dengan setengah hati.

Cuaca dan lalu lintas juga tak mendukung. Sepanjang perjalanan hujan rintik dan macet.

Ternyata, Ahya tak jadi muncul. Padahal saya sudah bela-belai datang demi ketemu dia. Maksudku, dia satu-satunya Cals dari Makassar yang ada di Jakarta dan tidak stay dalam waktu lama.

Suasana pun jadi agak membosankan, tak ada yang seru untuk didengarkan. Tak ada cerita baru. Setelah tragedi ‘bbm brengsek’, pertemuan pun selesai. Kami pulang ke rumah masing-masing.

Back then, everything’s back to normal again. Cuaca buruk ini masih berlangsung hingga Maret. Means, berita banjir dan longsor akan tetap jadi headline berita media nasional.

Sunshine

Masak

Dear Mama,

Malam ini, sehabis pulang membeli persediaan makanan untuk seminggu ke depan, saya akhirnya masak nasi sendiri. Dan walaupun tiga perempat dari beras yang kutanak hangus, well, saya makan nasi yang putih itu, hampir meneteskan air mata.

Ma, dua minggu ini saya sudah tinggal sendirian. Mandiri. Dan saat belanja di supermarket tadi, saya diserang ingatan Tucson. Belanja untuk kebutuhan diri sendiri, dari beras, sayur, buah-buahan, memakai uangku sendiri. Rasanya saya telah menjadi pribadi seutuhnya, Mama.

Oleh karena itu, saya harus belajar mandiri. Bukan karena ini tahun yang baru, tapi karena saya merasa inilah saatnya.

Ma, tak usah memikirkan apa kata orang. Saya baik-baik saja disini. Kau tahu kan, saya akan mengatakannya jika saya memang kesusahan. Saya berjanji padamu.

Sunshine

Kota Ini

Dear Mama,

Aku sedang dalam perjalanan pulang ke Jatiwaringin dari Grogol. Kau pasti belum tahu itu sejauh apa. Itu kira-kira sejauh Pantai Losari ke Pangkep, kurang lebih.

Ma, apa kau tahu tadi kantor menyuruhku kemana? Ke tempat penjagalan babi di Kapuk, Jakarta Barat. Merebaknya isu bakso yang makin meresahkan membuat kantor merasa perlu untuk melakukan pantauan kesana, jadi dikirimlah aku kesana, sebagai utusan yang paling dekat dari lokasi.

Kau tahu aku sekarang di utara. Ke lokasi yang tidak pernah aku lihat sebelumnya itu, memerlukan waktu dua setengah jam. Dengan bekal tanya sana sini dan ditipu ojek sana sini, akhirnya sampailah aku di tempat itu. Dan tahukah kau betapa aku harus menahan untuk tidak marah saat manajernya bilang aku harus membawa surat izin dulu agar bisa wawancara, Ma? Kejam betul orang disana.

Tempat pemotongan babi itu, bau limbahnya menyengat sekali, Ma. Aku melihat babi di kandangnya, dan langsung menjauh. Saat aku mau pulang, aku merogoh kantongku dan sadar uangku tinggal 7ribu. Untung saja, metro mini cuma 2 ribu. Sebelum uang benar-benar habis, aku sudah tersesat di Roxy dan mendapat atm. Ah, ongkos pulang aman.

Ma, yang kurasa berat dari pekerjaan ini sungguh bukan saat menulis. Aku rasanya tidak perlu pusing dan memeras otak untuk itu. Perjalanannya lah yang melelahkan. Tapi aku juga tidak keberatan, sebab aku suka jalan-jalan ketimbang duduk di kantor dari pagi sampai malam dan satu-satunya hiburan hanyalah Twitter. Bagian terberatnya juga adalah menyikapi narasumber yang tidak kooperatif dengan wartawan.

Ma, mestinya bangsa yang besar adalah bangsa yang juga menghargai jasa wartawannya.

Hehe, doakan aku selalu ya, Mama sayang.

Sunshine

Pilihan

Saya pernah berpikir untuk bekerja di majalah fashion. Pertama, saya perempuan. Kedua, kupikir ritme kerja majalah cukup ringan. Ketiga, saya kuliah dan punya kemampuan di jurnalistik. Keempat, saya suka berpakaian cantik.

Tapi kemudian, well, Tuhan merestui di media harian nasional di Jakarta. Saya pun mulai menjalaninya. Dan dugaanku semula tepat, kerja di media multiplatform layaknya tempatku bekerja sekarang itu, butuh kekuatan layaknya seorang super woman. :))

Saya, sering sekali, kelelahan.

Kemudian, saya berpikir lagi, pengalaman yang akan saya dapatkan saat bekerja di majalah fashion dan di media harian yang beritanya hardnews, pasti berbeda.

Di majalah fashion, saya akan mengurusi tren fashion, gosip artis, beberapa tulisan features yang menginspirasi (yang itu-itu saja), events (yang pasti tentu keren) dan lingkungan pergaulannya mungkin berputar pada para sosialita fashion.

Saya tak akan mengurusi soal agenda walikota, masalah sampah yang menumpuk, waspada banjir, tingkat gizi buruk balita, penggunaan KB, para buruh yang menuntut kenaikan upah, korupsi pejabat pemerintah, dsb, dsb.

Intinya, bekerja di majalah fashion, saya hanya akan berguna bagi beberapa komunitas saja, bukan murni pada masyarakat. Hanya menyentuh beberapa kalangan, tidak membantu kesulitan masyarakat luas. Mungkin memang melakukan perubahan besar itu sulit, tapi mungkin saja bisa dilakukan dengan langkah yang kecil. Menulis berita contohnya.

Lagipula untuk apa hidup selain bermanfaat buat khalayak umum? Buat apa hidup dan tidak berbagi?

Sunshine