0

Tight Deadline

Ah, dashboard via web berubah jadi unyu banget gitu gak sih?

Ahad kemarin, aku baru aja pulang tugas dari Pangkep, liputan pesantren putri IMMIM. Sejak dibayarin ongkos kesana, aku setuju-setuju aja pas ada klien tawarin liputan itu. Toh Pangkep berjarak dua jam dengan mobil ke Makassar, my hometown.

Jadilah, kelar liputan, Sabtu malam aku udah ada di rumah. Rasanya aneh banget. Tita keluar sambut aku sambil bilang, “Is that really you? I am in shock!”

Yah, aku juga ngerasa hal yang sama. Pulang menjadi sesuatu yang aneh kalau kita lakuin itu terhitung cuma tiga bulan sekali. Ketemu Mama, Bapak, dan lima saudara perempuanku. Rasanya priceless banget ngumpul di kamar Warni ngobrol dan ketawa-ketawa, teriak-teriak amburadul gak jelas. Dan malam ditutup dengan makan di depan tivi, di lantai, sama-sama. Makanannya dikit, jadi kita dulu-duluan siapa yang cepet.

The moment I won’t get when I get back to Jakarta, mother-hell city.

Pas setor oleh-oleh dari China, aku senang banget, soalnya gak seperti pas bagiin oleh-oleh dari US tiga tahun yang lalu, Mama juga ngerasa senang dibawain banyak barang bagus. Tita, Meli, Lulu juga kebagian baju dan jam tangan. Warni, Ayu, Bapak juga dapat baju dan dompet. Ah, kalau Mama senang rasanya kayak menang kejuaraan apa gitu, bahagia.

Aku di rumah cuma 24 jam. Kalau dikurangin waktu tidur aku yang mirip kebo, 9 jam, artinya aku cuma 15 jam di rumah. Which is not enough for me. Tapi mau gimana lagi. Kerjaan wait me there, in another city.

Sebelum berangkat ke bandara dan Mama udah packing-in baju aku ke koper baru- koper lamaku rusak-, aku sama beliau pelukan lamaaa banget. Mama minta aku buat kerja aja kembali ke Makassar. Dia gak sanggup jauh-jauh sama anaknya. And she’s cried, I cried, both of us cried without voice.

Dan aku mutusin saat itu juga, begitu kontrak habis aku bakalan quit dari kerjaan aku sekarang begitu aku dapat kerjaan baru. Ini bukan karena aku gak suka kerjaannya, bukan karena aku gak suka kantornya, ini beneran karena Mama mintanya gitu.

Sunshine

PS. Aku niatnya nulis ini lebih panjang, tapi redaktur terus PING! dan nanya progress kerjaan. Ini ditulis sementara ngerjain Mujahidah sih. Rese, kerjaan banyak banget, ampun-ampunan deh.

0

Galak

Mama bilang aku udah harus mempersiapkan masa depanku dengan seseorang begitu Warni, kakakku, menikah Oktober nanti.

Aku jawab, gak bisa janji, mana bisa kalau pacar pun tak punya? Itu seperti mau banget punya iPhone tapi gak punya duit. Pengandaiannya bener gak sih?

Trus Mama bilang lagi, ‘makanya kamu jangan galak-galak jadi perempuan. Entar cowok-cowok takut deketin kamu’.

And I feel like, memangnya aku ini galak ya?
Tapi aku malah jawab, ‘mau jadi diri sendiri aja, Ma. Aku mau dapet laki-laki yang terima aku apa adanya. Entar aku yang siksa kalo akting manis cantik melulu’.

Mama gak jawab apa-apa lagi.

Aku mau laki-laki yang sayang aku banget, Tuhan. Dan aku sayang banget dia juga. Mulia dunia akhirat. :)

Sunshine

0

I am Into You

Lately, I enjoyed reading Divortiare and Twivortiare by Ika Natassa.

Rasanya seperti membaca ulang hubunganku denganmu, B.

Tokoh Beno dalam buku itu, punya beberapa hal yang sama sepertimu. Dia tidak banyak omong, and he’s really passionate when he talks about his job.

Alexandra punya karir dan dia juga cerewet soal ‘perhatian’. Gerutuan yang sama denganku.

And both of them really love each other although they have divorced.

Dalam beberapa postingan ke depan, mungkin aku akan menulis tentang buku ini dan mungkin juga tentangmu, B.

Sunshine

0

Learn Something

Saya belajar bahwa jika Tuhan ingin memberi kita rejeki yang melimpah, maka kita akan mendapatkannya tanpa peringatan. Allah tahu sekali cara memberi kita kejutan, baik dengan rejeki ataupun dengan musibah. Kekuasaan-Nya sungguh tiada batas.

Saya belajar bahwa kita harus siap sedia menerima segala kehendak-Nya. Musibah seberat apapun dan rejeki seindah apapun. Kita harus selalu ikhlas, sabar dan bersyukur. Sesungguhnya, ikhlas, sabar dan bersyukur itu tiga hal yang kadang sulit dilakukan oleh manusia, termasuk saya sendiri.

Kita semua masih sedang belajar menjalani hidup.

Saya juga belajar bahwa orangtua adalah penentu nasib kita. Kita akan bernasib baik jika kita berlaku hormat pada orangtua. Dan kita akan ditimpa sial, jika berlaku buruk pada mereka. Doakan mereka, hormati mereka. Jangan pernah sekalipun membuat mereka bersedih ataupun bersusah disaat kita malah bersenang-senang.

Ridha Allah ada pada ridha orangtua.

Allah memberi banyak sekali, sedangkan saya memberi sedikit sekali. Allah memberi saya segalanya, sedangkan saya tak memberi apapun. Tapi, rasanya Allah tetap saja sayang padaku. Allah masih saja baik dan mengasihi.

Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan, Ri?

Sunshine

0

Left Only in Draft

Brainwave,
Hotel di Fangchenggang ini ndak ada wifinya seperti di Nanning kemarin. So, lebih banyak mati gayaku disini. Kemarin masih bisa bbm-an, WA, bahkan twitteran, tapi sekarang, sudah ndabisa berekspresi di socmed. Tau kan, Facebook dan Youtube diblokir di China? Tapi kayaknya bukan cuma dua website itu. Tapi juga beberapa website lain seperti wordpress atau blogspot ato Tumblr.

Akhirnya, dua hari formal itu lewat sudah. Besok naik kereta sekitar 12 jam ke Guangzhou. Dari Guangzhou baru pulang ke Indonesia. Works waiting. couple days more in Chinaaa!

By the way, tadi di closing ceremony, Indonesia satu-satunya delegasi yang menari. Delegasi ASEAN lain cuma nyanyi-nyanyi. Beberapa pejabat dari Indonesia, after closing ceremony, congratulate us. Termasuk Bapak Wiranto. Hehe. We’re so proud and happy. Acaranya meriaaah sekali. Tapi kayaknya pasti sering mi mu liat acara begitu pas di Esplanade dulu.

Disini satu hal yang perlu diperhatikan baik-baik adalah makanan halal. Susaaaaahnya minta ampun. Selama ini makanan pasti disediakan hotel. Tapi hotelnya pun sering tidak tahu batasan makanan halal buat kita itu bagaimana. Jadi, terpaksa, cuma bisa liat-liati orang non muslim makannya lahap sekali tapi saya cuma makan roti, buah atau ikan sama nasi. Saya tidak tahu bagaimana pelajar Indonesia bisa bertahan di China sekolah lama-lama dengan makanan kayak bgitu.

Email ini tidak terkirim saking kelelahannya aku. Mestinya bisa dikirim pake jaringan internet LAN. Besok paginya pas sadar email ini belum dikirim, aku terlalu sibuk untuk memencet tombol Send. Jadilah, aku menemukannya lagi di kolom Draft email, menunggu untuk dihapus, atau dipasang selamanya disini.

Sunshine

0

Visit China

Hello, pals! Been a week not write in here, ya? Hehehe.

So, I’ve been from China. Saya mengunjungi tiga kota dua provinsi. Pertama di Nanning, Provinsi Guangxi lalu ke Fangchenggang. Lalu ke Guangzhou, Provinsi Guangdong.

Rasanya luar biasa bahagia.

Saya suka bepergian. Saya suka cara Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan untuk membuat saya bahagia. Saya bahagia mendapatkan kesempatan yang tidak semua orang bisa dapat. Bagi saya ini merupakan sebuah pencapaian.

Saya suka sekali mengunjungi tempat baru. Saya suka berinteraksi dengan budaya baru. Saya suka mendapati diri saya dalam keheranan mendapati daerah yang saya lihat berbeda sekali dengan negara saya.

Dan saya sering sekali “beli beha di Arab”, alias berharap.

So, ini beberapa foto-foto selama saya disana.

IMG_1832

???????????????????????????????

IMG_1915

IMG_8922

Closing Ceremony, Fangchenggang

IMG_1585