Penyabar

Kadang saya butuh jarak dengan Eshan. Meski cuma 10-15 menit.

Saya bukan orang yang sabaran. Menikah dengan Lam membuatku latihan sabar terus-menerus. Memiliki Eshan membuat latihanku makin ketat.

Bersabar, bersabar, bersabar.

Sungguh orang yang sabar itu adalah yang kuat. Lepas kontrol itu gampang, mudah, lemah.

Kadang mendengar Eshan menangis sepanjang hari membuatku frustasi. Belum lagi memikirkan beban kerja yang banyak dan rumah yang berantakan. Menjaga Eshan adalah sesuatu yang tidak bisa diprediksi, sedangkan aku adalah orang yang suka keteraturan.

Sungguh hanya sabar kuncinya.

Saya harus lebih banyak berlatih.

Ri

Covid-19

Nak,

Mama mengandungmu disaat outbreak virus Covid-19 merebak di seluruh dunia.

Di Jakarta, tempat kita tinggal bersama Papa di sebuah rumah kontrakan kecil di selatan, juga ikut resah.

Hari ini, siswa-siswi di sekolah tempat Mama bekerja, mulai diliburkan hingga 2 pekan ke depan. Namun Mama tetap masuk setengah hari. Sedangkan Papa, harus tetap masuk seperti biasa.

Sekolah-sekolah diminta agar siswanya belajar dari rumah (learn from home). Beberapa perusahaan juga meminta karyawannya bekerja dari rumah. Pemerintah mengeluarkan kebijakan agar semua kegiatan yang mengumpulkan banyak orang agar ditunda atau dibatalkan; seperti konser musik, bazaar hingga pertandingan olahraga. Transportasi umum dibatasi. Harga masker dan hand sanitizer melambung. Masyarakat panik dan mulai menyetok bahan makanan.

Apakah Mama dan Papa khawatir? Tentu. Tapi kami tidak panik. Kami hanya bisa melakukan anjuran-anjuran menjaga kebersihan dan merawat agar tubuh tetap sehat. Akhir pekan kami di rumah saja, dan weekdays kami hanya berputar rumah-kantor. Jalanan mulai sepi.

Mama khawatir karena kamu masih di dalam perut Mama, Nak. Apa yang terjadi denganku, akan mempengaruhimu. Mama senantiasa berdoa pada Tuhan agar dilindungi, agar kau dilindungi, agar Papa dilindungi. Karena tiada daya dan upaya melainkan dari Allah saja.

Apa yang akan terjadi esok dengan virus ini, kapan ia akan berhenti, tidak ada yang tahu selain Tuhan.

Sayang, ini sudah 35 weeks kita. Sebentar lagi, insya Allah.

Ri

Bersama Berdua

Nak,

Minggu pagi ini kita ke GBK untuk sekedar jalan kaki berdua. Papa mu juga ikut karena mau mencoba menerbangkan drone nya yang baru saja selesai diperbaiki.

Jalan kaki kita sebentar saja, satu kali mengitari stadion bagian luar.

Sepertinya saya kena wasir. Ada tonjolan kecil yang keluar dan rasanya tidak nyaman jika sedang berjalan. Saya berusaha memasukkannya lagi. Saat saya cerita ke Nenek di Makassar, Nenek sarankan untuk minum prebiotik dan duduk di atas batu yang keras.

Kau menendang sisi perut kananku.

Saya sudah terapi sujud dan menungging setiap malam dan setelah solat subuh, Nak, diawasi Papamu. Semoga USG selanjutnya kepala kamu sudah bisa ke panggulku di bawah.

Sekarang saya duduk di bawah pohon sambil menulis ini. Papamu ada di seberang masih mengutak-atik drone nya yang kelihatannya belum terbang. Setelah ini, setelah menulis ini dan minum dan istirahat sejenak, saya akan menyusulnya. Jalan kakinya cukup sekian ya. Mari kita cari sarapan. Mungkin kamu sudah lapar jadi menggeliat tidak karuan di dalam perutku.

Anakku, sayangku, semoga Allah SWT senantiasa melindungimu.

Ri

34weekspregnant

Sungsang

Nak,

Kemarin Papa cuti sehari untuk menemaniku kontrol USG memasuki bulan ke-8 kehamilan. Paginya kami menuju RSUD Pasar Minggu untuk kontrol di dr. Netty. Sampai disana ternyata dokternya sudah tidak bekerja disana lagi.

Dan karena di rumah sakit itu tidak bisa USG 4D, kami pun akhirnya mencari klinik lain. Saya sebenarnya gelisah juga memikirkan murid-muridku di sekolah karena saya cuma ijin datang telat.

Setelah menelusuri laman pencarian, kami sepakat untuk ke Klinik Rebo yang kebetulan searah dengan sekolahku. Waktu itu sudah hampir pukul 10pagi.

Sampai disana, oleh satpam, kita diberitahu ternyata kalau mau USG harus kontak janjian dulu dengan dokternya. Dia menyarankan kami untuk ke klinik Budhi Pratama di Gedong, klinik yang tidak jauh dari situ.

Sampai di Budhi Pratama, saya tanya apa bisa USG 4D? Biayanya berapa? Dengan dokter siapa? Perawatnya memberi info bahwa dr. Ulul Albab, SpOG yang praktik disitu tapi mulai pukul 5 sore. Setelah daftar pasien umum, saya pun ke sekolah dulu nanti pas pulang baru ke klinik itu lagi. Sedangkan suami pulang dulu ke rumah sambil menunggu saya pulang.

Pukul 5.15 sore, saya sudah di klinik. Papamu masih dalam perjalanan. Perawat menginformasikan kalau dokternya agak telat dan akan mulai praktik selepas magrib.

Dengan lelahnya saya duduk di sofa sambil menunggu Papamu datang. Dia muncul tak lama setelah saya duduk. Dia menawarkan biar kita makan malam dulu di warung Makassar di dekat situ.

Selesai makan dan solat magrib, kami kembali ke klinik dan duduk dipanggil giliran kami.

Saat masuk ruangan pemeriksaan, dokter langsung meminta saya berbaring untuk disiapkan USG. Baru saja dia melihat layar yang menunjukkan dirimu, Nak, dia langsung bilang, “Sungsang ini”,

Hanya saja, tidak seperti yang saya harapkan, dokternya tidak menjelaskan secara detail. Posisimu bagaimanakah, bagian apa yang dia ukur di layar, bagian tubuhmu baik-baik sajakah. Saya tidak begitu nyaman. Dari dokter itu, kami jadi tau kalau beratmu sudah 2,4 kilogram dan sehat sehat saja di dalam sana, alhamdulillah.

Jadi kami gagal melihatmu dalam 4D karena posisi sungsang.

Dokter menyarankan saya untuk terapi sujud atau banyak nungging, biar posisimu bisa berubah.

Semoga Allah SWT senantiasa menjagamu Nak. Sampai jumpa segera! Insya Allah!

Ri

33 weeks

Thankful Note

What an amazing year I had in 2019.

Dua Januari 2020. Memasuki awal tahun baru, saya ingin menulis betapa banyak sekali hal yang saya syukuri sepanjang tahun belakangan hingga hari ini.

Jakarta digempur genangan air setelah pada malam pergantian tahun hujan turun dengan derasnya dari sore hingga pagi esoknya tanpa jeda. Sungai dan kali meluap. Genangan air itu lalu makin tinggi dan masuk ke dalam rumah-rumah warga.

Syukur alhamdulillah kontrakan kami di Mampang aman. Ada banyak faktor penyebab yang mungkin menjadi alasan kenapa rumah kontrakan kami tidak kebanjiran. Pertama, saluran air atau selokan di sekitar Mampang bersih dan lancar. Kedua, landlord kami punya area resapan hujan yang cukup luas sehingga alih-alih tergenang, air hujan yang turun meresap kembali ke tanah.

Apapun itu, kami bersyukur sekali. Bukan apa-apa, informasi yang kami dapat dari grup whatsapp, banyak sekali teman-teman dekat kami yang rumahnya kebanjiran hingga membuat barang-barang mereka tergenang air. Bagaimana mereka bertahan dari kehilangan dan kemalangan itulah yang membuat kami semakin sadar diri.

Memasuki bulan keenam kehamilan, perut bawahku semakin berat dan tekanannya semakin terasa. Apa kabar kamu Nak, di dalam perut Mama? Sehat-sehat kah? Semoga Allah SWT terus melindungimu.

Saya bersyukur bisa melewati tahun pertama pernikahan dengan baik pula. Saya dan Lam memang seringkali punya selisih paham. Namun setiap kali terjadi, kami tau-tau berbaikan lagi, berpelukan lagi lalu kembali menertawakan diri masing-masing. Berada bersama Lam membuatku merasa nyaman, hangat dan terlindungi, kecuali saat-saat dia hanya memikirkan diri sendiri.

Februari besok saya akan menjadi mahasiswa program guru sekolah dasar selama tiga semester. Mudah-mudahan saya bisa belajar lebih banyak perihal menjadi guru SD.
Terimakasih Tuhan. Jadikanlah kami menjadi orang-orang yang selalu bersyukur dan beristigfar. Tetapkanlah hati kami terus pada-Mu.
Ri

Bayangan

Suami pulang bekerja setiap malam empat jam setelah saya sampai di rumah. Kami hanya punya waktu paling banyak dua jam untuk mengobrolkan hal-hal sebelum tidur. Esok harinya saya akan berangkat kerja duluan dan dia masih tidur.

Di akhir pekan seperti hari ini, dia pun masih pergi bekerja. Subuh-subuh sebelum matahari terbit, dia membangunkanku, yang masih belum bisa membuka mata sempurna, dan pamit bekerja. Saya mengantarnya ke depan pintu, menunggunya berlalu, dan mengunci pintu, tidur kembali.

Kadangkala, kurasa, saat bersama suamiku, dia adalah bayangan yang berasal dari angan-anganku. Saking seringnya waktu kuhabiskan sendirian, saking seringnya dia di luar dan jarang di rumah, kadang kurasa sendiriku adalah hal yang nyata. Dan saat suamiku ada di rumah, dia adalah bayangan yang akan segera hilang.

Pernahkah kalian merasa seperti itu?

Ri

Two Families

Ramadan and Idul Fitri holiday ended a week ago. My husband and I came back from our hometown to our home in Jakarta last Thursday. That was the first Idul Fitri I had as a wife and it still felt strange but in the other hand I was more content. Of course! Now I have two big families!

Telkomas (my family) and Antang (husband family) have some similarities but they were also different in some ways. For instance, the total number of each family is 15 and they both wanted to take family picture in the sake of “mumpung semua pada ngumpul” at the photo studio.

The family in Antang isn’t as religious as family in Telkomas. I can say this because when I had itikaf in Telkomas, all of us went to the mosque at 12am and stayed there praying until dawn. However, when I had itikaf with family in Antang, I only went with husband and my parents in law.

Family in Telkomas didn’t go to many relatives for Idul Fitri. We didn’t even visit Daddy family. But family in Antang went to many houses of relatives. The furthest was in Pangkep, 2 hours driving from the city. We visited aunts, uncles, cousins.

It’s not like I am saying one family is better than the other. I am only saying that I can feel the difference. And honestly, it was tiring going back and forth between two houses. We spent 3 days in Antang, 3 days in Telkomas, Ied prayer in Antang, and back again for 3 days in Telkomas and the last 4 days in Antang. Next time, we would only spend a week for each house.

This Idul Fitri, we also went to Pinrang (about 4 hours driving from city) to attend the funeral of Indah’s mother. Indah is our college friend. Her mom’s death was so sudden, she wasn’t ready. She was devastated I knew.

Today as I’m writing this, I started my Syawal fast. This is the 1st day. Syawal fast is 6days. I hope I can finish until next Wednesday.

RI

Suami

Hai. Halo.

Sudah empat bulan berlalu sejak saya pindah dan tinggal berdua bersama suami saya, mengontrak rumah petak di Jakarta Selatan. Saya senang menghitung-hitung hari, Entahlah, rasanya mengagumkan menyadari begitu cepatnya waktu berlalu berlari melewati kita.

Di Jakarta, saya tak punya kehidupan selain suami dan tempat kami tinggal sekarang. Teman-temanku yang bekerja disini terlalu sibuk dengan karir, kehidupan dan keluarga mereka juga sehingga hampir mustahil bisa mengajak salah satu diantaranya untuk menemani jalan atau nonton film. Keluargaku jauh dan video call hanya mengurangi sedikit jarak. Suami bekerja hampir dua belas jam setiap hari dan begitu dia pulang, dia masih juga bekerja untuk menambah penghasilan tambahan.

Saya bukan menulis ini untuk mengeluh. Saya menulis ini untuk mengingatkan diri saya mungkin enam bulan atau setahun kemudian, bahwa saya pernah kesepian seperti ini. Apakah di masa depan saya masih seperti ini atau tidak? Hanya Allah SWT yang tahu.

Saya mulai menulis review tentang film-film yang saya tonton di blog wordpress baru berjudul filmfootprints. Percayalah kawan, saya telah menonton banyak sekali film empat bulan belakangan dan saya merasa punya beban moril untuk menulisnya sebagai ulasan. Saya juga cukup senang menulis review film dan buku. Saya sudah menyelesaikan empat buku dan sekarang saya sedang membaca buku kelima.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa Allah SWT telah memberi saya seorang suami yang sangat baik. Tuhan telah memberi saya seorang laki-laki yang bukan hanya berusaha menjadi suami yang baik, tapi juga seorang teman yang baik. Dia menghormati dan menyayangiku. Dia membuatku tertawa saat sedang sedih dan menangis. Dia memelukku saat saya sedang kesal dan marah. Dia menemaniku, mendengarkanku, dan juga beradu argumen denganku. Kami menertawakan hal yang sama tapi kadang tidak sepakat di banyak hal. Dia tahu kapan harus sekeras batu dan kapan harus mengalah demi kebaikan bersama. Dia punya kelemahan tentu saja, rumah tangga yang kami jalani ini membuat semua keburukan kita terkuak. Namun, commitment binds us. Love empowers us. Energi-energi dari hal-hal tersebut ditambah dengan berkah dan rahmat dari Allah SWT juga dukungan keluarga dan teman-teman, membuat kami terus menerus belajar untuk bertahan dan bersama sebagai suami istri.

RI

Rencana Tuhan

Belakangan, di dua bulan pernikahan kami, saya sering flashback ke masa lalu. Saya merenungi dan berusaha menghubung-hubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Biasanya renunganku akan berujung pada bagaimana saya dan suami akhirnya bersama-sama. Dan betapa jalan tersebut adalah salah satu hal yang paling saya syukuri.

Tentu saja itu bukan kebetulan. Jodoh ada di tangan Tuhan. Betapa jauhnya garam dan asam berasal, akhirnya mereka toh bertemu juga di panci dapur kita. Betapa besarnya usaha kita untuk bersama seseorang, jika mereka bukan jodohmu, pasti ada saja jalan agar kalian tidak bersama, begitu pula sebaliknya.

Suamiku, Lam, adalah orang yang baik. Saya sering sekali terharu dengan perhatian kecil dan kasih sayangnya. Saya tahu dia mencintai saya segenap jiwa. Saya tahu saya mencintainya segenap raga. Saya merasa Tuhan mencintai saya sebab Dia menakdirkan saya menjadi istri Lam.

Keputusan kami menikah bukan perkara mudah dan cepat. Kami terpisah jarak dan enam tahun itu bukan waktu yang kau habiskan begitu saja tanpa ada orang lain singgah di hidupmu, bukan?

Tapi Lam yakin, meskipun segalanya, suatu saat, saya akan bersama dia.

Saya senang sekali menatap lekat wajah Lam saat dia tidur di sampingku. Bernapas, mendengkur atau kadang mengigau. Kadang dia gelisah, kupeluk dia sampai tenang. Kusapu rambutnya. Kucium pipinya. Kupastikan agar dia nyaman. Hingga dia tertidur.

Betapa dia adalah suami yang bertanggung jawab dan pengertian adalah anugerah yang sangat kusyukuri. Dia mengutamakan kebahagiaanku, kecukupanku, kebutuhanku. Memang belum bisa dia berikan semua yang kuinginkan, tapi dia selalu berhasil menenangkan hatiku dan hal-hal yang kurang darinya, menguap begitu saja.

Kadang saya merenung kejadian di masa lampau. Mengapa begini, mengapa begitu, mengapa yang ini harus terjadi dulu. Saya belum paham alasannya, jawabannya. Tapi apapun itu, saya percaya, saya yakin. Bahwa apapun itu, adalah rencana Tuhan.

Dan rencana Tuhan adalah yang paling baik.

Ri

Leaving School

WhatsApp Image 2018-12-12 at 1.55.38 PM

Today was my last day in BCI School. I got a sweet little surprise farewell from my colleagues. They got in to Toddler class, where I had been waiting, and they sang “Kemesraan”. They gave me presents: a handbag and two photos framed. I was so happy I cried.

Actually it’s so hard for me to leave school. It’s been my comfort zone for the past two years. I go to school at 6.30 in the morning, got home at 4.00 in the afternoon. I teach many classes, I meet my students, talk to the parents, make worksheets, do the administration things, attend the weekly meeting, and the rest is having fun- school has many holidays every year. The salary is pretty good, I can help my family to pay this and that every month. I can eat well, I can buy dresses I want, I can watch movies in cinema, I can hang out with my friends and everything. It’s just so hard for me to leave the habit, the things I do everyday, the things I like.

However, I must leave. I must move from here and live with my husband in Jakarta. I must start my married life together with him. Being with him outweighs any perks of living my single life, outweigh any joyful feeling I get from the “comfort zone”.

I am sure that there will be many big things that might not happen if we only stay in our place and never move out of the comfort zone.

and I hope everything that follows after is good things that could bring me and my husband near to the good places, too, someday.

So, see you again, BCI.

Ri