Gnothi Seauton

Gnothi Seauton means knowing yourself. I read that somewhere I can’t remember. Well then, how well you know yourself?
For me it’s not something that you can find out for a day or a month. It takes years if you lucky enough. For some, it takes their whole life.
For example I just realized that I am perfectionist one. I just can’t accept it as my character because I think it’s not the best characteristic that people might have.
But now I’ll get used to it.
I know I get it from my mother.

so, how well do you know yourself?

Sunshine

Advertisements

How Excited!

How excited! For the beginning of this September I will (Insya Allah) start my new job as a journalist in one of the biggest media in Indonesia: Republika!
After passed all of the recruitment test month ago, after all the time waiting in hope and almost despair. Alhamdulillah, God showed me the way.
If there is no changing of plan, or maybe there is, I am going to updating you guys here.

Sunshine

Heart

I don’t know what’s coming through tomorrow or later here. But I already asked my heart to be strong to stand alone without you.
I can’t thank enough to have my best friends and family who really care and love me. Maybe this is it- end of us. No more you. Haa, finally! so relieve.
We’ve tried and it failed. Again. Maybe God trying to say that we’re not meant to be together, there’s someone better outside for both of us. Let’s start to find out ’em now. 🙂

Sunshine

Cerita Mini| Bapak Tua

Setiap pagi saya seringkali berpapasan dengan Bapak Tua yang menyapu jalanan. Pernah beberapa kali dia menolong saya saat ban sepeda saya bocor. Satu kali juga dia menyelamatkan saya dari kejaran anjing liar ataupun anak geng yang ingin memalak.

Saya tidak pernah berucap terimakasih pada Bapak Tua itu.

Dan dia terus saja menolong saya tanpa pamrih.

Jadi suatu sore, saat Ibu selesai mengadakan acara keluarga, saya membungkus makanan dan bersepeda menemui Bapak Tua itu di tempatnya bekerja.
Dia tersenyum saat melihat saya datang. Begitu turun dari sepeda, saya langsung mengangsurkan bungkusan makanan itu padanya.
“Terimakasih, Nak”
“Terimakasih juga, Pak”

Esoknya, saya tidak melihat Bapak Tua itu bekerja seperti biasanya. Bapak Tua itu sudah digantikan oleh seseorang yang lebih muda. Saya lalu menghentikan sepeda saya dan bertanya pada Bapak pengganti tersebut.
“Oh, maksud adik Pak Kamto? Wah, adik tidak dengar kabarnya ya? Dua hari yang lalu Pak Kamto jadi korban kecelakaan mobil. Pengendara mobilnya mabuk, dan menabrak Pak Kamto yang waktu itu sudah mau pulang ke rumah”
“Bapak bercanda ya? Kemarin saya masih bertemu beliau disini, sempat kasih makanan juga”
“Oh, itu bukan Pak Kamto. Dia saudaranya, kebetulan mereka memang mirip”

Sesampai di rumah, telinga saya menangkap suara televisi yang disetel Ayah di acara berita sore.
“Seorang wanita telah menabrak pejalan kaki di halte Tugu Tani, Jakarta. Wanita ini diduga sedang mabuk dan dalam pengaruh obat-obatan terlarang saat mengendarai mobil jenis Xenia. Kejadian ini telah menewaskan sembilan pejalan kaki. Pelaku sampai saat ini masih diperiksa oleh pihak kepolisian”.

Sunshine
Jatiwaringin, Agustus 2012

Cerita Mini | Bayangan

Kau mengirim pesan singkat bahwa akan menungguku di stasiun Gambir. Aku paham dan membalas dengan 3 huruf: oke.

Pesawat akhirnya mendarat setelah hampir dua jam mengangkasa. Jakarta lagi, Jakarta kemudian. Setelah mengambil koper aku mendorong troli keluar dan betapa terkejutnya aku saat menemukanmu di depanku, tersenyum.

“Hai, how’s the flight dear?”
Aku memelukmu, bahagia. Kau tak pernah mengejutkanku seperti ini.
“Kau bilang akan menjemputku di Gambir!”
“Aku berubah pikiran”
“Naik apa kesini?”
“Damri.”
Kau lalu menarik tanganku sambil mengambil alih troli. Kita lalu berjalan ke halte. Aku masih tersenyum.

Sepuluh menit kemudian kita sudah berada di damri menuju Gambir. Aku tak pernah duduk dalam apapun bersebelahan denganmu. Oh ya, kecuali dalam mobil.

Aku lelah dan kau tahu itu. Kau tidak mengajakku mengobrol apapun tapi malah memberiku air mineral dan sebelah headset. Aku minum lalu memasang sebelah headset itu di telinga kiriku. Musik mengalun, aku menutup mata, memegang tanganmu dan menyandarkan kepalaku di bahumu. Damri berjalan menghadapi kota Jakarta dan kita dengan nyaman duduk bersebelahan di dalamnya.

Saat aku terbangun aku melihatmu sedang tidur dengan damai dengan sebelah headset di telinga kanan. Tinggal satu belokan lagi dan kita akan sampai.

Kita turun. Kau membantuku mengambil koper dari bagasi damri. Setelah itu aku menarik koperku sendiri dan berjalan menuju shelter, mengantri taksi. Kau mengikutiku dari belakang. Masih sore, tapi matahari sudah hampir tenggelam.

Kesadaranku hilang beberapa detik hingga kau tiba-tiba mengambil koperku dan membawanya. Kau lalu memegang kepalaku dan bertanya, “How’s the flight dear? Sudah daritadi ya? Sini aku saja yang bawa kopernya.”

Langkahku terhenti. Aku memandangmu. “Bukankah tadi kau menjemputku di bandara?”
Kau terlihat bingung. “Sayang, aku baru aja sampe. Aku sudah sms kamu kan kalo kita ketemuan di Gambir?”

Pesawat akhirnya mendarat setelah hampir dua jam mengangkasa. Jakarta lagi, Jakarta kemudian. Setelah mengambil koper aku mendorong troli keluar dan membayangkan betapa terkejutnya aku jika menemukanmu di depanku, tersenyum.

“Hai, how’s the flight dear?” Kau akan bertanya seperti itu.
Aku akan memelukmu, bahagia. Kau tak pernah mengejutkanku seperti ini. Aku selalu membayangkan hal dan percakapan ini lah yang terjadi:
“Kau bilang akan menjemputku di Gambir!”
“Aku berubah pikiran”
“Naik apa kesini?”
“Damri.”
Kau lalu menarik tanganku sambil mengambil alih troli. Kita lalu berjalan ke halte. Aku masih tersenyum.

Sepuluh menit kemudian aku sudah berada di damri menuju Gambir. Sendirian. Ah ya, dengan kamu dalam bayanganku yang tetap tidak mengajakku mengobrol apapun tapi malah memberiku air mineral dan sebelah headset. Aku minum lalu memasang sebelah headset itu di telinga kiriku saja. Musik mengalun, aku menutup mata, membayangkan bahwa aku tidur dengan memegang tanganmu dan menyandarkan kepalaku di bahumu. Damri berjalan menghadapi kota Jakarta dan aku dengan nyaman duduk di dalamnya.

Aku turun. Aku membayangkan kau membantuku mengambil koper dari bagasi damri. Setelah itu aku menarik koperku sendiri dan berjalan menuju shelter, mengantri taksi. Masih sore, tapi matahari sudah hampir tenggelam.

“Sayang! Ayo, itu taksinya sudah ada.”

Makassar, 2 Agustus 2012