Two Families

Ramadan and Idul Fitri holiday ended a week ago. My husband and I came back from our hometown to our home in Jakarta last Thursday. That was the first Idul Fitri I had as a wife and it still felt strange but in the other hand I was more content. Of course! Now I have two big families!

Telkomas (my family) and Antang (husband family) have some similarities but they were also different in some ways. For instance, the total number of each family is 15 and they both wanted to take family picture in the sake of “mumpung semua pada ngumpul” at the photo studio.

The family in Antang isn’t as religious as family in Telkomas. I can say this because when I had itikaf in Telkomas, all of us went to the mosque at 12am and stayed there praying until dawn. However, when I had itikaf with family in Antang, I only went with husband and my parents in law.

Family in Telkomas didn’t go to many relatives for Idul Fitri. We didn’t even visit Daddy family. But family in Antang went to many houses of relatives. The furthest was in Pangkep, 2 hours driving from the city. We visited aunts, uncles, cousins.

It’s not like I am saying one family is better than the other. I am only saying that I can feel the difference. And honestly, it was tiring going back and forth between two houses. We spent 3 days in Antang, 3 days in Telkomas, Ied prayer in Antang, and back again for 3 days in Telkomas and the last 4 days in Antang. Next time, we would only spend a week for each house.

This Idul Fitri, we also went to Pinrang (about 4 hours driving from city) to attend the funeral of Indah’s mother. Indah is our college friend. Her mom’s death was so sudden, she wasn’t ready. She was devastated I knew.

Today as I’m writing this, I started my Syawal fast. This is the 1st day. Syawal fast is 6days. I hope I can finish until next Wednesday.

RI

Advertisements

Suami

Hai. Halo.

Sudah empat bulan berlalu sejak saya pindah dan tinggal berdua bersama suami saya, mengontrak rumah petak di Jakarta Selatan. Saya senang menghitung-hitung hari, Entahlah, rasanya mengagumkan menyadari begitu cepatnya waktu berlalu berlari melewati kita.

Di Jakarta, saya tak punya kehidupan selain suami dan tempat kami tinggal sekarang. Teman-temanku yang bekerja disini terlalu sibuk dengan karir, kehidupan dan keluarga mereka juga sehingga hampir mustahil bisa mengajak salah satu diantaranya untuk menemani jalan atau nonton film. Keluargaku jauh dan video call hanya mengurangi sedikit jarak. Suami bekerja hampir dua belas jam setiap hari dan begitu dia pulang, dia masih juga bekerja untuk menambah penghasilan tambahan.

Saya bukan menulis ini untuk mengeluh. Saya menulis ini untuk mengingatkan diri saya mungkin enam bulan atau setahun kemudian, bahwa saya pernah kesepian seperti ini. Apakah di masa depan saya masih seperti ini atau tidak? Hanya Allah SWT yang tahu.

Saya mulai menulis review tentang film-film yang saya tonton di blog wordpress baru berjudul filmfootprints. Percayalah kawan, saya telah menonton banyak sekali film empat bulan belakangan dan saya merasa punya beban moril untuk menulisnya sebagai ulasan. Saya juga cukup senang menulis review film dan buku. Saya sudah menyelesaikan empat buku dan sekarang saya sedang membaca buku kelima.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa Allah SWT telah memberi saya seorang suami yang sangat baik. Tuhan telah memberi saya seorang laki-laki yang bukan hanya berusaha menjadi suami yang baik, tapi juga seorang teman yang baik. Dia menghormati dan menyayangiku. Dia membuatku tertawa saat sedang sedih dan menangis. Dia memelukku saat saya sedang kesal dan marah. Dia menemaniku, mendengarkanku, dan juga beradu argumen denganku. Kami menertawakan hal yang sama tapi kadang tidak sepakat di banyak hal. Dia tahu kapan harus sekeras batu dan kapan harus mengalah demi kebaikan bersama. Dia punya kelemahan tentu saja, rumah tangga yang kami jalani ini membuat semua keburukan kita terkuak. Namun, commitment binds us. Love empowers us. Energi-energi dari hal-hal tersebut ditambah dengan berkah dan rahmat dari Allah SWT juga dukungan keluarga dan teman-teman, membuat kami terus menerus belajar untuk bertahan dan bersama sebagai suami istri.

RI

Rencana Tuhan

Belakangan, di dua bulan pernikahan kami, saya sering flashback ke masa lalu. Saya merenungi dan berusaha menghubung-hubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Biasanya renunganku akan berujung pada bagaimana saya dan suami akhirnya bersama-sama. Dan betapa jalan tersebut adalah salah satu hal yang paling saya syukuri.

Tentu saja itu bukan kebetulan. Jodoh ada di tangan Tuhan. Betapa jauhnya garam dan asam berasal, akhirnya mereka toh bertemu juga di panci dapur kita. Betapa besarnya usaha kita untuk bersama seseorang, jika mereka bukan jodohmu, pasti ada saja jalan agar kalian tidak bersama, begitu pula sebaliknya.

Suamiku, Lam, adalah orang yang baik. Saya sering sekali terharu dengan perhatian kecil dan kasih sayangnya. Saya tahu dia mencintai saya segenap jiwa. Saya tahu saya mencintainya segenap raga. Saya merasa Tuhan mencintai saya sebab Dia menakdirkan saya menjadi istri Lam.

Keputusan kami menikah bukan perkara mudah dan cepat. Kami terpisah jarak dan enam tahun itu bukan waktu yang kau habiskan begitu saja tanpa ada orang lain singgah di hidupmu, bukan?

Tapi Lam yakin, meskipun segalanya, suatu saat, saya akan bersama dia.

Saya senang sekali menatap lekat wajah Lam saat dia tidur di sampingku. Bernapas, mendengkur atau kadang mengigau. Kadang dia gelisah, kupeluk dia sampai tenang. Kusapu rambutnya. Kucium pipinya. Kupastikan agar dia nyaman. Hingga dia tertidur.

Betapa dia adalah suami yang bertanggung jawab dan pengertian adalah anugerah yang sangat kusyukuri. Dia mengutamakan kebahagiaanku, kecukupanku, kebutuhanku. Memang belum bisa dia berikan semua yang kuinginkan, tapi dia selalu berhasil menenangkan hatiku dan hal-hal yang kurang darinya, menguap begitu saja.

Kadang saya merenung kejadian di masa lampau. Mengapa begini, mengapa begitu, mengapa yang ini harus terjadi dulu. Saya belum paham alasannya, jawabannya. Tapi apapun itu, saya percaya, saya yakin. Bahwa apapun itu, adalah rencana Tuhan.

Dan rencana Tuhan adalah yang paling baik.

Ri

Leaving School

WhatsApp Image 2018-12-12 at 1.55.38 PM

Today was my last day in BCI School. I got a sweet little surprise farewell from my colleagues. They got in to Toddler class, where I had been waiting, and they sang “Kemesraan”. They gave me presents: a handbag and two photos framed. I was so happy I cried.

Actually it’s so hard for me to leave school. It’s been my comfort zone for the past two years. I go to school at 6.30 in the morning, got home at 4.00 in the afternoon. I teach many classes, I meet my students, talk to the parents, make worksheets, do the administration things, attend the weekly meeting, and the rest is having fun- school has many holidays every year. The salary is pretty good, I can help my family to pay this and that every month. I can eat well, I can buy dresses I want, I can watch movies in cinema, I can hang out with my friends and everything. It’s just so hard for me to leave the habit, the things I do everyday, the things I like.

However, I must leave. I must move from here and live with my husband in Jakarta. I must start my married life together with him. Being with him outweighs any perks of living my single life, outweigh any joyful feeling I get from the “comfort zone”.

I am sure that there will be many big things that might not happen if we only stay in our place and never move out of the comfort zone.

and I hope everything that follows after is good things that could bring me and my husband near to the good places, too, someday.

So, see you again, BCI.

Ri