Right Person

Rasanya bahagiaaa banget dapat kabar pernikahan Rina, salah satu temen kantor pas masih kerja jadi wartawan di Jakarta. She is one of my best and in the beginning of next year, she is getting married!

Calon suaminya, setelah stalk di twitter dan nanya langsung ke Rina, adalah fotografer di salah satu media di Jawa Barat. Namanya Darma Legi. They are both falling into each other and I am so happy about it.

Rina has found her right person. And I wish I will find mine, too. Aamiin.

Jadi diantara kami berempat, tinggal Desi dan aku yang masih menunggu dan mencari. Lida dan Rina udah duluan ketemu jodoh mereka masing-masing. Semoga gak lama lagii. Semoga ‘right person’ nya dikasih in the ‘right time’ juga. Dan semoga memang ‘dia’ lah yang paling baik buat aku duniyya wal akhirat.

Aamiin.

Sunshine

Advertisements

Surat buat Sahabat

Kepada Anita, Dini, Tya, Isti, Rahma dan Ira
Saudara seperguruan dan sahabat terdekatku.

Kita menyatu entah sejak kapan, karena apa dan siapa yang memulai pun aku tak ingat lagi. Yang jelas, suatu hari kita berkumpul dan menanyakan hal yang sama. Kita kebingungan dalam mengingat dan tak membahasnya lagi. Meninggalkannya tetap dalam pertanyaan hingga suatu hari seseorang tahu jawabnya.

Kurang lebih empat tahun kita bersama-sama. Kalian membuatku merasa tidak sendirian dengan apapun yang kuhadapi di dalam dan luar kampus. Sebagian kalian pendengar yang baik, penggerutu yang handal, tukang gosip yang menakjubkan, drama queen tak terkalahkan, nyonya manja yang tattalekang, kritikus yang ajaib, fotografer dan penulis yang andal. Karakter kita berbeda jauh, namun anehnya kemanapun dimanapun, kita tetap saling mencari.

Dulu, ingatkah kalian? Kita melihat diri kita dalam balutan busana kerja yang ciamik, datang bergerombol, duduk di Starbucks sambil memegang Blackberry masing-masing, bercerita betapa menyebalkannya pekerjaan kita di kantor. Dan betapa inginnya kita bertemu selepas kerja. Kita berjanji akan menjadi seperti itu kelak, saat sudah memiliki pekerjaan masing-masing, bahwa kita akan tetap saling bertemu, mendengarkan, bertatap muka. Tepat seperti karakter cewek-cewek di novel Kamar Cewek karya Okky Sepatu Merah.

Tapi sayangnya, itu belum terjadi sampai sekarang, kawan. Malahan, separuh dari kita terpisah ribuan kilometer. Tiga dari kita di ibukota, dan sisanya berada di kampung halaman masing-masing, mengejar masa depan dan karier yang berbeda-beda.

Nyatanya, aku rindu sekali kebersamaan kita. Seluruh dan semuanya. Sampai kapan kenangan akhirnya akan susut, hilang dalam ingatan? What bond us now? Komunikasi yang canggih dan modern sekarangpun belum bisa mengalahkan kecepatan dan kesibukan waktu.

Andai aku bisa membeli waktu. Aku akan memebekukannya sejenak, dalam potret kita duduk bersama di Starbucks, mengenakan blus kantor yang cantik, sambil tertawa terbahak-bahak entah terserah karena apa. Aku ingin mengingat itu sudah terjadi. atau tengah terjadi setiap waktu.

Love,
Sunshine

Pertemuan

Hal pertama yang Wiwid katakan selama 2 tahun kami tidak bertemu adalah, “Ya ampun, Ki, kenapa kamu kurus begini?”

Aku menjawab dengan senyuman. I am really okay, Wid. Tanpa memberi isyarat apapun bahwa ada banyak hal yang terjadi selama 36 bulan itu. Jangka waktu yang amat panjang, saling merindukan. Aku bahkan masih belum bisa percaya orang di depanku saat itu adalah Wiwid, sahabat yang hanya ada dalam memori Tucson ku.

Kami saling menatap, kemudian tersenyum lagi. So silly. Lalu kami mulai membiasakan diri lagi. Wiwid nampak sangat berbeda. Dia lebih segar, cantik dan bahagia. Aku amat berbeda.

Kami bertemu di XXI Mall Metropolitan, Bekasi. Hari itu kami berencana menonton Snow White and the Huntsman– Wiwid fans berat Kristen Stewart. Berdua membeli tiket lalu kami langsung cari makan siang, perut minta diisi. Pemutaran masih sejam setengah.

Steak ayam, lemon tea, tiramisu cake untuk saya. Wiwid memesan nasi goreng, lemon tea dan cheese cake strawberry. Cerita lalu mengalir seperti air. Tawa berderai-derai setiap kali Wiwid cerita lucu. Aku dan dia berganti menjadi pendengar dan pembicara. Ceritanya lebih sering membuat saya kagum dan kaget.

“Kamu sekolah fashion sekarang? Di Esmod?”
Wiwid mengangguk. “Aku suka dan mau serius di dunia fashion, Ki. Suamiku mendukung.”
What are you, such a lucky girl.
“Jadi sekarang kamu sudah punya personal brand?”
“Iya, Double W namanya. Eleanor sudah bantu promosiin pakaian aku di mall di Sydney. Sebentar lagi aku mau produksi lagi”.

We took some pictures. We had photobox, too. Aku menemaninya belanja baju di Gaudi, mengajarinya main Twitter di Dunkin Donuts dan dia menemaniku membeli lipstick di gerai Wardah, di Matahari.

“Aku akan ke Sydney bulan Juli, Ki. Aku menetap disana sama Sam. Jadi sebelum aku kesana, kita ketemu lagi ya. Aku mau kasih kado sebelum aku pergi.”
“Iya, Wid.”
“Oia, kamu nanti aku sms ya. Temanku ada yang cari Public Relations. Nanti kamu aku rekomendasiin ke dia. Stay alert ya…”

Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Setelah berpelukan agak lama, dia menemaniku sampai di pangkalan angkot.
“Keep in touch ya, Ki. Makan banyak-banyak. Kalau kita ketemu lagi, kamu sudah gemuk lagi, ya.”
Aku tertawa, mengangguk. “Iya, Wiwid”

Setelah itu malam, jarak dan tempat memisahkan kami lagi, berdua. Tinggal tunggu kapan pertemuan itu kembali terjadi lagi.


Sunshine