Renting a House

Rasanya tidak percaya kalau kurang dari 2 minggu lagi (12 hari lagi tepatnya), saya akan menjadi istri seseorang.

Istri seseorang.

I can’t believe myself I’m going to be someone’s wife.

Lam, can you believe it?

Kita berdua akan menjadi pasangan suami istri. Tinggal bersama di satu atap, makan sama-sama, tidur sama-sama dan memutuskan masa depan kita bersama-sama. Jika Allah SWT mengizinkan, kita akan menjadi orangtua dari anak-anak kita.

After we’re married, in this end of a year I will move to Jakarta. I’m going to say goodbye to my family and friends and also all my life in Makassar. You and I are going to live in a rent house near your office.

Our life will be totally different. I’m excited and terrified as well.

Lam, you’re going to be my husband. You are going to be the answer of the unsolved mystery that has been haunting me since my mid 20s.

Ri

Advertisements

Becermin

Saya baru saja menyakiti hati kakakku yang sedang susah. Suaminya kerja di luar kota. Gajinya lumayan. Tapi entah pemasukannya tak juga cukup menutupi seluruh pengeluaran. Akhirnya kakak jadi nyusahin ibu bapak yang juga sudah susah. Jadinya saya marah. Maksudku kenapa sudah berkeluarga tapi masih nyusahin ibu bapak?

Kakak menangis sambil bilang padaku, “nanti kau rasa sendiri bagaimana berkeluarga!” sambil berjanji kalau dia memang menyusahkan, dia bakalan out dari rumah.

Jadinya saya makin marah. Pokoknya begitulah. Kami jadi adu mulut sampai mama bapak menegur keras, kami pun berhenti bicara.

Muncullah pertanyaan di kepalaku. Memangnya berkeluarga itu sesusah apa? Kalau memang susah untuk apa menikah?

Mama bilang jangan berpikir begitu. Menikahlah, maka sempurnalah ibadahmu. Lagipula kalau kalian menikah, masalah paling cuma soal ekonomi. Kalian atasi bersama, kelar. Nanti bahagianya sama-sama.

Jadi sekarang, karna jodoh pun belum tampak juga (saya tak tahu Tuhan kasih ketemunya kapan). Saya mau enjoy masa-masa sekarang. Momen dimana cuma mikirin masalah diri sendiri. Momen “aku” nya lebih banyak dibanding “kami”.

Dan menunggu waktu buat mendewasakan semua hal yang ada dalam diriku.

Karena saya gak mau nantinya setelah menikah masih menyusahkan orangtua. Karna menurutku kita harus balas budi dulu sama orangtua. They have done a really super awesome mission for raising us up.

Saya berharap saya bisa memberi lebih banyak pada orang tua setelah menikah nanti.

I am so sorry kakak.

RI

Mengapa Menikah?

Pasangan tua melintas di depanku. Lelaki berumur enam puluh tahun yang sedang mendorong istrinya di atas kursi roda.

Dan kupikir ini salah satu alasan kenapa kita mau menikah.

Agar ada yang menemani kita saat sakit dan tak mampu lagi berjalan.

RI

Nice Conversation

I just had a really nice conversation with my new friend named Ai’. He is a man. He is 26 years old. What we talked is about marriage, future, a good person, our dream, etc.

Which I never talked about it with a man before.

I told him that tomorrow is my 25 years old birthday. Now I’m too young not to get married. But I still have no boyfriend or even close friend to think about to be my mate.

And he said that 25 years old for woman is a caution age.

Which is too stressful to think about.

But I still feel nice for he want to talked about it further.

He is not married yet too. But he is planning to do it this year.

Haaaa, it’s raining outside. Let’s just sleep. Its voice too good to be missed not to sleep.

Good night!
Sunshine