The Birthday Boy

Dear my nearly-future husband,

This is the day, 31 years ago, you began existing. This is the day when God disposed everything about you; your destiny, your fate, people you’ll meet and the woman you’re going to marry. I know you don’t care about your birthday but I do care. I care because this is an important day. I care because without it, I might not be where I am now and without it, we might not be together like we are now.

I love you for so many reasons. I love you because you believe in me. I love you because you make me laugh with silly jokes. I love you because you are a passionate, hardworking and kindhearted person. I love you because you tell me I’m pretty with zero makeup. I love you because you can handle all my complains, my madness, my pms and my childish drama. I love you because you buy me my favorite books. I love you because you call and videocall me between your break time at work. I love you because we’re so different, we have almost nothing in common, yet you still want to spend your lifetime with me.

I love you more than the books I have in my shelf and my cute dresses I have in my wardrobe put altogether. I love you more than the guy who invented Indomie flavour. I love you more than the love of Jack to Rose. Thankyou for allowing me to be your partner in crime, in life and to be your plus 1 in every events you’ll attend in the future.

Happy birthday, Lam.

I’m so thankful that you were born. Our great adventure shortly begins and I can’t wait to see what our future holds.

Forever and always,

Love,

Ri

I wrote this letter in his 31st birthday last month, on 29th October 2018, when we were still engaged. I wrote it and read it to him by phone call. I couldn’t give him any sweet surprise or gifts or anything. I didn’t bake him a cake. I wish I could give him more than this in his next birthdays.

Advertisements

Morning 25!

Morning! Today it’s my birthday!

I just woke up and got a lot of messages from my friends. Texts, twitter, line, whatsapp. How happy to know somebody care for you. 🙂

Thank you for all your kindness guys. I owe you. I love you.

Sunshine

Happy for you, Ma!

Dear Ma,

Happy birthday for you! I wish for your healthy and wealthy. I am so proud of being your daughter. I hope I could be as powerful as you raising children, someday. I love you, I miss you.

God, please protect my mother as you protect me here.

Mama, hari ini setelah aku mengirim Urbana, Kak Ina, langsung mengganti atau tepatnya mendedikasikan status PM nya padaku! Dia menulis di PM Blackberry nya seperti ini: ‘Tidak percuma jadi anak Kosmik! #Riana *emoticon mantap*

Mama, aku tersanjung. Tapi rasanya bukan bangga, tapi malah lega. Selama hampir enam bulan bekerja, itulah penghargaan yang paling keren yang pernah aku terima, Ma.

But I feel like I am not that good.

Postingan ini mestinya ku publish tadi malam. Tapi urbana marunda begitu melelahkan dan aku ketiduran hingga pagi.

See you, Mom.

Sunshine

Birthday Story

Dear Ma,

Kemarin hari ulangtahun ku ke- 24. Dua puluh empat tahun yang lalu sejak kau berhasil melahirkanku, dan aku resmi jadi anakmu, beban sekaligus rejekimu. Hahaha. Dan kemarin Ma, aku merayakannya jauh dari rumah. Tanpa melihat satupun dirimu dan Bapak, dan saudara-saudaraku.

Tahun ini aku di Jakarta, berteman sepi.

Skenario cerita yang seperti apa baiknya kuceritakan padamu?

Baiklah, aku tidak berteman sepi. Aku memang pintar berbohong, aku pintar bersembunyi.

Jumat malam kemarin, aku menginap di kosan Rina. Kami tidur telat, bangunnya pun telat. Tapi, saat aku terbangun, Ma, tahukah kau? Rina, Desi, Lida, Alicia, Aldi, Gilang, datang membawakanku kue ulangtahun sambil bernyanyi. Aku terkejut sekali, Ma. Aku lalu meniup lilin dan makan kue bersama mereka. Aku bahkan belum gosok gigi dan sudah menghabiskan dua potong kue tar. Mereka memberiku buku The Casual Vacancy yang selama ini aku inginkan. Aku beruntung, bukan? Ma?

Sorenya, aku kembali ke rumah dan kejutan ternyata telah menanti aku! Teman-teman Calisto7 cabang Jakarta, berkumpul sambil membawa kue ultah dan mereka memakai topi bertuliskan angka 24. Lagi-lagi Ma, aku memotong kue dan meniup lilin. Lagu ‘selamat ulang tahun’ terdengar lagi. Mereka memberiku hadiah jam tangan! Aku bahagia sekali, Ma. Rasanya mereka, teman-temanku disini telah menghapus sedihku karena kalian tak ada disini.

—-

Mama, kuharap skenario tadi benar-benar nyata.

Hari ini tak ada nyanyian ulangtahun, Ma. Tak ada kue, tak ada tradisi nasi tumpeng, tak ada hadiah, tak ada surat.

Hari ini, aku mengundang teman-teman Calisto7 karaokean. Semuanya datang kecuali Ela dan Tya.

Iya, Tya harus menjaga Kakaknya yang berjuang melahirkan anak pertamanya di RSIA, jadi aku tak bisa bertemu dengannya. Aku jadi ingat, Ma, saat ulangtahun ku ke 17 dan Ochank tidak bisa datang, aku juga sedih. Mestinya di hari-mu, orang yang berharga bagimu, datang, bukan?

Jadilah, aku dengan mood dampak macet, menanti busway hampir dua jam, dan angkot yang luarbiasa muternya, muncul di Atrium Senen. Mood ku yang buruk membuat aku tidak bisa menikmati karaokean dua jam itu. Tapi untunglah, teman-temanku menikmatinya.

Pasti kau tau, Ma, apa yang terjadi selanjutnya. Kau tau betul aku, bukan?

Last thing I remember is Rahma and Andi get mad at me. Really mad. Dan aku hanya said sorry to Andi, and promised to myself will not calling him anymore.

Aku kini harus membiasakan diri, Ma. Aku harus memperlakukan birthday layaknya ordinary and usual day. Because, you’re not with me anymore.
Pas pulang, I realized, how blessed I am for having the friends that precious as treasure.

Ini Februari, dan kemarin, biarlah berlalu. Sabtu kemarin kuharap akan tertutup, tertimbun, dan tersimpan dengan rapi di sudut ingatan yang jauh, dan memorinya takkan kupanggil-panggil lagi.

Sunshine