Joke Disaster

Belakangan ini, sebab cuma di rumah saja pagi hingga malam, begitupun keesokan harinya, dan seterusnya, saya memikirkan banyak hal. Mungkin memang tidak penting amat. Hanya saja ya, mulai dari istilah fake follower kemarin, postingan ini juga mau membahas tentang satu istilah, yaitu Joke Disaster. Istilah ini juga lahir karena saya memikirkan satu situasi atau hal yang selalu terjadi di sekeliling kita, cuma kita belum tahu mau diistilahkan sebagai apa.

Nah.
Joke Disaster ini adalah jenis candaan yang melahirkan musibah. Bukan, bukan bencana alam. Ini lebih ke semacam akibat yang ekstrim, yang lebih ke negatif impact.

Misalnya, saya ambil satu contoh dari episode Glee yang baru-baru saja saya tonton; Glee Season 3 Episode 14- On My Way.

Karofsky akhirnya ketahuan gay. Satu sekolah akhirnya melempar banyak hinaan di wall Facebooknya. Dia panik, tak bisa menahan serangan itu dan akhirnya mencoba bunuh diri meskipun untungnya gagal.

Teman sekolah Karofsky melakukan hinaan itu dengan tujuan FUN. Tidak ada yang lain. Mereka menganggap itu joke, buat fun. Tapi seperti yang dikatakan Sebastian, “It’s all fun and games, until it’s not”. Sampai kapan candaan-candaan itu dianggap lucu dan menyenangkan? Tentu, sampai joke itu bikin seseorang nyaris mati gara-gara omongan kita- joke disaster.

Banyak teman-teman kita niatnya selalu bikin candaan hal-hal yang bikin kita sakit hati sampai tidak bisa tidur, karena selalu kepikiran. Mereka dengan santainya bilang, “Sorry, becanda..”. Padahal kita sudah sakit hati dan peras airmata hanya karena omongannya yang hanya bisa dipertanggungjawabkan dengan kata-kata BECANDA.

Maksud saya, tak ada yang salah dengan jokes. Saya juga suka begitu. Have fun dengan joke yang tidak lucu sama teman-teman. Godain satu persatu dengan hal yang lucu. Tiba-tiba saya sadar saja, tidak semua orang bisa menerima hal seperti itu. Jadi kita harus hati-hati saja, jangan sampai kita anggap lucu, tapi menuai sakit hati sama orang yang dituju. Oke?

Sunshine

Fake Follower

Saya pernah bercakap dengan salah satu sahabat tentang aturan folow-unfollow di Twitter. Entah bagaimana alur obrolan itu, kami tiba-tiba sampai pada percakapan tentang fitur ‘mute’, yaitu tentang kita meminta Twitter tidak menampilkan twit-twit akun yang kita ‘mute’ dalam waktu yang kita kehendaki. Fitur ‘mute’ itu juga bisa diatur agar akun yang dimaksud tidak tahu bahwa dia sedang di-‘mute’. Saya lalu bertanya pada sahabat saya itu, kenapa tidak sekalian unfollow saja, kenapa harus di-‘mute’ kalau memang tidak berkenan membaca twit-twit tersebut.

Dia menjawab “Tidak apa, toh mereka tidak tahu, saya tetap follow mereka karena yang mereka butuh cuma followers…”

Entahlah, saya lalu mengingat obrolan yang sudah lama ini lalu mengistilahkan sahabat saya itu sebagai “fake follower”.

Itu seperti mendiamkan hal yang buruk. Kalau memang twit seseorang tidak pantas diikuti karena satu alasan, kenapa tidak unfollow saja? Itu untuk mengukur kualitas twit mereka selama ini- jika itu memang jadi alasan utama kita mengikuti seseorang di Twitter.

Kita tidak perlu jadi fake follower untuk menjaga kesan dan hubungan yang baik. Kalau mereka cukup dewasa untuk tidak mengait-ngaitkan hubungan dunia nyata dan maya, pasti mereka mengerti.

Maksud saya, kita bebas berlaku apa saja. Suka, FOLLOW. Tidak suka, UNFOLLOW. Memilih MUTE itu seperti berada dalam situasi ABU-ABU.

Mind versus Heart

  • Mind  : Iya, kalau cinta kenapa harus ada sakit hati?
  • Heart : Kalau tidak sakit hati, kamu artinya tidak cinta.
  • Mind  : Lho, kenapa begitu?
  • Heart : Karena hanya yang kau cinta yang sanggup membuatmu merasa begitu.
  • Mind  : (diam)
  • Heart : Saya rasa dia tidak sayang padaku karena seringnya dia membuat saya sakit hati.
  • Mind  : Lalu kenapa kau tidak meninggalkannya?
  • Heart : Karena, karena… bagaimanapun dia sering membuat saya kecewa, hanya dia juga yang bisa membuat saya bahagia.

Mungkin begitu percakapan yang sering sekali menghampiri hati dan pikiran. Alasan seringnya kita sakit hati saat sedang mencinta adalah karena seringnya kita berharap kemudian realita tidak sesuai apa yang kita harapkan. Hasilnya tentu, sakit hati.

Bukan hanya sakit hati bagian dari cinta. Saat kita mencintai seseorang, selain timbul rasa sayang, rasa yang lain kemudian muncul; possesif, cemburu, pengharapan di luar batas dan rindu. Jika semua rasa itu tidak teratasi dengan baik hasilnya kemudian adalah sakit hati.

Semuanya akan baik-baik saja seandainya kita bisa mendamaikan hati dan pikiran kita. Membuatnya satu suara, kompak.

Sajak Istri Pada Suaminya Sebelum Mereka Menikah

Sayang, saya harus memberitahumu beberapa hal
sebelum kita melangkah ke pelaminan yang mengkilat-kilat
sebelum kita berdua menaiki perahu dan berlayar
sebelum kau menghabiskan sisa hidupmu bersamaku:

1
Tanpa kau sadari, wanita yang kau nikahi ini
akan menjadi tua
gembrot
payudaranya akan susut
dihisap oleh anak per anak

2
Masanya akan tiba
saat kau jenuh dan bosan
pada wejangan yang tak kunjung berhenti
dan keluhan yang jauh dari reda dariku
tentang dimana seharusnya kau menyimpan kunci motormu
hingga baju apa yang sebaiknya kau kenakan di acara arisan keluarga

3
Kau akan mudah tersinggung
kita akan semakin mudah mencari-cari kesalahan
kita akan semakin egois
aku akan semakin sering memekik, berteriak dan menangis

Jika saatnya tiba
Maukah kau tetap bersabar padaku?
Sudikah kau mendampingiku melewati masa tua?
Bisakah engkau kuat saat aku lemah?
Menghiburku saat susah?

Sunshine
P.S
Entah, tapi setelah baca ulang ini, rasanya saya pernah membaca sajak yang sama entah dimana.

Cinta yang Galau

Entah sejak kapan kata ‘galau’ beredar dan meluas di ranah publik. Saya pribadi mengetahui istilah ini dari tentu saja, Twitter. Bahkan ada jargon yang muncul berbunyi, “Nggak galau, nggak gaul”. Dua kata itu, “galau” dan “gaul” yang awalnya tak ada hubungannya sama sekali, kemudian begitu saja dikait-kaitkan.

Lalu bagaimana dengan cinta? Kenapa galau sering dikaitkan dengan cinta? atau sebaliknya, kenapa cinta dekat sekali dengan galau? Who comes first?

Sebab menurut saya, yang menggalau itu sebagian besar adalah orang-orang yang merasakan cinta: jatuh cinta, merindu, patah hati, dan sebagainya.

Seperti saya dan juga hampir sebagian besar manusia, yang pernah dikenai cinta, mustinya pernah merasakan kegalauan hati.

That’s why, setiap kali kita rindu, hati kita jadi susah. Setiap kali kita jatuh cinta pada seseorang yang belum tentu merasakan hal yang sama, hati kita resah tak terpadamkan. Apalagi saat cinta yang selama ini kita pegang dan jaga erat lalu kemudian hilang dan pergi, perasaan kita jauh lebih kelam daripada yang pernah kita rasakan. Umumnya, semua manusia merasa begitu. Makanya, cinta itu dekat dengan galau.

Dan seperti yang saya pernah tulis di status Facebook, “It hurts. It humiliates. but it’s our choices to or not to shared it publicly”– “Mungkin memang kita sakit hati dan galau. Tapi pilihan kita untuk membagikannya pada publik atau tidak”. Tergantung kita, apa mau menyebarluaskan kegalauan kita pada banyak orang atau menyimpan itu untuk diri kita sendiri saja.

Sunshine
🙂

Lust or Love

“Eden, when you kissed me, is that for your lust or love?” Chase asked once.
“Both of them, I guess…” and then Eden kissed his back of shoulder again.

Saya pernah menemukan dialog semacam ini di novel cinta Harlequin, dimana si laki-laki bertanya pada kekasihnya tentang cinta, nafsu atau kadang keduanya.

Kemudian saya jadi bertanya-tanya apa perbedaan dua hal ini.
Nafsu tidak lain adalah keinginan, kecenderungan, atau dorongan hati yg kuat; selera atau gairah; keinginan. sedangkan cinta adalah suka sekali; sayang benar; kasih
sekali; terpikat (antara laki-laki dan perempuan); ingin sekali; berharap sekali; rindu. (menurut KBBI)

Kemudian saya teringat pada film “Spring, Summer, Fall, Winter… and Spring” nya Kim-Ki Duk. Ada dialog seperti ini, “Lust awakens the desire to possess and then awakens the intent to murder”

Saya berkesimpulan bahwa ada cinta yang tidak memiliki nafsu di dalamnya, mungkin ini jenis cinta Ibu pada anaknya. murni kasih sayang, tanpa ada dorongan untuk memiliki, tak ada gairah. hanya ada keinginan untuk melindungi, mencukupkan, dan membahagiakan. dan cinta jenis ini tidak akan habis.

Lain halnya jika kita mencintai kekasih atau pacar kita. selain timbul rasa sayang, rasa yang lain kemudian muncul; possesif, cemburu, pengharapan di luar batas dan rindu. Sedangkan nafsu sudah ada sejak kalian mengikrar untuk saling memiliki- sebab itu tadi, “Lust awakens the desire to possess…” atau mungkin telah muncul bahkan sebelum itu.

Lust and love, bisa disatukan dalam satu konteks. Dua hal ini juga kemudian sangat berbeda dalam konteks lain.

Hanya saja, menurut saya, saat dua hal ini menyatu dalam satu hubungan laki-laki dan perempuan (apalagi yang belum, istilahnya, halal), jangan sampai nafsu menutupi rasa cinta. jangan sampai kadar nafsu mendominasi satu hubungan percintaan. Saat cinta meminta pembuktian untuk dipenuhinya nafsu, itu bukan lagi, menurut saya, cinta. Walaupun pasti sangaaat sulit menahan godaan bahkan gairah, logika kanlah semua itu.

We said, “I love you” not “I lust you”, right?

Sunshine
🙂

Grow Old With You- Adam Sandler

Menjelajah Youtube dan menemukan video lagu animasi ini. Romantis sekali kalimat, “All I wanna do is growing old with you”
Tiba-tiba saja saya mengharapkan suatu hari Brainwave dengan gitar dan suaranya yang jelek tapi kusuka muncul dan bernyanyi lagu ini untuk saya.

I wanna make you smile whenever you’re sad
Carry you around when your arthritis is bad
All I wanna do is grow old with you

I’ll get your medicine when your tummy aches
Build you a fire if the furnace breaks
Oh it could be so nice, growing old with you

I’ll miss you
I’ll kiss you
Give you my coat when you are cold

I’ll need you
I’ll feed you
Even let ya hold the remote control

So let me do the dishes in our kitchen sink
Put you to bed if you’ve had too much to drink
I could be the man who grows old with you
I wanna grow old with you