There Is No Other Way

There is no other way. If you have a dream, you have to work on it. Pursue it by action, daydreaming is not enough and it’s not going to make it happen. Action will.

I set up the picture of University of Aberdeen as my phone wallpaper since 3 months ago. Tonight I am staring at it again and think, “it’s not going to be happened unless you do something about it, Ri”.

But see? I don’t know what slows me down. I don’t know. The biggest reason is me, indeed.

Sunshine

Happy birthdaaaay CHANK! You are the best friend anyone could ask for. May Allah grants you with the best in your duniyya wal akhirat. :)
*repath ya Nu* – with Nurul, Ekawati, and Faudzan

View on Path

Notes from Rain

It’s been raining since morning. I planned to go to Zoya in Perintis today but because of rain, I postpone that plan. Here is one reason I really want to have a car. My parents cannot afford it neither my sister and me. So, yeah. I don’t put my hope too high on reality.

Ramadhan is going to an end. Couple days more. It’s time to put a big mirror in front of me and reflect “am I now a better person than last Ramadhan?”

Only God knows.

So many bad news recently. Gaza has blown up with missile, so many innocent people died. MH17 airlines was shot down in Ukraine, 295 died. Typhoon in Phlippine.

But so many happy days too from my family and friend. Like I said before, my two sisters passed the entrance exam in Senior High School and Hasanuddin University. It was like a miracle.

My two friends are getting married. And probably I will attend her wedding in Jakarta this November.

Work in office getting harder. But I am already 6th ONC this month. Time flies.

Sunshine

Hati

Patah hati bermula dari sini.
Rayya hanya menyimpan Tuhan dalam hatinya yang sungguh besar. Saat Tuhan meminta untuk selalu memuliakan orang tua, dia memberi ruang untuk orang tuanya. Kemudian, orang tuanya meminta Rayya untuk menyayangi adik-adiknya. Maka ruang hatinya tadi diisi lagi oleh adik-adik kesayangannya.

Lalu Rayya hidup dengan bahagia. Dimanapun dia berada, senyumnya tak pernah lepas dari bibir. Saat melihat hal-hal yang indah, dia teringat Tuhannya, yang disimpannya dengan baik dalam hatinya yang besar. Dia berucap, “subhanallah, Allahu akbar” dengan tercekat. Rayya seringkali takjub dengan hidupnya dan hal-hal yang melalui penciptaan Maha Sempurna.

Kata orang, hati kita cuma satu. Dan orang-orang yang kita cinta, menempati ruang-ruang yang berbeda di dalam sana.

Kebahagiaan Rayya dimakan waktu. Dia merasa hatinya terlalu lapang bahkan setelah membagi-baginya untuk Tuhan, orang tua dan adik-adiknya. Dia butuh seseorang, yang bisa dicintainya, yang mampu membuatnya menjadi utuh  (bukan berarti awalnya dia hanyalah kepingan).

Waktu berlalu. Tak lama, muncullah Zaffar. Laki-laki yang lembut dan penyayang. Sosok pemimpin yang cerdas dan menawan. Laki-laki paling baik yang bisa diharapkan Rayya.

Tapi Zaffar jauh dari jangkauan. Dia begitu bersinar, begitu terang seperti bintang. Rayya mengakui dirinya seperti ingin memetik bintang yang tak terjangkau. Kecuali oleh matanya saja.

Namun Tuhan menghendaki Zaffar hadir dan mengenal Rayya. Selanjutnya, Dia hanya menjalankan rencana dan gerakan kecil agar Zaffar menjadi bagian dalam hati Rayya yang lapang.

“Aku cinta padamu”,

Adalah mantra ajaib. Tiga kata itulah yang membuat Zaffar lalu masuk dalam kehidupan Rayya dan dalam hati perempuan itu.

Tuhan, orang tua, adik-adik dan Zaffar mengisi ruang-ruang berbeda dalam hati Rayya yang besar.

Kemudian dalam satu petikan jari, CLAP!

Di suatu subuh, orang tua dan adik-adik Rayya tewas dalam kecelakaan maut pada perjalanan dari Bogor ke Jakarta. Seorang bocah yang kembali dari mengantar pulang pacarnya, melarikan mobil mewahnya seperti orang kesetanan. Saat mobilnya lepas kendali di jalan tol kilometer 19, mobilnya menghantam pemisah jalan dan menabrak mobil keluarga Rayya. Keluarga Rayya tewas dan bocah ugal-ugalan itu selamat.

Beberapa bulan kemudian, bocah itu divonis bebas. Pengadilan memutuskan bahwa ia masih dibawah umur untuk diperlakukan seperti kriminal pada umumnya. Orangtua bocah itu lega, anaknya bebas dari tuntutan.

Rayya merasa dirinya ikut mati di mobil itu bersama seluruh keluarganya. Dia nyaris tak bisa berpikir, bahkan dia tak yakin dia sungguh-sungguh bernapas, dan hidup. Hatinya berantakan. Ruang yang dulu ditatanya rapi, kini hancur. Tak ada yang bisa menanggung perihnya kehilangan.

Beberapa pekan setelah mencoba menata hidupnya, Zaffar kembali menghancurkannya. Dia memutuskan untuk menikah dengan calon pilihan orangtuanya.

“Maaf Rayya, semoga ini yang terbaik buat kita”,

Dan begitu saja, Zaffar pergi. Dia pergi setelah Rayya menyimpannya rapi dalam ruang hatinya yang lapang. Bagaimana bisa Zaffar berpikir ini akan menjadi hal yang baik bagi Rayya? Apa dia pikir menyimpan seseorang dalam hati kemudian minggat begitu saja adalah perbuatan yang pantas?

Begitu perih kehilangan, begitu sakit rasanya ditinggalkan.
Dan dari situlah patah hati bermula.

Sunshine
Menunggu pagi datang.
Ramadhan 2014

Life Lately

Life has been fun lately. Today is 16th Ramadhan, which is closer to Nuzulul Qur’an. Voting for Presidential Election has done and now just wait for the result from the official (Jokowi wins the Quick Count!). The last but not least, World Cup 2014 is over with Germany as a winner!

Oh ya, my little sister, Amelia is senior high school student now. I am proud of her since she went into public school, not a private one.

I work now in Briton BTP, it takes only 15 minutes by motorcycle from my house.

Alhamdulillah.

How’s life so far guys?

Sunshine

Ramadhan Mubarak!

Ramadhan is coming! I am so lucky and blessed getting the chance to meet this holy-once-in a year-month.

Selamat beribadah for all Muslim all over the world! May Allah grants us with a good condition to pray the whole month.

Sunshine

How I Knew E.E. Cummings

It was Cameron Diaz, the actress who plays on “In Her Shoes” movie. I watched her reading E.E. Cumming’s “I Carry Your Heart With Me” and I was moved.

Back then when I studied in CESL, Tucson, my teacher, Kathleen, asked us to recite the poem in class. We had to memorize it. Kathleen gave us freedom to choose any poem we like to read. And spontaneously, I chose that poem: I Carry Your Heart With Me.

I got the very last turn. I still remember how it felt like. I still remember how my hearts thumped while reciting. I still remember the line that I almost forgot but lastly, I did it. Almost perfect.

When I went back to my seat, my Nicaraguan friend, Maria, told me that I read it very clearly and smoothly. I was happy. After that, Kathleen gave me high five, too! Steve, the other teacher who witnessed all the recitation said that I make ‘something good’ in class.

Thankyou E.E. Cummings!

Sunshine
*another sleepless night*