Grandmom’s Gone

Dear Mama,

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Grandmom’s gone.

Seminggu sebelum beliau meninggal dunia, aku akhirnya mendapat kesempatan untuk pulang ke Makassar menghadiri acara wisuda Ayu. Sampai di rumah, aku melihat Nenek terbaring di ranjang kamarku, terkulai, tak bisa apa-apa. She just lied there doing nothing but breathing. Beliau sudah tak bisa bahkan meluruskan kedua kakinya. Tubuhnya mengecil, semakin ringkih. Pipinya kempot, kulitnya yang bergelambir tak menyisakan lagi daging. Kulit itu hanya membungkus tulang-tulangnya yang layu.
Aku mencium keningnya, pipinya.
Aku bertanya padanya, masih ingatkah ia padaku.
Ia menjawab dengan susah payah, “Iya”.
Lalu aku mengajaknya mengobrol tapi akhirnya aku malah berbicara pada diriku sendiri.

Aku mendapat kabar kematian Nenek di busway menuju kosan. Sampai di halte, aku duduk termenung sambil terus memegang telepon dan menangis sesenggukan. Aku tak peduli apakah ada orang yang mendengarku menangis seperti ada kejadian apa. Aku menangis, tak tahu mau melakukan apa. Aku benar-benar butuh Ibu untuk kupeluk, tapi mendapat tak ada seorang pun disana bahkan untuk memintaku kuat, semakin membuatku merana.
Aku lalu putuskan untuk berhenti menangis, keluar dari halte, mencari bajaj dan pulang ke kosan.

Lalu aku membaca Yasin dan Fatihah, yang malah sebenarnya untuk membuatku tenang. Aku memberi kabar pada sahabat Cuaca dan Brainwave. B lalu menelponku. Memberitahu bahwa ia ada dan siap mendengarkan seperti teman baik.

Mama,
aku berduka. Aku sayang pada Nenek. Kau sayang pada Nenek. Aku perih merasa jauh. Tapi seperti setiap ada cucu yang kehilangan neneknya, selalu pula ada anak yang kehilangan ibunya. Aku mau sekali segera terbang ke rumah dan memelukmu, Ma. Tapi kau bilang tak usah pulang. Jadi aku menurutinya.

Jadi tak ada lagi nenek yang bisa kucium. Kak Aan bilang, ia takkan pernah hilang, jika sosoknya terus kau ingat.

Nenek dikuburkan tepat disamping kuburan kakek. Dia mewariskanku uang sejumlah Rp 40 ribu. Aku tak tahu artinya, tapi aku berencana akan menyimpannya. Menyimpannya sampai kapanpun.

Rest in Peace, Grandmom. I love you.

Sunshine

In Done Sia

Indonesia. My country.

Saat itu, saya sedang berada di Pasar Ikan Muara Angke, Jakarta Utara bersama Mas Riki, fotografer majalah Rep. Saat mata dan pikiranku benar-benar melihat keseluruhan tempat itu, kesadaran itu kemudian menamparku keras.

Indonesia, negeriku ini, begitu kaya.

Ada lebih ratusan jenis ikan laut tertampung dalam tangki-tangki dan mangkuk-mangkuk super besar. Ikan itu tentu produk laut bukan barang impor. Jumlahnya seharusnya mencapai ratusan ton. Dan ikan-ikan itu diambil bebas dari laut. Dari lautan Indonesia.

Perairan Indonesia lebih luas dibanding daratan. Perbandingannya 3:1. Itu berarti, kita dari produk laut dan perairan, kaya raya. Fakta ini mestinya membuat satu realisasi bahwa takkan ada lagi masyarakat yang kekurangan protein hewani. Semua warga bisa tumbuh sehat dan kuat.

Kekayaan Indonesia begitu luarbiasa. Tanah-tanah di Kalimantan yang penuh dengan hasil tambang dan kelapa sawit, Papua dengan emasnya. Tanahnya yang luarbiasa subur.

Korupsi merajalela, makin menjadi-jadi, tapi tingkat ekonomi makro dan mikro terus meningkat. Semakin dikeruk, tak juga habis.

SBY saat berpidato di Pelabuhan Tanjung Priok pada peresmian pembangunan NewPriok, sebuah pelabuhan berskala internasional mengatakan, suatu kali, salah satu pejabat negara di Eropa ingin sekali meminta satu poin saja untuk menggambarkan pertumbuhan ekonomi negaranya. SBY berbangga pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat. Hasil kerja anak bangsa, di bidang usaha kecil dan menengah lah yang memegang peran penting dalam meningkatkan laju perekonomian bangsa. SBY yang malah bangga. Sedangkan anak Menko Perekonomian, setelah menabrak mobil di tol karena lalai dan berakibat tewasnya dua jiwa, hanya dihukum enam bulan penjara.

Ochank bilang, Tuhan akan terus bersama orang-orang yang bersabar dan bekerja keras.

Sunshine
obrolan tengah malam, tak usah dibahas panjang. 🙂

Sisters

Dear Mama,

You are the most amazing woman I’ve ever known. No question. You raised me. You raised us with Dad and you guys done well.
Please be with me when I am married, when I am pregnant, when I am giving birth my children. please be with me raising them.
And when you are old and fatigue, let me feed you like you feed me when I was a little baby.
when you’re sick, please let me take and assist you whenever you need to go.

We love you, Ma.

we love you Ma

Sunshine

Penanggung Perempuan

Jadi sebentar lagi sahabat saya akan memulai hidup baru dalam mahligai pernikahan. Ia telah menemukan jodohnya, pasangan hidupnya, penyelamat dunia akhiratnya. Ia menyebutnya, lelaki penanggung perempuan.

Ia bilang tak semua laki-laki mampu menjadi penanggung perempuan.

Aku suka istilah itu. Saat dia menyebutnya, kedua kata itu langsung merasuk ke pikiranku dan aku sadar ia benar.

Penanggung perempuan.

Sunshine

words shouldn’t hurt

The worst feeling that you could ever possess to someone is the feeling of possessing him/her, as if that person is completely yours. Because you could never, ever “own” a person. You could only be happy when the person you choose to be with also chooses to be with you.

Be happy. Because you only need yourself to be happy, and because you can. Allow yourself to be happy. With or without someone else. Isn’t it such a great feeling to realize that we can be happy on our own? As soon as we have allowed ourselves to be happy on our own, then we can be happy with another person.

-by Little Notes of Life from Alanda Kariza-