Blend In

It’s been 6 months I’ve been working in school and I still feel don’t belong to it. I got these complicated coworkers and sometimes I feel get left behind. I feel unwanted. 

Today I didn’t go to school. I informed them about it and they didn’t respond even only with “okay”. 

This is the first time and the first place I feel difficult to blend myself in. Everybody has already got everyone and they don’t want to take anyone new to join in. 

They never feel like to inform me about anything. I have to ask, I have to know by myself, I have to find out by my own. Nobody wants to try to getting closer to me, nobody wants to joke or something. Everything is so formal and strict. They only joke around with their friends and I don’t understand which part the funny sides.

It’s been 6 months and I don’t have a friend. 

I wish everything will be different in a year. 

Ri

Kemarin

Kemarin, saya dan Nita singgah makan di Coto Lesehan dekat kampus Unhas setelah lari sore. Baru beberapa menit kami makan, tiga bocah pengemis masuk dan meminta uang ke beberapa pelanggan, termasuk ke Nita.

Kupikir Nita tidak akan memberi bocah laki-laki itu apapun. Tapi saya salah duga. 

Nita tidak memberinya uang tapi memesankan dua porsi coto untuk anak itu dan teman-temannya.

“Kenapa ko belikan Nit?”, kutanya.

“Ya daripada saya kasih uang? Mending saya kasih makan”, jawab Nita singkat.

Saya tidak pernah mendapat teman yang seperti itu. Teman lain, ya seringnya tidak peduli sama pengemis dan peminta-minta. Tapi Nita, dia mengajarkan saya untuk mengubah cara kita berbuat baik. Sebab, jika kita memberi mereka uang, mereka bisa salah gunakan. Tapi kalau makanan? Mereka bisa apa selain memakannya?

Tapi sayang sekali, setelah bocah-bocah itu makan, mereka sama sekali tidak berterimakasih pada Nita. Mereka langsung pergi. 

“Sayang sekali, mereka tidak diajarkan berterimakasih”, Nita bilang. 
RI

Wajah Wajah Asing

Akhirnya wajah familiar itu menjadi asing
Teman yang dulu dekat kini jauh mengapung
Apa yang kekal?
Selain kenangan yang bahkan akan terus tergerus rubuh

Aku tahu yang menjaga kita tetap utuh adalah rasa rindu
Lalu bagaimana jika rindu pun lelap gelap lenyap?

Dan ketika kenangan dan rindu tak ada lagi, apa yang merekatkan kita?
Sungguhpun jarak membentang sepulau, satu samudera, berlapis langit.

Bukankah apa yang utuh di hati takkan terganti oleh yang tak punya hati?

Sunshine

Mute

I hate it when I talk too much. Rasanya saya ingin memencet tombol rewind dari awal. Saya benci kalau orang bisa salah persepsi tentang apa yang saya katakan. I am not good at talking, make a conversation is not my style.

This night, I want to be a stranger and hope that I don’t have any friends.

I want to runaway.

I hate this feeling.

I need my Mom. I want to come in her belly again. Tidak merasakan apa-apa. Tidak perlu mencemaskan apa-apa. Tak perlu memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan.

Please God. I need to take a rest.

Sunshine

Bravery

Semalam, aku bertelepon dengan Anita. Kami bertelepon, mengobrol apa saja, hingga tak terasa sudah jam 1 dini hari, jam 2 di Makassar.

Hal yang paling kami sering bicarakan adalah tentang pekerjaan. Kami punya profesi yang sama, jurnalis. Bedanya, aku beruntung bekerja di salah satu media nasional di ibukota, sedangkan dia bekerja di media lokal di Makassar.

Tentang Anita, mungkin belum terlalu kubahas di blog ini, tapi saat masih menjadi mahasiswa, dia termasuk yang rajin dan pintar. Aku sendiri, hanya mahasiswa yang datang, mendengar, mencatat, kerja tugas, main, pulang. Tapi Anita beda. Dia mudah paham teori-teori, dia lincah, rajin, dan tekun. Menurutku dan teman-teman lain, dia bakalan jadi dosen suatu hari, seperti teman kami yang tak kalah luarbiasa, Rido, yang sekarang sedang menyelesaikan tesisnya di Tilburg University, Belanda.

“Nit, kita semua percaya sama kamu. Kamu bisa lebih dari sekedar bekerja di situ.”
“Tidak, teman. I am just such a stupid girl”
“I hate it when you said that ‘stupid’ thing”
Dia diam atau tertawa.
“Yang kamu perlukan hanya menjadi sedikit lebih berani”,
“I don’t have any courage”
“Come on, leave your comfort zone”

Aku cuma berpikir bahwa Nita deserve a better place to work karena dia memang mampu do more. Dan modalnya cuma berani, percaya diri, take the risk. Semua orang sukses karena apa coba? Mereka berani, berani mengambil resiko, meninggalkan zona nyaman mereka dan berusaha, bekerja.

Beside, fortune favours the bold, right?

Sunshine