Kebakaran

Tadi malam kepala nyut-nyut kayak dipukul-pukul. Pas pulang kantor malah makin sakit dan rasanya gak mau naik ojek pulang. Jadi terpaksa minta K jemput di kantor. Dia datang sepuluh menit kemudian. 

Pas kelar makan malam di penjual bakso langganan, kita niat cari roti daging. Tapi karena udah dekat rumah, jadi aku bilang ke K klo ya udah pulang dulu aja. Pulang dulu taroh tas dan ijin sama Bapak kalo mau keluar lagi. 

Tapi pas uda mau dekat rumah, aku kaget karena banyaak banget orang berkumpul di sekitar rumahku. Kupikir ada kawinan, K pikir ada demo. Pas udah di depan rumah, aku turun dan nanya. 

Kenapa rame Bu?

Kebakaran tadi siang sekitar jam satu.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. 

Jadi di samping rumahku ada tanah lapang luaaas banget. Disitu tinggal sekitar 30 KK illegally. Mereka muncul gak tau darimana tiba-tiba bangun rumah disitu. Rumahnya dari papan, tripleks dan kayu. Jenis rumah yang emang bukan permanen. Mereka udah tinggal lama disitu, udah beranak pinak. Anak-anaknya banyak. Nah rumah-rumah inilah yang terbakar. 
Jarak rumah mereka ke rumahku itu cuma 30 meter dan kalau gak ada pohon tinggi dan jalanan kecil yang membatasi, bisa-bisa rumahku juga ikut hangus. 
Mama cerita kalau yang pertama kali liat api adalah tukang yang lagi kerja bangunan rumahku. Hal pertama yang dia lakukan adalah mematikan semua saklar listrik. Kemudian, dia teriak “Bu, kebakaran!”

Api menjalar cepaat banget sampai-sampai pas selang dan sumber air sudah nyambung, rasanya udah telat banget. Asap hitam membumbung di langit mengundang banyak orang. 

Mama di rumah sudah berhasil mengamankan barang-barang, buku-buku, pakaian, dipak dan dimasukin ke mobil. Mobil diparkir sejauh mungkin dari api.
Tapi emang kuasa Allah SWT, rumahku alhamdulillah gak kenapa-kenapa. Bahan bangunan yang disimpan di luar juga gak tersentuh api sedikitpun. Padahal angin berembus ke arah rumahku!

Terimakasih ya Allah, Engkau masih melindungi kami sekeluarga. 

RI

Advertisements

Saat Aku Sakit

Saat aku sakit, aku terkurung dalam kamar yang penuh dengan teman-temanku. 

Sebab tiba-tiba guling menjadi sahabat yang mudah sekali kupeluk lalu kutinggalkan.

Buku-buku menjadi teman yang tak tergantikan, menghiburku dengan ceritanya yang sungguh menarik hati.

Jendela kamarku setiap pagi menawarkanku musik dari ceria kicau burung asmara

Karena orang-orang asli tak ada yang datang menawarkan percakapan yang begitu kudamba

Mereka hanya membawakan makanan lalu keluar

Dan aku hanya memikirkan diriku sendiri

RI

Hujan

Hujan sudah tak ada tanda-tanda akan reda. Tahun lalu saya menyaksikan dari rumah di Tanjung Priok, Jakarta Utara, hujan turun semalam suntuk dan paginya air sudah setinggi lutut kakiku.

Di Makassar sekarang, hujan sudah turun deras sejak Sabtu dan ini Selasa. Belum ada tanda akan reda. Semenit pun.

Katanya Jalan Pettarani sudah banjir seperti sungai. But here I am now, safe and sound at home laying down in bed doing nothing but post this.

Sambil berpikir dan merasa sebenarnya aku mau jadi apa dengan bertingkah sangat malas beberapa minggu ini. Semua saya lakukan dengan separuh-separuh tak berjadwal. Even my medication and diet. Hhhh….

I have to wake up and get up and do something right now but the weather is so good to sleep. -,-

Sunshine

Coming Home

Sudah sejak Kamis disini, di rumah Makassar. Rasanya tenang dan damai. Of course, tanpa kerjaan dan tugas peliputan tiap hari yang melelahkan itu, saya habiskan waktu hanya buat keluargaku.

Akhirnya Warni dan Fauzi resmi jadi pasangan suami istri. Waktu akad nikah kemarin, saya benar-benar diliputi rasa bahagia dan haru. Saya menangis sampai riasan wajahku luntur dan mataku basah memerah. Alhamdulillah.

Hal yang membahagiakan adalah fakta bahwa Bapak dan Mama juga bahagia. Meskipun agak kelimpungan mengatasi soal biaya, tapi semuanya bisa dilewati. Prosesi pernikahan mulai dari siraman, tamat Qur’an, mappaci, akad nikah, mapparola dan resepsi di gedung, dimudahkan. Alhamdulillah.

Besok malam saya kembali ke Jakarta. I wish I could stay longer. Berada di rumah adalah satu hal yang penting. Pulang sebentar adalah seperti mengisi kembali semangatku untuk hari-hari berat kedepan sebagai seorang reporter.

Saya berharap ada panggilan wawancara. Dari tempat yang lebih baik dari kantor.

Tawakkal pada-Mu ya Allah.

Sunshine

Tak Akan Ada Rindu Jika Tak Ada Jarak

Jauh dari keluarga dalam waktu yang sangat lama akan menjadi ujian paling berat yang pernah saya rasakan dalam hidup 23 tahunku. Di malam seperti ini, saat telepon tak berbunyi, tak ada pesan ataupun telepon yang mampu menghibur, saya sangat rindu pada keluargaku di Makassar. Saya hanya bisa mengutuki jarak dan dimensi. Saya ingin sekali menarik rumah Telkomas ke Jatiwaringin dan memeluk Mama sambil menangis keras-keras.

Lalu, Bapak akan datang menertawakan kami berdua yang sedang berpelukan. Tita cemburu dan akan berusaha memisahkan kami. Dia juga pasti mau memeluk Mama. Meli, Lulu, Warni dan Ayu akan berkumpul di kamar Mama Bapak lalu kami akan bercerita tentang apa saja, menertawakan apa saja, berkeluh tentang apa saja. Biasanya saya paling sering membuat mereka tertawa dan tersenyum.

Biasanya saat badanku terasa pegal karena jalan seharian atau tidak sengaja jatuh di satu tempat, saya akan mencari Bapak yang biasanya asik menonton televisi. Saya akan memintanya memijit leher dan bahuku bahkan kaki-kakiku. Sekarang, seperti saat ini, badanku pegal seluruhnya, saya hanya bisa memijit diri sendiri sambil merindukan beliau.

Tumpukan baju yang sudah tiga hari saya angkat dari jemuran masih terserak di atas kasur. Saya tak menyentuhnya selama berhari-hari. Tak ada yang menegur, tak ada Mama disini yang bertugas untuk itu. Saya merindukan beliau.

Pekerjaanku luar biasa melelahkan dan menghibur di saat yang sama. Teman-teman baru di kantor semuanya baik dan ramah. Tak ada yang sombong, semuanya senang membantu. Pekerjaanku tak ada masalah, hanya beban produktivitas dan target yang harus ditingkatkan tiap bulannya.

Kadangkala, saat bertemu orang baru, yang jumlahnya sudah tak terhitung, mereka sering sekali terkejut mengetahui asal daerah saya yang begitu jauh. Saya sudah bisa ngobrol dengan aksen disini, walaupun belum begitu lancar. Saya sudah menjelajah ke banyak sekali tempat. Mengalami banyak hal, mengamati banyak orang, mengingat detil-detil. Semuanya pengalaman baru dan harga yang saya tukar untuk itu sungguh sangat mahal.

Ini bagian dari pembelajaran hidup. Jujur, saya kadang juga bingung mendapati diri saya mau menjalani semua ini. Jauh dari keluarga, dari kampung halaman, kenapa?. Saya juga kadang merasa iri jika ada teman yang menikah dan berkeluarga, hidup aman damai sejahtera dengan keluarganya. Dan saya sibuk pindah dari satu tempat ke tempat lain, menemukan teman dan tempat baru. Saya kadang heran mendapati diri saya sudah bisa mengatasi segala keraguan dan ketakutan yang sempat melanda sebelum memulai semua ini. Tapi semua takut dan ragu harus dihadapi, bukan? Karena tak ada cara lain selain itu. Semua badai pasti akan terlewati.

Brainwave sudah tak ada (yeah, he left me twice). Saya rasanya harus mulai dari awal. Jatuh cinta bukan bagian dari rencana, tapi kalau itu terjadi lagi, saya bersyukur. Bukannya saya pemilih atau selera tinggi, tapi sejak remaja saya memang tak pernah tertarik dengan banyak pria. Hanya sedikit yang membuat hati saya ‘tergerak’. Brainwave mungkin merasa saya perempuan yang sulit dan sering menyulitkannya. Haha.

Saya rindu pada kehidupan saya yang dulu di Makassar. Keluarga yang heboh di Telkomas, teman-teman Cals di kampus yang konyol tak terlupakan, produksi film di Gedung Kesenian, ke Gramedia+ nonton film dan kencan berdua dengan Kak Aan, Astamedia Group di BTP, datang ke acara-acara keren seperti nonton teaternya Kak Shinta, kumpul dan bergosip sekalian belanja sama Nita, Isti, Dini, Tya, Ira dan Rahma sampai keliling Makassar sama Brainwave. Semuanya layak dikenang dan dirindu.

Menulis adalah terapi. Teman adalah obat. Keluarga adalah segalanya. Hidup dengan cinta yang melimpah adalah anugerah. Terimakasih, ya Rabb untuk segalanya. Takkan ada rindu jika tak ada jarak, bukan?

Sunshine
Jatiwaringin, 13 Oktober 2012

Rumah Badai

Sebelum badai datang, Sayang
Marilah membangun rumah kita
mendirikan pondasi demi pondasi
sekuat-kuatnya.

mungkin langit masih cerah
dan hujan belum pula turun
karena itu, mari kita menaikkan atap rumah kita
membingkai jendela persegi di dekat pintu

Rumah kita betapa indah, sungguh
takjub aku memandangnya
kita berdua bersama anak-anak
kita akan hidup bahagia bersama di dalamnya

Sesaat, ketika badai datang menghantam-hantam
pikirku kita akan aman di rumah

Kalau kau takut, aku takut melihatmu ketakutan
aku memelukmu, kau mendekapku
tak ada suara, diluar hujan lebat
petir menyambar-nyambar

badai menghantam-hantamaku memelukmu, kau mendekapku
kita berdua di dalam rumah
rumah kita…