Kamar Mandi dan Haruki Murakami

Haruki-Murakami-UHM

Saya tidak tahu apa yang terjadi jika tak ada kamar mandi. Maksud saya bukan dalam hal buang hajat. Saya seringkali mendapat ide teknik mengajar disana yang kemudian membuat saya sendiri terkejut. Kenapa harus disana? Kenapa bukan di dalam kamar misalnya, atau pas saat saya memang tengah membuat lesson plan.

Kamar mandi adalah tempat yang pertama kali saya kunjungi begitu bangun di pagi hari. Entah apa ada yang punya kebiasaan sama dengan saya atau tidak. Biasanya di dalam sanalah saya duduk sambil mengumpulkan kesadaran. Sambil pipis, cuci muka dan sikat gigi, saya merencanakan apa yang saya lakukan hari itu.

Pagi ini ketika saya masuk ke kamar mandi, saya tiba-tiba mengingat Haruki Murakami.

Lebih tepatnya ingatan saya tentang membaca karakter-karakter rekaannya yang begitu kuat.

Buku Murakami terakhir yang saya baca berjudul 1Q84. Di buku itu, saya terpana dengan karakter Aomame, Tengo dan Ushikawa. Mereka seperti benar-benar ada di belahan bumi lain. Hidup, bernapas dan melakukan semua hal yang mereka lakukan di dunia yang sama dengan yang saya tinggali. Di tiga jilid buku itu diceritakan bahwa mereka terjebak di dunia dengan dua rembulan. Apa yang membuat karakter ini tinggal begitu lama di kepala saya?

Murakami memang ahli dalam menciptakan karakter dalam bukunya. Membaca bukunya rasanya seperti menonton film-film karya Kim Ki Duk; “Samaria”, “3 Iron”, ataupun “Spring, Summer, Fall, Winter…and Spring”. Kisahnya absurd, gelap, menyedihkan dengan karakter pemeran yang sangat kuat.

Saya suka “1Q84″. Tapi saya lebih suka “Sputnik Sweetheart”.

Bagian yang paling membekas di ingatanku adalah saat salah satu tokoh bernama Miu menceritakan rahasianya pada K. Kisah di balik rambutnya yang tiba-tiba memutih seluruhnya. It was terrifying, dark and absurd.

Maksud saya, bagaimana bisa Murakami mendapat ide segila itu? Apakah dia juga seperti saya dan mungkin orang-orang lain, yang seringkali mendapat ide dari dalam kamar mandi?

Sunshine

All of Me

Semoga semangat menulisku ini terus terus ada. Menyelesaikan apa yang saya mau dari dulu.

Cerita cinta, yang di dalamnya ada jutaan kalimat “aku cinta padamu”.

Satu kata kerja yang menciptakan peradaban di dunia ini. Bukankah hal itu paling ajaib?

Anita dan Alex.
Clare and Henry.

Sunshine

Sebuah Rumah Bernama Katakerja

Wall of Messages in Katakerja. Colorful! Which one is mine?

Wall of Messages in Katakerja. Colorful! Which one is mine?

Saya tak tahu kenapa Kak Aan memberi nama Katakerja, hingga sore itu saya menanyakannya pada Bu Manajer, Eka.
“Diambil dari cerpennya Kak Aan yang ada di Kukila berjudul sama”, katanya.

Jadi kemarin saya menghadiri (ikut meramaikan) acara launching Katakerja. Katakerja ini adalah sebuah perpustakaan mini lengkap dengan ruang diskusi, kelas film- craft- menulis dan bahasa inggris. Disini juga menjadi basecamp beberapa komunitas di Makassar. Saya memantau perkembangan Katakerja ini dari postingan Kak Aan di Path. Saya jadi tahu bagaimana teman-teman K An membantu dan menjadikan Katakerja ini menjadi satu tempat yang nyaman bagi siapapun.

I met with Andi Burhamzah (Anca), an old friend from Aliguka. He came for his short movie “Cita” would be screened. For truth, that’s my other reasons to come: I want to watch his movie and also Aditya Ahmad’s (another old friend) “Sepatu Baru”.

Peresmian Katakerja ini dilakukan bersamaan dengan Hari Perfilman Nasional, 30 Maret 2014. Dan akhirnya memang saya habiskan menonton empat film pendek yang sudah lamaaaa sekali tidak saya lakukan. Saya jadi merindukan masa-masa kuliah, saat masih suka produksi film pendek.

Saya membayangkan di masa depan, saya akan menghabiskan setiap pekan yang saya miliki di Katakerja. Bersama buku-buku di rak maupun buku dan burung yang tergantung di langit-langit ruangan. Beberapa anggota komunitas akan sibuk mondar mandir di ruangan mereka. Kemudian anggota kelas craft atau peserta diskusi juga tak akan peduli dengan saya, yang hanya menulis dan menatap laptop.
Saya membayangkan satu buku saya akan kelar disana.
Hahahaha.
Sungguh, Ri.
Mentang-mentang bermimpi dan berkhayal itu gratis, khayalanmu pun sudah demikian jauhnya.

Selamat ber- Katakerja! Bagi yang berada di sekitar Makassar, Katakerja ada di BTN Wesabbe Blok C No. 65.

Sunshine

Eleanor & Park

I read many books recently. And I think that it’s good to start to review some of them in here. I don’t know why, but I always love the books I got in bookstore.

Eleanor & Park

Eleanor & Park


Eleanor & Park by Rainbow Rowell.

Di Indonesia, buku ini diterbitkan oleh Phoenix yang menurutku melakukan kesalahan di bagian cover buku. But overall, terjemahannya cukup bagus meskipun jika saya menemukan versi aslinya, I don’t mind to buy and read it again. Ceritanya indah. Bahkan untuk saya, yang sudah lama meninggalkan masa remaja dan masa SMA dan telah melewatkan saat-saat itu tanpa merasa jatuh cinta.

Eleanor itu gendut. Dia punya rambut keriting berwarna merah yang megar (di cover buku versi penerbit Phoenix, Eleanor digambarkan bertubuh seksi dan rambut coklat). Dia rendah diri karena dia sama sekali tidak cantik. Eleanor hidup bersama empat adiknya yang masih kecil. Ibunya menikah lagi dengan seorang laki-laki yang jahat bernama Richie. Mereka tinggal di sebuah rumah yang tak cukup layak disebut rumah. Eleanor benci segala hal dalam hidupnya kecuali satu, Park Sheridan.

Park itu keren dan mengagumkan. Dia suka baca komik, Watchmen, X Men dan Star Trek. Dia suka The Smiths. Dia keturunan Korea, yang membuat Eleanor di awal pertemuan menyebutnya anak Asia Bodoh.
Park tak pernah menyangka akan mencintai Eleanor. Eleanor pun tak pernah terpikir akan merasa begitu membutuhkan Park.

Hal itu terjadi saat Park, dengan enggan, memberikan Eleanor tempat duduk di sebelahnya, di dalam bus sekolah. Saat teman-teman Park lain mengejek Eleanor, “Merah Besar”.

Segalanya berubah karena reputasi Eleanor di sekolah tak sebagus reputasi Park. Semua suka Park, sedangkan Eleanor hanya berteman dengan sekumpulan orang-orang aneh yang menjadi korban bully.

Hal paling saya suka di buku ini adalah cara penulisnya menggambarkan setiap detail perasaan karakternya. Seperti saat pertama kalinya Park memegang tangan Eleanor di bus. Robert Rowell menulis seperti ini,
“PARK : Memegang tangan Eleanor terasa seperti memegang kupu-kupu. Atau denyut jantung. Seperti memegang sesuatu yang lengkap, dan benar-benar hidup.”

eleanorgraphic

EPbannder_edited-1

“ELEANOR : Bahkan jika dirinya pecah menjadi satu juta bagian yang berbeda, Eleanor masih bisa merasakan Park memegang tangannya. Dia masih bisa merasakan ibu jarinya menjelajahi telapak tangannya. Mungkin Park telah melumpuhkannya dengan sihir Ninja-nya, tongkat Vulcan-nya,, dan sekarang dia akan memangsanya”,
Jika kalian meminjam bukuku, kalian akan menemukan beberapa catatan kecil begitu kalian membuka cover bukunya. Saya menemukan banyak sekali kalimat yang begitu manis dan saya tak sanggup untuk tidak menuliskannya.

“Di mata Park hanya ada Eleanor”

“ Hanya ada ia seorang”, pikir Elanor

PARK: Dia bertanya-tanya, seberapa besar peluangnya untuk bisa bertemu dengan seseorang seperti itu. Seseorang yang bisa dicintai selamanya, seseorang yang juga akan mencintai kita selamanya? Dan apa yang akan kita lakukan jika orang tersebut dilahirkan di belahan bumi yang lain?

Have a nice reading!
Sunshine

Rindu

Saya cuma mau menyampaikan bahwa saya rindu.

Saya rindu bilang “aku sayang kamu” pada seseorang.

Saya rindu merasa rindu.

Berapa lama lagi Tuhan kamu membiarkan saya menunggunya?

Sunshine

Poor

In the middle of this night, I can’t sleep. So I thought maybe I was hungry.

So I got up from my bed and went to kitchen.

I opened the fridge. There was no food. Upset. I held the urge to wake my mother up.

Then I found instant noodle on my mother’s bed. I took it.

Damn! The cooking pot was in the next to the kitchen and it’s locked already I couldn’t open it somehow.

So I ate the noodle by hot weather.

Next I found some eggs. I would like to fry one.

Unfortunately, when I tried to turn on the stove, it ran out of gases.

So I am writing this. Just hope I can sleep after.

Sleep tight everyone.
Sunshine

Apakah Membuat Batasan adalah Perlu?

Suatu hari Anita pernah berkata padaku dalam sebuah percakapan telepon betapa dia tak bisa menulis. No matter how hard she tried. But I encouraged her. I told her semua orang bisa menulis.

Sekarang Anita telah keluar dari batasan yang dulu dia buat sendiri. Dia telah bekerja sebagai wartawan di sebuah koran lokal di Makassar. Kini pekerjaannya setiap hari adalah menulis.

Dulu saya pernah berkata pada Nita bahwa speaking English ku sangat tidak bagus. Saya masih sering berpikir sebelum ngomong. Anita agak terkejut saat saya jujur padanya karena setau dia, sebagai seseorang yang sudah pernah been abroad, speaking English should not be a problem anymore. But I told her, she was wrong.

Belum lagi persoalan bicara di depan banyak orang. Di depan kelas. Presentasi sama sekali bukan bidangku. Bertemu dan langsung akrab dengan orang baru bukanlah diriku.

Saya membuat batasan di kepalaku soal apa yang saya bisa dan tidak bisa lakukan. Saya menanamkan ketakutanku sendiri.

Betapa bingungnya saya, karena sekarang saya mengingkari batasan-batasan yang saya buat dahulu. Kini setiap hari saya harus berhadapan dengan siswa dari berbagai background. Presentasi materi while speaking English.

Jadi apakah membuat batasan pada diri kita adalah perlu?

Sunshine