Baking a Birthday Cake

Hello!

Today is my boyfie’s birthday. As I planned before, today I wanted to bake a cake for him.

For a record, I have never baked a cake before especially for someone. 
So this morning, I asked my mom for the recipe. And after got home from MIWF, I started to collect the ingredients on my kitchen table. 
8 eggs

1 glass of sugar

Butter 

One spoonful of baking powder

One spoonful of vanili 

Some TBM

2 glasses of flour

some bars of black chocolate

How to make it: 

Mix sugar and eggs with mixer for an hour. 

Meanwhile, melt the butter and mix it with the TBM. 

Mix the butter+tbm with eggs+sugar into the bowl. 

Pour down the flour into the bowl.

Pour it to the loyang. 

bake it for around 45mins.

Melt the black chocolate and put it above the cake. 
Mama bilang kuenya gak terlalu oke dari luar. But it’s okay. 

Sayangnya, pas udah jadi, yang ulang tahun malah gak bisa dihubungi. Hahaha. Jadi sambil menunggu, ya I write this. 

Ini penampakannya, please don’t ketawain ya. Maklum, beginner. Yang penting kan niatnya ya? 
RI   

 

Advertisements

Morning 25!

Morning! Today it’s my birthday!

I just woke up and got a lot of messages from my friends. Texts, twitter, line, whatsapp. How happy to know somebody care for you. 🙂

Thank you for all your kindness guys. I owe you. I love you.

Sunshine

Happy for you, Ma!

Dear Ma,

Happy birthday for you! I wish for your healthy and wealthy. I am so proud of being your daughter. I hope I could be as powerful as you raising children, someday. I love you, I miss you.

God, please protect my mother as you protect me here.

Mama, hari ini setelah aku mengirim Urbana, Kak Ina, langsung mengganti atau tepatnya mendedikasikan status PM nya padaku! Dia menulis di PM Blackberry nya seperti ini: ‘Tidak percuma jadi anak Kosmik! #Riana *emoticon mantap*

Mama, aku tersanjung. Tapi rasanya bukan bangga, tapi malah lega. Selama hampir enam bulan bekerja, itulah penghargaan yang paling keren yang pernah aku terima, Ma.

But I feel like I am not that good.

Postingan ini mestinya ku publish tadi malam. Tapi urbana marunda begitu melelahkan dan aku ketiduran hingga pagi.

See you, Mom.

Sunshine

Birthday Story

Dear Ma,

Kemarin hari ulangtahun ku ke- 24. Dua puluh empat tahun yang lalu sejak kau berhasil melahirkanku, dan aku resmi jadi anakmu, beban sekaligus rejekimu. Hahaha. Dan kemarin Ma, aku merayakannya jauh dari rumah. Tanpa melihat satupun dirimu dan Bapak, dan saudara-saudaraku.

Tahun ini aku di Jakarta, berteman sepi.

Skenario cerita yang seperti apa baiknya kuceritakan padamu?

Baiklah, aku tidak berteman sepi. Aku memang pintar berbohong, aku pintar bersembunyi.

Jumat malam kemarin, aku menginap di kosan Rina. Kami tidur telat, bangunnya pun telat. Tapi, saat aku terbangun, Ma, tahukah kau? Rina, Desi, Lida, Alicia, Aldi, Gilang, datang membawakanku kue ulangtahun sambil bernyanyi. Aku terkejut sekali, Ma. Aku lalu meniup lilin dan makan kue bersama mereka. Aku bahkan belum gosok gigi dan sudah menghabiskan dua potong kue tar. Mereka memberiku buku The Casual Vacancy yang selama ini aku inginkan. Aku beruntung, bukan? Ma?

Sorenya, aku kembali ke rumah dan kejutan ternyata telah menanti aku! Teman-teman Calisto7 cabang Jakarta, berkumpul sambil membawa kue ultah dan mereka memakai topi bertuliskan angka 24. Lagi-lagi Ma, aku memotong kue dan meniup lilin. Lagu ‘selamat ulang tahun’ terdengar lagi. Mereka memberiku hadiah jam tangan! Aku bahagia sekali, Ma. Rasanya mereka, teman-temanku disini telah menghapus sedihku karena kalian tak ada disini.

—-

Mama, kuharap skenario tadi benar-benar nyata.

Hari ini tak ada nyanyian ulangtahun, Ma. Tak ada kue, tak ada tradisi nasi tumpeng, tak ada hadiah, tak ada surat.

Hari ini, aku mengundang teman-teman Calisto7 karaokean. Semuanya datang kecuali Ela dan Tya.

Iya, Tya harus menjaga Kakaknya yang berjuang melahirkan anak pertamanya di RSIA, jadi aku tak bisa bertemu dengannya. Aku jadi ingat, Ma, saat ulangtahun ku ke 17 dan Ochank tidak bisa datang, aku juga sedih. Mestinya di hari-mu, orang yang berharga bagimu, datang, bukan?

Jadilah, aku dengan mood dampak macet, menanti busway hampir dua jam, dan angkot yang luarbiasa muternya, muncul di Atrium Senen. Mood ku yang buruk membuat aku tidak bisa menikmati karaokean dua jam itu. Tapi untunglah, teman-temanku menikmatinya.

Pasti kau tau, Ma, apa yang terjadi selanjutnya. Kau tau betul aku, bukan?

Last thing I remember is Rahma and Andi get mad at me. Really mad. Dan aku hanya said sorry to Andi, and promised to myself will not calling him anymore.

Aku kini harus membiasakan diri, Ma. Aku harus memperlakukan birthday layaknya ordinary and usual day. Because, you’re not with me anymore.
Pas pulang, I realized, how blessed I am for having the friends that precious as treasure.

Ini Februari, dan kemarin, biarlah berlalu. Sabtu kemarin kuharap akan tertutup, tertimbun, dan tersimpan dengan rapi di sudut ingatan yang jauh, dan memorinya takkan kupanggil-panggil lagi.

Sunshine